Harga emas spot menembus kembali level psikologis $4.000 per ons pada Jumat (10/10), mendekati rekor tertinggi $4.059 yang dicapai awal pekan ini. Kenaikan ini terjadi setelah ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memanas, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa ia “tidak melihat alasan” untuk bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam dua minggu di Korea Selatan. Trump juga menyiapkan kenaikan tarif impor terhadap produk Tiongkok, yang memicu arus kuat ke aset aman seperti emas.
🌍 Ketidakpastian Global Dorong Permintaan Safe Haven
Selain isu perdagangan, perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi sorotan. Pemerintah Israel telah meratifikasi gencatan senjata dengan Hamas, membuka peluang berakhirnya konflik di Gaza dalam 24 jam ke depan. Namun, para investor tetap berhati-hati karena ketegangan global lainnya masih membayangi.
Secara keseluruhan, harga emas telah melonjak sekitar 52% sepanjang tahun 2025, mencatat kenaikan mingguan kedelapan berturut-turut — reli terpanjang dalam lebih dari lima tahun terakhir.
💵 Prospek The Fed dan Kondisi Ekonomi Global
Dari sisi kebijakan moneter, pasar memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada setiap pertemuan tersisa tahun ini, seiring tanda-tanda perlambatan ekonomi global dan inflasi yang tetap tinggi.
Lingkungan suku bunga rendah, diversifikasi cadangan oleh bank sentral, serta arus keluar dari dolar AS terus menopang permintaan logam mulia.
Inti Poin:
- 🟡 Emas kembali menembus level $4.000 di tengah ketegangan dagang AS–Tiongkok.
- 🌍 Gencatan senjata Israel–Hamas menenangkan sebagian risiko, tapi sentimen global masih rapuh.
- 💰 Emas sudah naik 52% YTD, mencatat reli 8 minggu berturut-turut.
- 🏦 Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed terus menjadi pendorong utama reli logam mulia.
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
Sumber:
