Dolar AS Menguat 4 Hari Beruntun, Inflasi Energi Bikin The Fed Tetap Hawkish

Indeks dolar AS (DXY) kembali menunjukkan kekuatan di pasar valuta asing dan mencatat penguatan selama empat sesi perdagangan berturut-turut. Pada Kamis, 24 September 2026, DXY bergerak di sekitar level 101,2, sekaligus mendekati posisi tertinggi sejak Juli. Penguatan tersebut terjadi ketika pasar semakin memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan sikap hawkish akibat tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.

Kombinasi antara data ekonomi Amerika Serikat yang relatif kuat, kenaikan harga energi, imbal hasil Treasury yang tinggi, serta pernyataan pejabat The Fed menjadi katalis utama bagi dolar AS. Pasar bahkan meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan Oktober.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan dolar AS tidak lagi hanya ditentukan oleh data inflasi secara langsung. Investor juga mulai memperhitungkan bagaimana harga minyak, pasar tenaga kerja, aktivitas ekonomi, dan ekspektasi kebijakan moneter dapat memengaruhi keputusan The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

Dolar AS Menguat Empat Hari Berturut-turut

Penguatan dolar AS pada akhir pekan perdagangan September memperlihatkan perubahan signifikan dalam persepsi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. DXY tercatat berada di sekitar 101,2 dan melanjutkan kenaikan untuk sesi keempat secara berturut-turut. Menurut laporan pasar, penguatan tersebut menjadi rangkaian kenaikan terpanjang sejak Mei dan membawa indeks dolar mendekati level tertinggi Juli.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor mulai kembali menempatkan dolar sebagai aset yang menarik ketika prospek suku bunga AS bergerak lebih tinggi. Sebelumnya, pasar sempat mengantisipasi kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter. Namun, kombinasi inflasi yang masih tinggi dan aktivitas ekonomi yang relatif solid membuat ekspektasi tersebut berubah. Kenaikan dolar pada akhirnya mencerminkan repricing terhadap prospek suku bunga. Semakin lama pasar memperkirakan suku bunga AS berada di level tinggi, semakin besar pula daya tarik aset berbasis dolar.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Kembali Menguat

Salah satu faktor terbesar yang menopang dolar AS adalah meningkatnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober sekitar 64%. Angka tersebut meningkat seiring munculnya kembali kekhawatiran bahwa inflasi AS belum berada pada jalur yang cukup kuat menuju target bank sentral.

The Fed sendiri baru menaikkan suku bunga pada September ke kisaran 3,75%-4,00%. Sejumlah pejabat bank sentral kemudian memberikan sinyal bahwa kenaikan tambahan masih mungkin diperlukan apabila tekanan harga tetap bertahan. Bagi pasar valuta asing, situasi ini sangat penting. Kenaikan suku bunga membuat instrumen keuangan berdenominasi dolar menawarkan imbal hasil yang lebih menarik. Aliran modal kemudian berpotensi bergerak menuju aset AS, sehingga permintaan terhadap dolar meningkat. Dengan kata lain, hawkish The Fed menjadi mesin utama penguatan greenback.

Harga Energi Menjadi Ancaman Baru bagi Inflasi AS

Faktor berikutnya datang dari pasar energi. Harga minyak kembali mengalami kenaikan ketika ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan penyelesaian yang jelas. Negosiasi diplomatik di tengah Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa belum menghasilkan perkembangan signifikan yang mampu menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi.

Kenaikan harga minyak menjadi persoalan penting bagi The Fed karena energi memiliki efek langsung maupun tidak langsung terhadap inflasi. Harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi, distribusi, dan berbagai komponen konsumsi. Apabila kenaikan tersebut berlangsung cukup lama, tekanan harga dapat menyebar ke sektor ekonomi lainnya. Situasi menjadi semakin sensitif setelah harga diesel Amerika Serikat mencapai rekor baru. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan energi belum selesai dan dapat menghambat proses penurunan inflasi.

Mengapa Minyak Penting bagi Dolar?

Hubungan antara minyak, inflasi, dan dolar dapat digambarkan sebagai berikut:

Selama harga energi masih menjadi sumber risiko inflasi, pasar akan kesulitan mengabaikan kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Data Ekonomi AS Ikut Menopang Dolar

Penguatan dolar juga mendapatkan dukungan dari sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan initial jobless claims turun 1.000 menjadi 197.000, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 201.000. Angka tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja masih cukup solid.

Kondisi pasar tenaga kerja yang relatif kuat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat. Apabila ekonomi masih mampu bertahan dengan suku bunga tinggi, urgensi untuk segera memangkas bunga menjadi lebih kecil. Sebaliknya, jika inflasi kembali meningkat, bank sentral memiliki alasan lebih kuat untuk menaikkan suku bunga. Data aktivitas bisnis juga memperkuat narasi tersebut. Perkembangan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan membuat investor semakin berhati-hati terhadap kemungkinan inflasi bertahan lebih lama.

