Harga Minyak Turun Empat Hari, Diplomasi Timur Tengah Tekan WTI dan Brent

Harga minyak dunia kembali melemah pada Kamis, 27 Agustus 2026, memperpanjang penurunan selama empat sesi berturut-turut. Pasar minyak global masih dibayangi meningkatnya harapan terhadap diplomasi di Timur Tengah, khususnya pembicaraan Iran dan Oman mengenai pemulihan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Penurunan harga minyak terjadi ketika investor mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga crude oil. Perkembangan diplomasi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah dapat berkurang apabila lalu lintas kapal melalui Hormuz kembali normal.

Pada penutupan perdagangan Rabu, Brent crude turun 0,84% menjadi US$87,84 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun 0,16% menjadi US$82,23 per barel. Kedua benchmark tersebut sempat menyentuh level terendah sejak 10 Agustus sebelum memangkas sebagian kerugian. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak hanya memperhatikan kondisi pasokan minyak saat ini, tetapi juga mulai melakukan pricing terhadap kemungkinan membaiknya kondisi geopolitik dalam beberapa hari atau pekan mendatang.

Harga Minyak Hari Ini: Brent dan WTI Masih Tertekan

Berikut gambaran pergerakan benchmark minyak yang menjadi perhatian pasar:

BenchmarkPenutupan 26 Agustus 2026Perubahan
Brent crudeUS$87,84/barel-0,84%
WTI crudeUS$82,23/barel-0,16%

Data tersebut memperlihatkan bahwa penurunan pada sesi terakhir relatif lebih kecil dibanding tekanan jual pada sesi-sesi sebelumnya. Namun, secara keseluruhan, minyak masih berada dalam tren koreksi setelah sebelumnya memperoleh dorongan kuat dari meningkatnya ketegangan geopolitik. Reuters melaporkan kedua benchmark sempat turun lebih dalam sepanjang sesi perdagangan karena pelaku pasar mengantisipasi peningkatan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Harga kemudian memangkas penurunan setelah data persediaan minyak Amerika Serikat menunjukkan kenaikan yang lebih kecil daripada perkiraan.

Dengan demikian, tekanan terhadap harga minyak saat ini tidak berasal dari satu faktor tunggal. Diplomasi Timur Tengah, prospek pasokan melalui Hormuz, kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran, dan data persediaan minyak AS secara bersamaan membentuk arah pasar.

Mengapa Harga Minyak Turun Empat Hari Berturut-turut?

Penurunan empat sesi berturut-turut terutama berkaitan dengan berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Sebelumnya, konflik dan ketegangan di kawasan membuat pasar memberikan premi risiko yang cukup besar terhadap harga minyak. Investor memperhitungkan kemungkinan terganggunya ekspor minyak, meningkatnya biaya pengiriman, serta tertahannya kapal tanker yang melewati jalur strategis.

Kini, persepsi tersebut mulai berubah. Laporan mengenai pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pemulihan pelayaran melalui Selat Hormuz membuat sebagian pelaku pasar memperkirakan pasokan dapat kembali lebih lancar. Pada saat yang sama, perkembangan diplomatik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Oman, Pakistan, dan negara-negara kawasan memperkuat harapan terhadap de-eskalasi. Reuters mencatat harga minyak turun karena investor memantau pembicaraan Iran-Oman mengenai Selat Hormuz sekaligus data kenaikan persediaan minyak mentah AS yang lebih kecil dari perkiraan.

Premi Risiko Geopolitik Mulai Menyusut

Dalam kondisi normal, harga minyak terutama dipengaruhi keseimbangan permintaan dan pasokan. Namun, ketika konflik mengancam pusat produksi atau jalur perdagangan utama, pasar akan menambahkan geopolitical risk premium. Premi tersebut dapat meningkat meskipun pasokan fisik belum benar-benar hilang.

Ketika muncul sinyal bahwa konflik berpotensi mereda, premi risiko tersebut dapat berbalik turun dengan cepat. Inilah salah satu alasan mengapa harga minyak dapat terkoreksi dalam waktu singkat meskipun kondisi pasokan global belum sepenuhnya berubah. Kondisi tersebut terlihat dalam perdagangan pekan ini. Pada 25 Agustus, Brent turun sekitar 3,9% menjadi US$88,58 per barel dan WTI turun sekitar 3,1% menjadi US$82,36 per barel setelah pasar menilai sanksi AS terhadap Iran tidak terlalu mengancam pasokan dibandingkan eskalasi militer.

