Harga Minyak Turun pasca Rally dalam Tekanan di Laut Merah dan SPR AS

PT Rifan Financindo Berjangka – Pada hari Rabu (27/12/2023), harga minyak mengalami penurunan sedikit setelah reli kuat seiring gangguan pasokan di Laut Merah dan potensi penurunan suku bunga AS pada tahun 2024 memberikan dukungan untuk minyak.

Pengaruh Gangguan di Laut Merah dan SPR AS

Pemerintah AS telah menyelesaikan kontrak untuk membeli 3 juta barel minyak guna mengisi kembali Cadangan Minyak Bumi Strategis (SPR) setelah cadangan tersebut mencapai posisi terendah dalam hampir 40 tahun di awal tahun ini. Gangguan pengiriman di Laut Merah, yang berasal dari serangan terhadap kapal-kapal oleh kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran, juga menjadi pendorong utama harga minyak dalam beberapa minggu terakhir.

Geopolitik dan Dampak Terhadap Harga Minyak

Meskipun terjadi sedikit mereda, konflik di Laut Merah dan perang Israel-Hamas tetap berkecamuk. AS meluncurkan gugus tugas angkatan laut untuk membawa perdamaian di wilayah tersebut, namun ketidakpastian tetap menghantui pasar.

Di luar gangguan geopolitik, harga minyak juga terpengaruh oleh potensi pemangkasan suku bunga AS pada tahun 2024. Data terbaru menunjukkan isyarat penurunan inflasi AS, membuat para pelaku pasar memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga. Suku bunga yang lebih rendah diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan permintaan minyak.

Pergerakan Harga Minyak

Minyak Brent untuk penyerahan Februari turun 0,3% menjadi $80,82 per barel, sementara minyak WTI turun 0,3% menjadi $75,42 per barel pada pukul 08.28 WIB. Meskipun mengalami penurunan hari ini, keduanya mengalami penguatan lebih dari 2% pada hari Selasa.

Fokus pada Data Cadangan AS

Fokus saat ini tertuju pada data cadangan AS yang akan dirilis pada Rabu dan Kamis. Data ini diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai pasokan di negara konsumen bahan bakar terbesar di dunia. Serangkaian peningkatan persediaan selama beberapa minggu terakhir telah mempengaruhi pasar minyak, terutama akibat meningkatnya stok bensin dan distilat menunjukkan penurunan permintaan bahan bakar di AS.

Outlook untuk Tahun 2024

Meskipun terjadi peningkatan baru-baru ini, minyak Brent dan WTI diperkirakan akan mengalami penurunan sekitar 7% pada tahun 2023. Kekhawatiran terhadap importir utama seperti China, bersama dengan kekhawatiran akan perlambatan permintaan minyak global, tetap menjadi faktor yang membebani harga minyak.

Pasokan minyak juga diperkirakan tidak seketat yang diperkirakan pada awal tahun 2024, menyusul pemangkasan produksi yang mengecewakan dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), sementara produksi AS tetap berada pada rekor tertinggi.

Disclaimer: Artikel ini bukan saran investasi. Keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada riset menyeluruh dan konsultasi dengan profesional keuangan.

Sumber: Investing.com

PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.