Harga emas kembali menguat setelah mencatat penurunan mingguan terbesar dalam enam bulan terakhir. Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Amerika Serikat, menyusul langkah Moody’s Ratings yang menurunkan peringkat kredit utama pemerintah AS dari Aaa menjadi Aa1.
🔹 Ketidakpastian Dorong Minat pada Aset Safe Haven
Moody’s menyebut penurunan ini disebabkan oleh kegagalan berulang pemerintahan AS dalam memangkas defisit anggaran. “Kami mengakui kekuatan ekonomi dan keuangan AS, namun hal itu tidak lagi sepenuhnya mengimbangi penurunan metrik fiskal,” ujar Moody’s dalam pernyataannya.
Respon pasar terhadap keputusan ini cukup cepat:
- Harga emas batangan naik hingga 1,3% ke sekitar $3.245 per ons di awal perdagangan Asia.
- Pada pukul 07.43 waktu Singapura, emas diperdagangkan naik 1,2% di posisi $3.231,13 per ons.
- Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,2%, mendukung penguatan logam mulia.
📉 Lonjakan Emas Setelah Koreksi Tajam
Sebelumnya, harga emas sempat tergelincir karena meredanya ketegangan geopolitik. Pekan lalu, emas mencatat penurunan mingguan terbesarnya sejak November, setelah sempat reli ke atas $3.500 per ons, rekor tertinggi tahun ini.
Namun secara keseluruhan, harga emas telah naik lebih dari 20% sepanjang tahun 2025, ditopang oleh:
- Ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global
- Ketegangan perdagangan antarnegara
- Arus masuk besar ke dana investasi emas (ETF)
Selain emas, logam mulia lainnya seperti perak, paladium, dan platinum juga turut mencatat kenaikan.
Sumber: Bloomberg
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
