Harga Minyak Anjlok, Selat Hormuz Mulai Dibuka: Brent dan WTI Tertekan Harapan Deeskalasi Iran-AS

Harga minyak mentah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026. Pasar energi merespons positif perkembangan diplomasi di sekitar Selat Hormuz, setelah Iran dan Oman membahas kerangka sementara untuk memulihkan pelayaran melalui salah satu jalur energi paling strategis di dunia.

Harga Brent crude turun sekitar 2% menuju US$86,82 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 1,8% ke US$80,89 per barel. Dengan penurunan tersebut, Brent telah terkoreksi sekitar 8% sepanjang pekan berjalan.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar minyak mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya terbentuk akibat terganggunya lalu lintas kapal tanker di kawasan Teluk. Optimisme tersebut semakin kuat setelah Iran dan Oman membicarakan pembentukan koridor maritim sementara, termasuk mekanisme pengelolaan lalu lintas kapal, pertukaran informasi, dan layanan keamanan.

Di sisi lain, penurunan harga minyak belum berarti risiko pasokan global telah sepenuhnya hilang. Jalur Hormuz masih berada dalam situasi sensitif, sementara konflik regional, potensi pembatasan ekspor produk minyak, dan kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran tetap menjadi faktor yang dapat memicu volatilitas harga.

Harga Minyak Hari Ini: Brent dan WTI Kembali Tertekan

Pergerakan harga minyak pada Rabu memperlihatkan perubahan sentimen yang cukup tajam dibandingkan pekan sebelumnya.

KontrakPergerakan 26 Agustus 2026Level sekitar perdagangan
Brent crudeTurun sekitar 2%US$86,82/barel
WTI crudeTurun sekitar 1,8%US$80,89/barel
Brent pekan berjalanKoreksi sekitar 8%

Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan jual tidak lagi hanya berasal dari faktor teknikal. Pasar mulai menilai bahwa risiko terburuk terhadap distribusi minyak melalui kawasan Teluk mungkin dapat dikurangi apabila pembicaraan Iran-Oman menghasilkan mekanisme pelayaran yang benar-benar berjalan.

Reuters juga melaporkan bahwa WTI sempat turun US$1,37 atau 1,7% menjadi US$80,99 per barel pada perdagangan awal Rabu, setelah kontrak tersebut kehilangan 3,1% pada sesi sebelumnya.

Pada sesi Selasa, Brent ditutup turun 3,9% menjadi US$88,58 per barel, sementara WTI turun 3,1% menjadi US$82,36 per barel. Penurunan tersebut membawa harga minyak ke level terendah lebih dari satu pekan.

Selat Hormuz Menjadi Pemicu Utama Penurunan Harga Minyak

Perhatian utama pasar kini tertuju pada perkembangan Selat Hormuz.

Selat yang berada di antara Iran dan Oman tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting secara global. Sebelum perang dimulai pada Februari, sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia melewati jalur tersebut.

Ketika lalu lintas kapal melalui Hormuz terganggu, pasar langsung memasukkan premi risiko ke dalam harga minyak. Logikanya sederhana: semakin besar kemungkinan tanker kesulitan melewati kawasan tersebut, semakin besar pula risiko pasokan minyak global berkurang.

Namun, arah sentimen berubah ketika muncul indikasi bahwa Iran dan Oman mulai membahas mekanisme untuk mengatur kembali lalu lintas pelayaran.

Iran dan Oman disebut membicarakan koridor maritim sementara, sementara pembahasan mengenai sistem yang lebih permanen mencakup pengelolaan lalu lintas kapal, pertukaran informasi, serta layanan keamanan.

Bagi pasar minyak, perkembangan tersebut sangat penting karena pembukaan jalur pelayaran akan mengurangi ketidakpastian distribusi dari kawasan Teluk.

Koridor Maritim Sementara Jadi Kunci Pasar

Pembentukan koridor sementara menjadi salah satu perkembangan paling diperhatikan oleh pelaku pasar. Menurut laporan yang tersedia, Iran dan Oman tidak hanya membahas pembukaan jalur pelayaran, tetapi juga melanjutkan pembicaraan teknis mengenai mekanisme jangka panjang. Iran menyebut jalur sementara telah disepakati, sedangkan pembahasan mengenai rute permanen dapat berlangsung dalam 30 hingga 60 hari.

Pasar tentu belum dapat menganggap situasi tersebut sebagai pembukaan penuh Hormuz. Akan tetapi, ekspektasi terhadap normalisasi lalu lintas sudah cukup untuk mengubah keseimbangan antara pembeli dan penjual minyak.

Sebelumnya, ketidakpastian mengenai keamanan tanker membuat pelaku pasar harus memberikan kompensasi risiko yang lebih besar. Sekarang, setiap perkembangan yang meningkatkan kemungkinan kapal dapat kembali melintas dengan aman berpotensi mengurangi premi tersebut. Inilah alasan mengapa harga minyak dapat turun cukup cepat meskipun pasokan fisik belum sepenuhnya kembali normal.