Yield Treasury AS Menjadi Penggerak Penting Dolar

Selain kebijakan The Fed, pasar obligasi Amerika Serikat turut memainkan peranan penting. Yield Treasury melonjak tajam dalam beberapa sesi terakhir karena investor memperhitungkan prospek suku bunga yang lebih tinggi. Pada Kamis, yield Treasury 10 tahun sempat mencapai 5,1497%, level tertinggi sejak 2007, sementara yield tenor 30 tahun menyentuh titik tertinggi dalam lebih dari dua dekade.

Kenaikan yield menciptakan daya tarik tersendiri bagi aset AS. Investor global membandingkan tingkat imbal hasil obligasi AS dengan instrumen negara lain. Ketika yield Amerika Serikat meningkat relatif terhadap negara lain, permintaan terhadap dolar dapat ikut terdorong karena investor membutuhkan dolar untuk membeli aset tersebut.

Hubungan sederhananya adalah:

Yield AS naik → daya tarik aset dolar meningkat → permintaan dolar meningkat → DXY menguat.

Namun, kenaikan yield yang terlalu agresif juga memiliki sisi negatif. Jika pasar mulai khawatir bahwa suku bunga tinggi akan memperlambat pertumbuhan ekonomi secara berlebihan, volatilitas pasar dapat meningkat.

The Fed Tidak Bisa Mengabaikan Inflasi Energi

Tantangan terbesar bagi The Fed saat ini adalah membedakan apakah kenaikan inflasi yang berasal dari energi bersifat sementara atau berpotensi menyebar ke seluruh perekonomian. Jika kenaikan harga minyak hanya disebabkan oleh gangguan pasokan sementara, bank sentral mungkin dapat menganggap dampaknya sebagai shock sementara.

Namun, apabila harga energi tinggi mulai mendorong ekspektasi inflasi, upah, biaya produksi, dan harga jasa, persoalannya menjadi jauh lebih serius. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee sebelumnya menekankan bahwa respons kebijakan perlu lebih agresif apabila inflasi ternyata didorong oleh permintaan yang terlalu kuat, bukan sekadar gangguan pasokan sementara. Inflasi AS juga masih berada di atas target 2% The Fed.

Artinya, investor akan terus memperhatikan bukan hanya harga minyak, tetapi juga apakah tekanan tersebut mulai masuk ke komponen inflasi yang lebih persisten.

Dolar Menguat terhadap Franc Swiss

Penguatan dolar tidak hanya terjadi terhadap satu mata uang. Dolar AS juga menguat terhadap franc Swiss setelah Swiss National Bank (SNB) mempertahankan suku bunga acuannya di 0%. Perbedaan arah kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan Swiss membuat dolar relatif lebih menarik bagi sebagian investor.

Ketika satu bank sentral berpotensi memperketat kebijakan sementara bank sentral lain mempertahankan suku bunga rendah, selisih imbal hasil dapat menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasangan mata uang. Dalam konteks tersebut, penguatan dolar terhadap franc bukan sekadar fenomena teknikal, melainkan juga mencerminkan perbedaan ekspektasi kebijakan moneter.

Yen Jepang Kembali Tertekan

Yen Jepang juga berada di bawah tekanan dan bergerak menuju level terendah dalam sekitar tiga minggu. Investor masih mempertanyakan seberapa cepat Bank of Japan akan melanjutkan normalisasi kebijakan setelah kenaikan suku bunga sebelumnya. Ketidakpastian mengenai langkah BoJ membuat yen belum mampu sepenuhnya mengimbangi kekuatan dolar.

Perbedaan kebijakan antara The Fed dan BoJ menjadi salah satu faktor penting dalam pergerakan USD/JPY. Jika The Fed mempertahankan nada hawkish sementara BoJ bergerak lebih hati-hati, spread suku bunga antara kedua negara dapat tetap lebar. Kondisi tersebut cenderung memberikan dukungan bagi dolar terhadap yen.

Pasar Kini Menghadapi Tiga Risiko Utama

Kita dapat melihat penguatan dolar saat ini melalui tiga faktor utama:

FaktorDampak terhadap pasar
The Fed hawkishMeningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi
Harga energi naikMenambah risiko inflasi
Ketegangan geopolitikMendorong volatilitas dan permintaan aset defensif

Ketiganya saling berhubungan. Ketegangan geopolitik dapat meningkatkan harga minyak. Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan risiko inflasi. Inflasi yang lebih persisten membuat The Fed lebih sulit melonggarkan kebijakan. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi kemudian mendorong yield Treasury dan memperkuat dolar. Inilah alasan mengapa pasar valuta asing saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan di sektor energi.

Apakah Dolar AS Bisa Terus Menguat?

Secara fundamental, dolar masih memiliki sejumlah katalis positif. Selama pasar mempertahankan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed, yield Treasury berada di level tinggi, dan ekonomi AS relatif tangguh, tekanan beli terhadap dolar berpotensi tetap bertahan.