Selat Hormuz Menjadi Pusat Perhatian Pasar Minyak

Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi dunia. Karena itu, setiap perkembangan yang berkaitan dengan pembukaan atau pembatasan jalur tersebut dapat langsung memengaruhi harga minyak. Pasar saat ini merespons kabar bahwa Iran dan Oman membahas mekanisme untuk meningkatkan keamanan serta lalu lintas pelayaran melalui selat tersebut. Harapannya, kapal tanker dapat kembali beroperasi dengan risiko yang lebih rendah.

Namun, kita perlu membedakan antara harapan pembukaan Hormuz dan normalisasi penuh lalu lintas kapal. Keduanya bukan hal yang sama. Laporan terbaru menunjukkan bahwa lalu lintas kapal masih belum sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum konflik. Karena itu, meskipun harga minyak sudah turun, risiko pasokan belum dapat dianggap selesai.

Mengapa Hormuz Sangat Penting?

Secara strategis, Hormuz merupakan jalur yang sangat penting bagi perdagangan minyak dunia. Reuters memperkirakan sekitar 20% pasokan minyak dunia terkait dengan jalur tersebut. Artinya, gangguan berkepanjangan di Hormuz dapat memberikan dampak jauh lebih besar daripada gangguan pada jalur pelayaran biasa.

Diplomasi Iran dan Oman Jadi Pemicu Utama

Perkembangan hubungan Iran dan Oman menjadi salah satu katalis terpenting dalam perdagangan minyak terbaru. Pembicaraan tersebut berfokus pada kemungkinan pemulihan navigasi komersial melalui Selat Hormuz. Pasar menilai bahwa keberhasilan diplomasi dapat mengurangi risiko gangguan terhadap pengiriman minyak dari kawasan Teluk.

Pada saat yang sama, laporan mengenai kemajuan diplomasi yang melibatkan Pakistan dan perkembangan komunikasi Amerika Serikat-Iran ikut memperkuat sentimen bearish. Namun, kita melihat bahwa pasar masih berhati-hati. Sebab, selama belum ada kepastian mengenai gencatan senjata dan pembukaan penuh Hormuz, risiko pembalikan harga minyak masih sangat tinggi.

The National melaporkan harga Brent dan WTI sempat turun sekitar 3% pada 26 Agustus karena pembicaraan Iran-Oman dianggap konstruktif, tetapi Iran masih mengaitkan pembukaan penuh selat dengan penyelesaian sejumlah persoalan politik dan keamanan.

Sanksi Amerika Serikat terhadap Iran Belum Mampu Mengangkat Harga Minyak

Secara teori, sanksi baru terhadap Iran dapat memberikan tekanan bullish kepada minyak apabila pasar memperkirakan ekspor Iran akan terganggu secara signifikan. Namun, reaksi pasar kali ini berbeda. Pelaku pasar menilai pendekatan ekonomi Amerika Serikat masih lebih ringan dibandingkan skenario eskalasi militer langsung. Washington memang meningkatkan tekanan terhadap Iran, tetapi pasar belum melihat dampak langsung yang cukup besar terhadap pasokan minyak global. Reuters melaporkan bahwa sanksi terbaru AS tidak langsung diterapkan dalam bentuk yang diperkirakan pasar sebagai gangguan besar terhadap ekspor minyak Iran. Situasi tersebut justru membantu memperkuat harapan bahwa jalur diplomasi masih terbuka. Inilah yang membuat minyak tetap berada di bawah tekanan meskipun ketegangan geopolitik belum sepenuhnya berakhir.

Persediaan Minyak AS Menjadi Faktor Bearish Tambahan

Selain faktor geopolitik, pasar juga mendapatkan sinyal dari data persediaan minyak Amerika Serikat. Data Energy Information Administration (EIA) untuk pekan yang berakhir 21 Agustus menunjukkan persediaan minyak mentah komersial AS meningkat sekitar 95.000 barel menjadi 428,9 juta barel. Kenaikan tersebut lebih kecil dibandingkan ekspektasi pasar.

