Harga Emas Hari Ini Tertekan: The Fed, Dolar AS, dan Minyak Jadi Beban XAU/USD

Harga emas dunia kembali berada di bawah tekanan pada Kamis, 24 September 2026. XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$4.290 per troy ounce setelah pada sesi sebelumnya mengalami penurunan sekitar 1,7%. Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa pasar kembali mengurangi minat terhadap emas ketika ekspektasi terhadap kebijakan moneter ketat Federal Reserve menguat.

Tekanan terhadap emas tidak datang dari satu faktor saja. Penguatan ekonomi Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil US Treasury, penguatan dolar AS, serta meningkatnya harga minyak menciptakan kombinasi yang kurang menguntungkan bagi logam mulia. Data S&P Global Flash US Composite PMI September menjadi salah satu pemicu utama. Indeks tersebut naik ke 58,4, level tertinggi sejak Juli 2021, menandakan aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih sangat kuat. Kondisi ini membuat pasar kembali mempertimbangkan kemungkinan bahwa tekanan inflasi belum benar-benar mereda.

Harga Emas Tertekan di Sekitar US$4.290

Pergerakan XAU/USD menunjukkan perubahan sentimen yang cukup signifikan dibandingkan fase ketika emas mendapatkan dukungan kuat dari ketidakpastian geopolitik. Pada Kamis pagi, emas berada di sekitar US$4.290 per troy ounce, setelah kehilangan sekitar 1,7% pada perdagangan sebelumnya. Penurunan tersebut membuat perhatian investor beralih kepada level-level teknikal berikutnya sekaligus memperbesar sensitivitas emas terhadap data ekonomi Amerika Serikat.

Kondisi ini penting karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika yield obligasi Amerika Serikat meningkat dan pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi, biaya peluang memegang emas menjadi lebih besar. Dengan demikian, investor tidak hanya memperhatikan pergerakan harga emas secara langsung, tetapi juga memantau tiga indikator utama:

  • arah dolar AS,
  • pergerakan yield US Treasury, dan
  • ekspektasi kebijakan The Fed.

Ketiganya saat ini bergerak dengan arah yang cenderung memberikan tekanan terhadap XAU/USD.

PMI Amerika Serikat Memperkuat Ekspektasi Kebijakan The Fed

Salah satu alasan utama harga emas melemah adalah munculnya kembali keyakinan bahwa perekonomian Amerika Serikat masih terlalu kuat untuk memungkinkan pelonggaran moneter secara agresif. S&P Global Flash US Composite PMI September mencapai 58,4, naik ke level tertinggi sejak Juli 2021. Angka tersebut mencerminkan ekspansi aktivitas bisnis yang kuat baik pada sektor manufaktur maupun jasa.

Bagi pasar keuangan, data ekonomi yang terlalu kuat dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi yang solid mengurangi kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi AS. Namun di sisi lain, permintaan yang kuat berpotensi mempertahankan tekanan harga.

Inilah yang menjadi persoalan bagi emas. Jika inflasi tetap tinggi, The Fed memiliki alasan lebih besar untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Apabila pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan, yield obligasi berpotensi meningkat dan dolar AS dapat memperoleh dukungan lebih lanjut.

Hubungan PMI, The Fed, dan Harga Emas

Secara sederhana, hubungan antarvariabel tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Selama rangkaian tersebut masih berlangsung, emas akan menghadapi tantangan untuk kembali membangun momentum bullish yang kuat.

Yield Treasury 5 Tahun Tembus 5%, Emas Semakin Tertekan

Pasar obligasi Amerika Serikat menjadi sumber tekanan berikutnya bagi emas. Yield Treasury meningkat tajam seiring kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama. Bahkan, yield obligasi pemerintah AS tenor lima tahun kembali menembus 5%, level yang disebut menjadi yang tertinggi sejak 2007.

Kenaikan yield memiliki konsekuensi langsung terhadap daya tarik emas. Ketika investor dapat memperoleh imbal hasil yang semakin tinggi dari instrumen berbasis dolar AS, emas harus bersaing dengan aset yang menghasilkan bunga. Kondisi tersebut biasanya membuat investor lebih selektif dalam mempertahankan posisi pada logam mulia.

Situasi akan semakin berat bagi emas apabila kenaikan yield disertai dengan penguatan dolar AS. Kombinasi yield tinggi + dolar kuat merupakan salah satu lingkungan makro yang paling tidak bersahabat bagi harga emas.

Dolar AS Kembali Menjadi Beban XAU/USD

Penguatan dolar AS juga menjadi faktor penting dalam pelemahan emas. Indeks dolar AS telah menembus level 101 dan mencatat penguatan selama tiga hari berturut-turut. Penguatan tersebut didukung data ekonomi Amerika Serikat yang relatif solid serta komentar hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve.