Namun, reli dolar juga menghadapi risiko koreksi. Salah satu risikonya adalah apabila ketegangan geopolitik mereda dan harga minyak turun tajam. Penurunan harga energi dapat mengurangi tekanan inflasi sehingga kebutuhan terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat ikut berkurang.

Perubahan ekspektasi tersebut dapat membalikkan sebagian penguatan dolar. Perkembangan diplomasi AS-Iran menjadi salah satu variabel yang perlu diperhatikan. Sebelumnya, harapan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz sempat mendorong harga minyak turun dan mengurangi tekanan inflasi.

Dengan demikian, arah dolar tidak hanya ditentukan oleh data ekonomi AS, tetapi juga perkembangan geopolitik yang dapat mengubah harga energi dalam waktu singkat.

Data Ekonomi Berikutnya Jadi Penentu Arah Dolar

Investor kini memasuki fase yang sangat sensitif terhadap data ekonomi. Agenda ekonomi AS pada pekan ini mencakup sejumlah indikator seperti klaim pengangguran, penjualan rumah baru, pesanan barang tahan lama, serta revisi sentimen konsumen Michigan.

Data tersebut akan membantu pasar menilai apakah perekonomian AS masih cukup kuat untuk menghadapi suku bunga tinggi. Data inflasi juga tetap menjadi perhatian utama. Jika indikator harga menunjukkan tekanan yang lebih kuat dari perkiraan, taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed dapat meningkat lagi. Sebaliknya, apabila pertumbuhan ekonomi mulai melemah dan tekanan harga mereda, pasar dapat kembali mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga.

Skenario Pergerakan Dolar AS

Kita dapat membagi prospek dolar ke dalam tiga skenario utama:

Skenario Bullish

Dolar berpeluang melanjutkan penguatan apabila inflasi kembali meningkat, harga energi bertahan tinggi, dan pejabat The Fed terus memberikan sinyal hawkish. Kenaikan probabilitas Fed hike pada Oktober juga dapat memperkuat momentum tersebut.

Skenario Netral

Dolar dapat memasuki fase konsolidasi apabila harga minyak stabil, inflasi tidak meningkat signifikan, sementara The Fed memilih menunggu data sebelum menentukan kebijakan berikutnya. Dalam kondisi tersebut, investor kemungkinan lebih fokus pada data ekonomi dan pernyataan pejabat bank sentral.

Skenario Bearish

Dolar berpotensi terkoreksi apabila diplomasi Timur Tengah menghasilkan penurunan tajam harga energi, inflasi mulai mereda, dan pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga berikutnya. Penurunan yield Treasury juga dapat mengurangi daya tarik relatif aset berbasis dolar.

Dampak Penguatan Dolar terhadap Emas dan Aset Global

Penguatan dolar dan kenaikan ekspektasi suku bunga tidak hanya berdampak pada pasar valuta asing. Emas menjadi salah satu aset yang paling sensitif terhadap perubahan yield dan dolar. Ketika dolar menguat dan imbal hasil aset berbunga meningkat, biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga menjadi lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat menekan harga emas.

Pasar saham juga dapat menghadapi tekanan apabila yield Treasury meningkat terlalu cepat. Biaya modal yang lebih tinggi dapat menekan valuasi saham, khususnya perusahaan dengan valuasi tinggi dan ekspektasi arus kas jangka panjang. Dengan demikian, reli dolar saat ini perlu dilihat sebagai bagian dari perubahan besar dalam ekspektasi kebijakan moneter global.

Kesimpulan: Dolar Masih Mendapat Dukungan dari The Fed dan Inflasi Energi

Penguatan dolar AS selama empat hari berturut-turut menunjukkan bahwa pasar kembali menjadikan kebijakan moneter The Fed sebagai faktor dominan. DXY yang berada di sekitar 101,2 didukung oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, data ekonomi AS yang relatif kuat, serta kenaikan harga energi yang berpotensi mempertahankan tekanan inflasi.

Kenaikan peluang Fed hike 25 basis poin pada Oktober ke sekitar 64% menjadi salah satu sinyal paling penting bagi pasar. Pada saat yang sama, yield Treasury yang tinggi semakin memperkuat daya tarik aset berdenominasi dolar. Namun, reli tersebut belum sepenuhnya bebas risiko. Perubahan harga minyak, perkembangan konflik AS-Iran, data inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan komunikasi pejabat The Fed masih dapat mengubah ekspektasi pasar dengan cepat.

Untuk sementara, kombinasi inflasi energi, yield Treasury tinggi, dan sikap hawkish The Fed masih menjadi fondasi utama penguatan dolar AS. Selama ketiga faktor tersebut bertahan, greenback berpotensi tetap menjadi salah satu mata uang utama yang paling diperhatikan investor global.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.