Kenaikan persediaan memang secara umum dapat dibaca sebagai faktor bearish karena menunjukkan adanya tambahan pasokan di sistem minyak AS. Namun, kali ini kenaikannya relatif kecil. Karena itu, data tersebut tidak memberikan tekanan bearish sebesar yang mungkin muncul apabila persediaan meningkat jauh di atas perkiraan.

Persediaan Bensin dan Distilat Justru Turun

Data EIA juga memperlihatkan dinamika yang berbeda pada produk olahan. Persediaan bensin AS turun sekitar 2,5 juta barel menjadi 206,8 juta barel, sementara stok distilat turun sekitar 2,2 juta barel menjadi 103,4 juta barel. Tingkat utilisasi kilang juga berada di sekitar 97,4%.

Kondisi ini memberikan gambaran bahwa permintaan terhadap produk bahan bakar masih cukup solid. Dengan demikian, tekanan harga minyak bukan semata-mata disebabkan lemahnya konsumsi energi. Faktor geopolitik dan perubahan ekspektasi terhadap pasokan menjadi penggerak yang lebih dominan dalam perdagangan terbaru.

Mengapa Harga Minyak Tidak Langsung Anjlok Setelah Data Persediaan AS?

Respons pasar terhadap data persediaan menunjukkan bahwa trader memperhatikan kualitas perubahan stok, bukan hanya arah perubahannya. Kenaikan 95.000 barel memang berarti persediaan bertambah, tetapi angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan estimasi kenaikan yang sebelumnya diperkirakan.

Akibatnya, harga minyak sempat memangkas sebagian penurunannya setelah data EIA dirilis. Reuters mencatat Brent dan WTI sebelumnya sempat mencapai titik terendah sesi sebelum kembali mengurangi kerugian. Situasi tersebut penting karena menunjukkan bahwa pasar minyak sedang berada dalam fase re-pricing. Investor bukan sekadar menjual minyak karena pasokan meningkat. Mereka sedang menyesuaikan posisi berdasarkan perubahan probabilitas mengenai konflik, Hormuz, sanksi, dan diplomasi.

Brent dan WTI Menghadapi Level Psikologis Penting

Dari sisi harga, area US$80 per barel menjadi perhatian penting untuk WTI. WTI sempat turun di bawah US$80 dalam perdagangan intraday pada 26 Agustus sebelum kembali menguat dan ditutup di US$82,23. Sementara itu, Brent juga sempat turun jauh di bawah level penutupannya sebelum mengakhiri sesi pada US$87,84. Pergerakan tersebut memperlihatkan adanya respons pembeli ketika harga mendekati level yang lebih rendah.

WTI US$80 Menjadi Area Psikologis

Jika WTI mampu mempertahankan area US$80, pasar dapat melihat penurunan beberapa sesi terakhir sebagai koreksi setelah reli sebelumnya. Sebaliknya, apabila WTI mampu menembus dan bertahan di bawah US$80, tekanan jual dapat meningkat karena pasar akan mulai memperhitungkan skenario normalisasi pasokan yang lebih cepat. Dalam kondisi tersebut, level US$80 bukan sekadar angka teknikal. Area tersebut menjadi representasi dari pertarungan antara dua narasi pasar:

  • Narasi bullish: konflik belum selesai dan risiko Hormuz masih tinggi.
  • Narasi bearish: diplomasi berhasil, lalu lintas Hormuz pulih, dan premi risiko menghilang.

Apa yang Terjadi Jika Selat Hormuz Dibuka Penuh?

Pembukaan penuh Selat Hormuz berpotensi menjadi katalis bearish yang kuat bagi harga minyak. Jika kapal tanker kembali melintas secara lebih normal, pasar dapat menghapus sebagian besar premi risiko yang selama ini melekat pada crude oil. Dampaknya dapat berlangsung melalui beberapa tahap:

  1. Risiko gangguan pasokan menurun.
  2. Biaya dan risiko pengiriman berkurang.
  3. Ekspektasi pasokan global membaik.
  4. Trader mengurangi posisi long minyak.
  5. Premi risiko geopolitik turun.
  6. Brent dan WTI berpotensi melanjutkan koreksi.