Karena emas diperdagangkan dalam denominasi dolar AS, penguatan greenback membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Dampaknya, permintaan dapat mengalami tekanan ketika dolar bergerak naik terlalu cepat.

Kita dapat melihat hubungan ini sebagai salah satu faktor fundamental paling penting untuk XAU/USD dalam beberapa sesi mendatang. Jika dolar mampu mempertahankan penguatan di atas level psikologis 100 dan bergerak lebih tinggi, ruang bagi emas untuk melakukan pemulihan akan menjadi lebih terbatas.

Harga Minyak Naik dan Menambah Risiko Inflasi

Ironisnya, minyak yang biasanya menjadi salah satu indikator risiko inflasi kini ikut menjadi sumber tekanan terhadap emas. Harga minyak kembali meningkat setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Iran tidak akan memberikan kebebasan navigasi penuh di Selat Hormuz selama sanksi dan blokade Amerika Serikat masih berlangsung. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi dunia. Setiap gangguan terhadap arus minyak dan gas melalui kawasan tersebut berpotensi meningkatkan premi risiko energi. Kenaikan harga minyak kemudian dapat memperbesar tekanan inflasi. Bagi pasar emas, kondisi tersebut menciptakan paradoks. Biasanya, ancaman inflasi dan geopolitik dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Namun, jika inflasi yang berasal dari energi justru membuat pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan atau memperketat kebijakan moneter, efek negatif dari kenaikan yield dan dolar dapat mengalahkan daya tarik safe haven emas.

Geopolitik Belum Cukup Menopang Harga Emas

Ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang berpotensi memberikan dukungan terhadap emas. Ketidakpastian mengenai hubungan Amerika Serikat dan Iran, risiko gangguan Selat Hormuz, serta potensi gangguan pasokan energi seharusnya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.

Namun, untuk saat ini, faktor tersebut belum mampu sepenuhnya mengimbangi tekanan dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar tampaknya lebih fokus pada konsekuensi ekonomi dari kenaikan harga energi: apakah harga minyak akan mendorong inflasi lebih tinggi dan pada akhirnya membuat The Fed semakin sulit melonggarkan kebijakan.

Artinya, geopolitik tidak otomatis bullish untuk emas. Jika risiko geopolitik meningkatkan harga minyak secara signifikan, tetapi pada saat yang sama membuat yield dan dolar AS naik, emas justru dapat mengalami tekanan.

Mengapa Harga Emas Bisa Turun Saat Risiko Geopolitik Meningkat?

Hubungannya dapat dijelaskan melalui mekanisme berikut:

Karena itu, pasar emas saat ini menghadapi dua narasi yang saling bertentangan.

Narasi pertama: geopolitik meningkatkan kebutuhan terhadap safe haven.

Narasi kedua: kenaikan minyak memperbesar risiko inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat.

Untuk sementara, narasi kedua terlihat lebih dominan.

Prospek XAU/USD: Support Menjadi Perhatian

Dengan harga emas berada di sekitar US$4.290, perhatian berikutnya akan tertuju pada kemampuan XAU/USD mempertahankan area support setelah penurunan tajam. Analisis teknikal TPFx menunjukkan emas telah berada di bawah tekanan setelah gagal bertahan di area US$4.342 dan bergerak di bawah SMA 50. RSI berada di sekitar 38,48, yang menunjukkan momentum bearish masih cukup dominan.

Area teknikal yang perlu diperhatikan adalah:

LevelAreaKeterangan
Resistance 1US$4.342Hambatan pemulihan awal
Resistance 2US$4.371Resistance berikutnya
Resistance 3US$4.400Area psikologis dan teknikal
Support 1US$4.251Support terdekat
Support 2US$4.223Support lanjutan
Support 3US$4.184Area yang perlu diperhatikan jika tekanan meningkat

Jika harga mampu kembali menembus US$4.342, tekanan jual dapat mulai berkurang. Penembusan lebih kuat menuju US$4.371 hingga US$4.400 akan memberikan sinyal pemulihan yang lebih meyakinkan. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan US$4.251 dapat membuka ruang menuju US$4.223 dan kemudian US$4.184.

Skenario Bullish Harga Emas

Skenario bullish akan kembali terbuka apabila sejumlah faktor mulai bergerak mendukung emas. Pertama, dolar AS perlu kehilangan momentum penguatan. Kedua, yield Treasury perlu mulai turun. Ketiga, pasar harus mengurangi ekspektasi terhadap pengetatan lanjutan The Fed.

Dalam kondisi tersebut, emas dapat memperoleh ruang untuk melakukan technical rebound. Secara teknikal, area US$4.342 menjadi penghalang awal. Jika level tersebut berhasil ditembus dengan konsisten, perhatian berikutnya dapat beralih ke US$4.371 dan US$4.400. Penembusan US$4.400 akan menjadi perkembangan penting karena dapat menunjukkan bahwa tekanan jual sebelumnya mulai kehilangan kekuatan.

