Ekonomi RI Tumbuh 5,03%, Lebih Rendah dari Tahun Sebelumnya
PT Rifan Financindo Berjangka – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 5,03% pada tahun 2024, sedikit lebih rendah dibandingkan 5,05% pada 2023 dan jauh lebih rendah dari 5,31% di tahun 2022. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor terbesar, namun pertumbuhannya hanya mencapai 4,94%, menunjukkan adanya tantangan dalam daya beli masyarakat.
Bankir Tetap Optimistis Meski Ada Risiko Global
Meskipun pertumbuhan ekonomi mengalami sedikit perlambatan, Direktur Utama PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII), Steffano Ridwan, masih melihat peluang bisnis yang baik di 2025.
“Tentunya tetap positif melihat peluang pertumbuhan bisnis di 2025,” ujar Steffano. Namun, ia menyoroti sejumlah faktor global seperti kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump, pergolakan geopolitik, serta kebijakan moneter yang harus diperhitungkan dalam strategi bisnis tahun depan.
Prospek Kredit Perbankan Tetap Positif
Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR), Efdinal Alamsyah, menilai bahwa pertumbuhan ekonomi 5,03% masih cukup stabil. Namun, ia mengingatkan bahwa laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang hanya 4,94% mengindikasikan adanya tantangan daya beli dan kepercayaan konsumen.
Meski demikian, Efdinal tetap optimistis bahwa kredit perbankan akan tumbuh positif di 2025. Ia menyebutkan beberapa faktor yang dapat mendorong pertumbuhan tersebut, seperti ekspektasi penurunan suku bunga yang dapat mengurangi biaya dana dan memberikan ruang bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit.
“Kami optimistis bahwa kredit perbankan akan tumbuh positif pada tahun 2025, didukung oleh sentimen perekonomian domestik yang kuat,” kata Efdinal. Bank Oke sendiri memproyeksikan pertumbuhan kredit sekitar 10% di tahun 2025.
Dampak Perlambatan Ekonomi terhadap Perbankan Regional
Direktur PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (BJTM), Busrul Iman, menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dalam tren positif. Namun, perlambatan ini memberikan tantangan tersendiri bagi sektor perbankan, terutama terkait ekspansi kredit.
“Pertumbuhan PDB ini merupakan dampak dari kebijakan Bank Indonesia dalam mempertahankan suku bunga guna menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, yang dapat membatasi ekspansi kredit,” jelas Busrul.
Ia menambahkan bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dapat menyebabkan perlambatan permintaan kredit, terutama karena sektor konsumsi dan UMKM masih menghadapi tekanan daya beli serta pendanaan yang berbiaya tinggi.
Strategi Bank Jatim untuk Menghadapi Tantangan
Untuk menjaga kinerja bisnis, Bank Jatim berencana mengeksplorasi peluang bisnis baru, terutama di sektor manufaktur yang mulai menunjukkan pemulihan. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia yang mencapai 51,9 pada Januari 2025, angka tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Selain itu, Busrul menekankan pentingnya efisiensi operasional, optimalisasi digitalisasi, serta peningkatan dana murah (CASA) guna menjaga profitabilitas di tengah tantangan ekonomi.
Kesimpulan: Dampak ke Strategi Investasi
Meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, sektor perbankan masih memiliki prospek positif, terutama dengan potensi penurunan suku bunga yang dapat mendorong ekspansi kredit. Investor perlu mencermati perkembangan ini dalam menyusun strategi investasi, terutama pada sektor perbankan dan industri yang terkait dengan konsumsi serta manufaktur.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