Pasar bahkan dapat bergerak lebih cepat daripada perubahan kondisi fisik pasokan karena harga minyak merupakan forward-looking market. Artinya, trader dapat menjual kontrak minyak berdasarkan ekspektasi pasokan beberapa minggu atau bulan ke depan, bukan hanya berdasarkan jumlah barel yang tersedia hari ini.

Apa yang Terjadi Jika Diplomasi Iran-AS Gagal?

Risiko sebaliknya juga perlu diperhitungkan. Apabila pembicaraan diplomatik gagal, lalu Iran atau pihak lain kembali mengambil tindakan yang meningkatkan risiko terhadap pelayaran di kawasan, pasar dapat dengan cepat mengembalikan premi risiko. Dalam skenario tersebut:

Diplomasi gagal → risiko Hormuz meningkat → ekspektasi gangguan pasokan naik → posisi short ditutup → harga minyak rebound.

Pasar minyak sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi tersebut. Bahkan tanpa terjadi gangguan pasokan fisik dalam jumlah besar, ancaman terhadap jalur perdagangan dapat cukup untuk mengangkat harga. Reuters juga memperingatkan bahwa risiko pasokan belum sepenuhnya hilang dan harga minyak dapat kembali meningkat apabila terjadi eskalasi militer.

Skenario Harga Minyak Berikutnya

Kita dapat membagi prospek harga minyak menjadi tiga skenario utama.

SkenarioPerkembanganDampak terhadap Minyak
Bearish kuatHormuz dibuka dan diplomasi menghasilkan kesepakatanHarga berpotensi turun lebih dalam
NetralDiplomasi berlanjut tetapi belum ada kesepakatan finalHarga cenderung volatil
BullishNegosiasi gagal dan risiko gangguan Hormuz meningkatHarga berpotensi rebound tajam

Skenario 1: Diplomasi Berhasil

Ini merupakan skenario paling bearish bagi harga minyak. Jika Iran dan negara-negara mediator berhasil mencapai kesepakatan yang memastikan navigasi komersial kembali normal, pasar dapat segera mengurangi premi risiko. Dalam situasi tersebut, Brent berpotensi menghadapi tekanan lebih besar karena ekspektasi pasokan global membaik.

Skenario 2: Diplomasi Berjalan tetapi Lambat

Ini merupakan skenario yang paling mungkin menghasilkan volatilitas. Harga minyak dapat terus bergerak turun secara bertahap, tetapi setiap berita mengenai kegagalan negosiasi dapat memicu rebound. Investor akan lebih sensitif terhadap headline geopolitik daripada biasanya.

Skenario 3: Eskalasi Kembali

Ini merupakan skenario bullish untuk minyak. Jika jalur diplomasi terputus dan risiko serangan atau pembatasan pelayaran meningkat, pasar dapat dengan cepat memasukkan kembali premi risiko. Kenaikan harga juga dapat berlangsung lebih cepat karena trader yang sebelumnya melakukan short covering berpotensi membeli kembali kontrak minyak secara agresif.

Koreksi Minyak Belum Berarti Risiko Pasokan Selesai

Salah satu kesalahan dalam membaca penurunan harga minyak saat ini adalah menganggap bahwa harga yang lebih rendah otomatis berarti masalah pasokan telah berakhir. Kondisinya belum demikian. Harga minyak sedang mencerminkan perubahan probabilitas, bukan kepastian. Arus kapal di Hormuz belum sepenuhnya normal. Diplomasi masih berlangsung. Hubungan Iran dan Amerika Serikat masih rentan. Karena itu, pasar masih dapat berubah arah secara cepat. Penurunan Brent sekitar 10% dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan betapa agresifnya perubahan positioning ketika ekspektasi pasar bergeser.

Dampak Penurunan Harga Minyak terhadap Ekonomi Global

Harga minyak yang lebih rendah dapat memberikan sejumlah manfaat bagi ekonomi global apabila tren tersebut berkelanjutan.

Inflasi Berpotensi Lebih Rendah

Energi merupakan salah satu komponen penting dalam biaya produksi dan transportasi. Jika harga crude oil turun secara berkelanjutan, biaya bahan bakar dapat ikut turun. Pada akhirnya, tekanan biaya pada perusahaan dan konsumen berpotensi berkurang.