Skenario Bearish Harga Emas

Sebaliknya, risiko bearish tetap dominan apabila data ekonomi AS terus menunjukkan ketahanan. Kondisi akan semakin negatif bagi emas apabila:

  1. dolar AS kembali menguat,
  2. yield Treasury terus meningkat,
  3. harga minyak bertahan tinggi,
  4. ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin kuat, dan
  5. emas gagal mempertahankan support US$4.251.

Dalam skenario tersebut, XAU/USD berpotensi menguji US$4.223 dan US$4.184. Penurunan menuju area tersebut tidak berarti tren jangka panjang emas otomatis berubah menjadi bearish. Namun, secara jangka pendek, struktur pasar akan semakin menunjukkan dominasi penjual.

Data Ekonomi AS yang Perlu Dipantau Investor

Selain PMI, investor masih perlu memperhatikan serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang dapat mengubah ekspektasi terhadap The Fed. Pada Kamis, pasar antara lain memperhatikan Initial Jobless Claims, New Home Sales, Building Permits, serta Current Account kuartal II. Sejumlah pejabat The Fed juga dijadwalkan menyampaikan pandangan mereka.

Data tenaga kerja akan menjadi penting karena pasar membutuhkan gambaran mengenai ketahanan ekonomi AS. Jika data ekonomi secara umum tetap kuat, peluang yield bertahan tinggi akan semakin besar. Sebaliknya, apabila data mulai menunjukkan perlambatan yang lebih nyata, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan pelonggaran kebijakan. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi emas untuk melakukan rebound.

Harga Minyak dan Emas Kini Saling Berkaitan Melalui The Fed

Hubungan emas dan minyak dalam kondisi pasar saat ini menjadi lebih kompleks. Secara tradisional, kenaikan minyak dapat meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuat emas menarik sebagai lindung nilai. Namun, ketika bank sentral merespons inflasi dengan kebijakan moneter yang lebih ketat, kenaikan minyak justru dapat menjadi faktor bearish bagi emas. Mekanismenya:

Minyak naik → risiko inflasi naik → ekspektasi suku bunga naik → yield naik → dolar menguat → emas tertekan.

Inilah alasan mengapa perkembangan minyak menjadi salah satu variabel penting untuk membaca arah XAU/USD. Selama harga minyak tetap tinggi dan pasar percaya bahwa The Fed harus mempertahankan kebijakan ketat, kenaikan harga emas akan menghadapi hambatan.

Apa yang Menentukan Arah Harga Emas Berikutnya?

Untuk beberapa sesi perdagangan ke depan, arah emas kemungkinan besar akan ditentukan oleh persaingan antara safe haven demand dan tekanan dari kebijakan moneter AS. Jika ketegangan geopolitik semakin memburuk tanpa memberikan dampak besar terhadap ekspektasi suku bunga, emas berpeluang mendapatkan kembali aliran safe haven.

Namun, jika kenaikan harga minyak justru membuat inflasi dipandang semakin persisten, maka pasar dapat meningkatkan ekspektasi kebijakan hawkish The Fed. Dalam kondisi tersebut, dolar dan yield dapat kembali menjadi penghambat utama emas. Dengan harga sekitar US$4.290, pasar kini berada pada fase yang sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi tersebut.

Kesimpulan: Emas Menghadapi Tekanan dari Tiga Arah

Harga emas dunia kembali menghadapi tekanan setelah turun sekitar 1,7% dan bergerak di sekitar US$4.290 per troy ounce. Data ekonomi AS yang kuat, kenaikan yield Treasury, serta penguatan dolar menjadi faktor utama yang membebani XAU/USD. Pada saat yang sama, kenaikan harga minyak akibat ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran meningkatkan risiko inflasi. Kondisi tersebut berpotensi membuat The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama.

Dengan demikian, emas saat ini menghadapi tekanan dari tiga arah utama:

The Fed hawkish → yield tinggi → dolar kuat.

Selama ketiga faktor tersebut belum berbalik, ruang kenaikan emas cenderung terbatas. Namun, risiko geopolitik tetap menjadi variabel yang dapat mengubah keseimbangan pasar dengan cepat. Jika konflik dan gangguan energi semakin serius, permintaan safe haven dapat kembali menguat.

Untuk jangka pendek, US$4.251 menjadi support penting, sedangkan US$4.342–US$4.400 menjadi zona yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi pemulihan. Di bawah US$4.251, risiko pelemahan menuju US$4.223 dan US$4.184 menjadi semakin terbuka. Pasar emas kini bukan sekadar menunggu arah harga minyak atau perkembangan geopolitik. Fokus utamanya adalah bagaimana kedua faktor tersebut memengaruhi inflasi, yield Treasury, dolar AS, dan keputusan The Fed.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.