PT Rifan Financindo Berjangka – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa positif pada perdagangan sesi I Kamis (19/9/2024), di tengah antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan hasil pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS). IHSG tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,87% dan berada di level 7.897,42, mendekati level psikologis 7.900.
Jika tren penguatan IHSG berlanjut pada sesi II, bukan tidak mungkin IHSG berhasil menembus level 7.900. Pada sesi I, IHSG bahkan mencetak rekor tertinggi intraday, melampaui level 7.831,78 yang dicapai pada Senin lalu.
Sektor Properti dan Transaksi IHSG di Sesi I
Pada sesi I, sektor properti menjadi salah satu sektor yang menyokong penguatan IHSG dengan kenaikan mencapai 2,05%. Nilai transaksi IHSG di sesi ini mencapai Rp 7,6 triliun, melibatkan 15 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 741.897 kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 283 saham mengalami kenaikan, 259 saham turun, dan 250 saham stagnan.
Pergerakan sektor properti menjadi salah satu indikator positif di tengah ekspektasi penurunan suku bunga yang dapat mendorong permintaan di sektor tersebut.
5 Saham Utama yang Menopang IHSG
Saham-saham perbankan menjadi penopang utama penguatan IHSG pada sesi I. Berikut adalah lima saham terbesar yang mendorong IHSG:
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) – Menambah 21,7 indeks poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – Menambah 14,8 indeks poin
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) – Menambah 4,48 indeks poin
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) – Menambah 4,47 indeks poin
Keempat saham ini berasal dari bank-bank raksasa yang memanfaatkan momentum sentimen positif terhadap keputusan suku bunga BI dan The Fed.
BI Pangkas Suku Bunga Menjadi 6%
Sentimen positif di pasar dipicu oleh keputusan BI pada Rabu (18/9/2024) untuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 6%. Pemangkasan ini merupakan yang pertama sejak Februari 2021, setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga sebesar 275 bps dari Agustus 2022 hingga April 2024.
Pemangkasan suku bunga oleh BI mencerminkan upaya menjaga inflasi yang terkendali dan stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan likuiditas dan penurunan biaya pembiayaan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Kejutan dari The Fed: Pemangkasan Suku Bunga 50 Basis Poin
Kabar baik lainnya datang dari Amerika Serikat. Pada Kamis dini hari waktu Indonesia, The Fed secara mengejutkan menurunkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin, dari 5,25%-5,50% menjadi 4,75%-5,00%. Pemangkasan ini lebih besar dari ekspektasi pasar yang memproyeksikan penurunan hanya sebesar 25 basis poin.
The Fed mengambil keputusan ini setelah melihat inflasi AS yang terus menurun ke level 2,5% (year-on-year) pada Agustus 2024, turun signifikan dari 3,7% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, tingkat pengangguran AS yang meningkat menjadi 4,2% menjadi salah satu faktor utama yang mendorong keputusan tersebut.
Dampak Terhadap Strategi Investasi
Penurunan suku bunga oleh BI dan The Fed memberikan sinyal positif bagi pasar keuangan. Untuk investor, kebijakan ini bisa berarti peluang investasi yang lebih baik di sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti properti, perbankan, dan infrastruktur. Di sisi lain, penurunan suku bunga juga dapat mendukung pertumbuhan pasar obligasi dan memperkuat sentimen positif di pasar saham.
Dengan kondisi ekonomi global yang cenderung lebih stabil dan inflasi yang terkendali, investor perlu memantau perkembangan terbaru dalam keputusan kebijakan moneter untuk menyesuaikan strategi investasi mereka dan memaksimalkan potensi keuntungan dari pergerakan pasar.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