Dampaknya dapat terlihat pada:

  • biaya transportasi;
  • biaya logistik;
  • harga bahan bakar;
  • biaya produksi industri;
  • biaya distribusi barang;
  • ekspektasi inflasi.

Namun, efek tersebut membutuhkan waktu untuk diteruskan dari harga minyak mentah ke harga konsumen.

Bank Sentral Mendapat Ruang Lebih Besar

Penurunan harga energi dapat membantu meredakan tekanan inflasi. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat memberikan ruang lebih besar bagi bank sentral untuk mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Sebaliknya, apabila minyak kembali melonjak akibat eskalasi Timur Tengah, tekanan inflasi dapat meningkat dan memperumit keputusan bank sentral. Karena itu, pergerakan minyak saat ini tidak hanya penting bagi trader komoditas, tetapi juga bagi pasar obligasi, mata uang, dan saham.

Dampak bagi Indonesia

Pergerakan harga minyak dunia juga memiliki implikasi bagi Indonesia. Indonesia merupakan konsumen energi besar, sehingga perubahan harga minyak global dapat memengaruhi biaya impor energi dan neraca perdagangan.

Ketika harga minyak turun, tekanan terhadap biaya impor minyak dan produk energi dapat berkurang, dengan catatan faktor lain seperti nilai tukar dan volume impor tidak berubah secara signifikan. Di sisi lain, harga minyak yang terlalu rendah juga memiliki konsekuensi berbeda bagi negara dan perusahaan yang berkaitan dengan sektor hulu migas. Karena itu, dampaknya tidak bisa hanya dibaca sebagai positif atau negatif secara sederhana.

Harga Minyak dan Nilai Tukar Rupiah

Hubungan antara minyak dan rupiah juga perlu diperhatikan. Jika penurunan harga minyak membantu menurunkan tekanan impor energi, kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor dapat berkurang. Secara teoritis, kondisi tersebut dapat membantu mengurangi salah satu sumber tekanan terhadap neraca eksternal. Namun, arah rupiah tetap dipengaruhi oleh banyak faktor lain, termasuk:

  • kebijakan Federal Reserve;
  • imbal hasil Treasury AS;
  • arus modal asing;
  • kondisi neraca perdagangan;
  • harga komoditas ekspor Indonesia;
  • sentimen risiko global.

Dengan demikian, penurunan minyak tidak otomatis berarti rupiah akan menguat.

Hal yang Perlu Dipantau Investor Minyak

Untuk menentukan apakah koreksi harga minyak akan berlanjut, kita perlu memperhatikan sejumlah indikator utama.

1. Perkembangan Iran-Oman

Berita mengenai jalur pelayaran Hormuz menjadi katalis paling penting dalam jangka pendek. Setiap pengumuman mengenai pembukaan jalur, mekanisme keamanan kapal, atau kegagalan negosiasi dapat memicu pergerakan harga besar.

2. Hubungan Amerika Serikat-Iran

Investor perlu memperhatikan apakah tekanan ekonomi berkembang menjadi eskalasi militer atau justru membuka ruang bagi kesepakatan. Perbedaan kedua skenario tersebut sangat besar bagi harga minyak.

3. Lalu Lintas Kapal di Hormuz

Pembukaan secara politik belum tentu langsung menghasilkan normalisasi secara fisik. Karena itu, data pelayaran menjadi konfirmasi penting bagi pasar.

4. Data Persediaan Minyak AS

Laporan mingguan EIA tetap menjadi indikator penting untuk mengukur keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar minyak Amerika Serikat. EIA menerbitkan Weekly Petroleum Status Report secara rutin, termasuk data persediaan minyak mentah, produk olahan, impor, ekspor, dan aktivitas kilang.

5. Kebijakan Produksi OPEC+

Setiap perubahan produksi dari OPEC+ dapat mengubah ekspektasi pasokan global dan memperkuat atau mengimbangi dampak geopolitik.

Apakah Harga Minyak Masih Bisa Turun?

Masih terbuka peluangnya.

Jika diplomasi Timur Tengah terus menunjukkan perkembangan positif dan lalu lintas kapal melalui Hormuz semakin normal, tekanan jual dapat berlanjut. Terlebih lagi, pasar telah menunjukkan respons kuat terhadap perubahan ekspektasi. Dalam beberapa hari terakhir, Brent dan WTI mengalami penurunan signifikan karena investor mengurangi kekhawatiran terhadap skenario gangguan pasokan yang lebih parah.

Namun, ruang penurunan tidak berarti tanpa batas. Semakin rendah harga minyak, semakin besar pula kemungkinan munculnya pembeli yang menilai harga tersebut menarik. Selain itu, setiap eskalasi geopolitik baru dapat membalikkan tren dalam waktu singkat.

Apakah Harga Minyak Bisa Rebound?

Bisa, terutama jika diplomasi gagal.

Pasar minyak saat ini sangat bergantung pada berita geopolitik. Karena itu, rebound dapat terjadi bahkan ketika fundamental permintaan tidak mengalami perubahan besar.

Skenario yang dapat memicu rebound antara lain:

  • negosiasi Iran-Oman menemui jalan buntu;
  • pembukaan Hormuz tertunda;
  • terjadi gangguan terhadap kapal tanker;
  • konflik kembali meningkat;
  • sanksi berubah menjadi tekanan yang lebih agresif;
  • ekspor minyak Iran terganggu secara signifikan;
  • pasokan global kembali dipersepsikan ketat.

Dalam situasi tersebut, harga minyak dapat kembali mendapatkan premi risiko geopolitik.

Kesimpulan: Diplomasi Timur Tengah Menjadi Penentu Arah Minyak

Harga minyak turun empat hari berturut-turut karena pasar mulai memperhitungkan peluang membaiknya kondisi pasokan energi dari Timur Tengah. Brent ditutup pada US$87,84 per barel dan WTI pada US$82,23 per barel pada perdagangan 26 Agustus 2026.

Pembicaraan Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz menjadi katalis utama karena keberhasilan diplomasi berpotensi meningkatkan kembali arus pelayaran dan mengurangi risiko gangguan pasokan.

Tekanan bearish juga diperkuat oleh sikap pasar terhadap sanksi Amerika Serikat terhadap Iran serta data persediaan minyak mentah AS yang hanya naik 95.000 barel menjadi 428,9 juta barel, lebih kecil daripada perkiraan analis.

Meski demikian, penurunan harga minyak belum dapat dianggap sebagai tanda bahwa krisis pasokan telah berakhir. Lalu lintas melalui Hormuz masih menjadi faktor kunci, sementara diplomasi Iran, Oman, Amerika Serikat, dan negara mediator lainnya masih berkembang.

Untuk pasar dalam beberapa sesi ke depan, perhatian utama akan tertuju pada satu pertanyaan: apakah diplomasi benar-benar menghasilkan pembukaan Hormuz yang berkelanjutan, atau justru ketegangan kembali meningkat?

Jika pembukaan Hormuz semakin nyata dan gencatan senjata memperoleh kepastian, Brent dan WTI berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, kegagalan diplomasi atau gangguan baru terhadap jalur pelayaran dapat dengan cepat mengembalikan premi risiko dan memicu rebound harga minyak.

Dengan demikian, US$80 pada WTI dan perkembangan Selat Hormuz menjadi dua titik perhatian utama pasar minyak dalam jangka pendek, sementara Brent tetap menjadi indikator penting untuk mengukur seberapa besar premi risiko geopolitik telah dihapus dari harga crude oil.

Ringkasan Harga Minyak

  • Brent: US$87,84 per barel pada penutupan 26 Agustus.
  • WTI: US$82,23 per barel pada penutupan 26 Agustus.
  • Tren: penurunan empat sesi berturut-turut.
  • Katalis bearish: harapan diplomasi Timur Tengah dan potensi normalisasi pelayaran Hormuz.
  • Faktor tambahan: respons pasar terhadap sanksi AS terhadap Iran dan data persediaan minyak AS.
  • Level psikologis WTI: US$80 per barel.
  • Risiko bullish: kegagalan diplomasi atau gangguan baru terhadap Selat Hormuz.
  • Risiko bearish: pembukaan Hormuz yang berkelanjutan dan de-eskalasi konflik.
  • Indikator berikutnya: perkembangan Iran-Oman, hubungan AS-Iran, lalu lintas kapal Hormuz, data EIA, serta kebijakan produksi OPEC+.
Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.