Amerika Serikat Mengatakan Selat Hormuz Telah Dibersihkan dari Ranjau

Perkembangan lain yang turut memengaruhi sentimen adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa ranjau di Selat Hormuz telah dibersihkan. Trump mengatakan pada 25 Agustus bahwa seluruh ranjau di jalur utama telah disingkirkan dan memperingatkan Iran agar tidak menanam ranjau baru.

Menurut laporan Axios, operasi pembersihan tersebut berfokus pada jalur utama Traffic Separation Scheme. Kapal tanker sebelumnya diarahkan menggunakan jalur selatan yang lebih dekat dengan Oman selama proses pembersihan berlangsung. Jika keamanan jalur pelayaran benar-benar meningkat, kemampuan produsen minyak Teluk untuk mengirimkan kargo ke pasar internasional juga berpotensi membaik. Namun, pasar tetap perlu membedakan antara jalur yang secara teknis telah dibersihkan dan normalisasi lalu lintas kapal secara penuh. Keduanya tidak selalu terjadi pada waktu yang sama.

Aktivitas Kapal di Hormuz Masih Menjadi Risiko

Meskipun sentimen membaik, lalu lintas kapal melalui Hormuz masih jauh dari kondisi normal. Reuters melaporkan bahwa pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah turun menjadi sekitar 5 juta barel per hari, dibandingkan lebih dari 20 juta barel per hari sebelum konflik.

Sementara itu, terdapat perbedaan besar antara data pemerintah Amerika Serikat dan sejumlah pelacak kapal komersial mengenai volume minyak yang benar-benar melewati Hormuz. Perbedaan tersebut muncul antara lain karena sejumlah tanker mematikan transponder dan adanya perbedaan metode pelacakan.

Situasi tersebut membuat pasar tidak hanya memperhatikan berita diplomatik, tetapi juga data pengiriman fisik. Dengan kata lain, pengumuman pembukaan Hormuz belum cukup untuk memastikan pasokan kembali normal. Konfirmasi yang lebih kuat akan datang dari peningkatan jumlah kapal tanker, volume ekspor, serta data impor negara konsumen.

Sanksi Baru AS terhadap Iran Tidak Memicu Lonjakan Harga Minyak

Faktor lain yang justru menekan harga minyak adalah respons pasar terhadap sanksi terbaru Amerika Serikat terhadap Iran. Washington memperluas sanksi untuk memberikan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Namun, pasar menilai langkah tersebut relatif lebih lunak dibandingkan skenario konflik militer yang dapat langsung mengganggu produksi dan transportasi minyak.

Sanksi terbaru menargetkan sekitar 60 individu, entitas, dan kapal. Akan tetapi, Amerika Serikat tidak langsung memberlakukan hukuman terhadap negara-negara yang tetap melakukan aktivitas ekonomi dengan Iran. Kondisi ini penting bagi pasar karena sanksi ekonomi dan gangguan fisik terhadap pasokan memiliki dampak berbeda terhadap harga minyak.

Sanksi dapat mengurangi kemampuan Iran menjual minyak secara bertahap. Sebaliknya, serangan terhadap fasilitas produksi, terminal ekspor, atau jalur tanker dapat mengurangi pasokan secara cepat dan menciptakan lonjakan harga. Karena pasar belum melihat dampak langsung yang ekstrem terhadap pasokan global, tekanan geopolitik dalam harga minyak mulai berkurang.

Persediaan Minyak Mentah AS Menambah Tekanan Bearish

Dari sisi fundamental, pasar juga menghadapi potensi kenaikan stok minyak mentah Amerika Serikat. American Petroleum Institute atau API melaporkan persediaan minyak mentah AS naik sekitar 4,2 juta barel dalam sepekan. Apabila dikonfirmasi oleh data resmi pemerintah, kenaikan tersebut akan menjadi peningkatan persediaan mingguan keempat berturut-turut.

Kenaikan stok biasanya memberikan sinyal bahwa keseimbangan pasar domestik AS sedang lebih longgar. Semakin besar persediaan, semakin kecil tekanan pasar untuk menaikkan harga berdasarkan kekhawatiran kekurangan pasokan dalam jangka pendek.

Hal ini membuat penurunan harga minyak saat ini memiliki dua lapisan tekanan:

  1. Premi risiko geopolitik berkurang.
  2. Indikasi persediaan minyak AS meningkat.

Kombinasi keduanya membuat Brent dan WTI lebih rentan terhadap koreksi.

Rusia dan Risiko Pasokan Diesel Masih Menjadi Penahan Penurunan

Meskipun sentimen minyak secara umum bearish, risiko pasokan belum sepenuhnya menghilang. Rusia mempertimbangkan perpanjangan pembatasan ekspor diesel di tengah serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pasokan produk minyak, khususnya diesel, di pasar internasional.

Faktor ini menjadi penyeimbang bagi tekanan jual minyak mentah. Artinya, pasar menghadapi dua arah risiko yang berbeda. Normalisasi Hormuz mendorong harga turun, sementara gangguan pada sektor penyulingan Rusia dapat membatasi ruang penurunan.

Mengapa Harga Minyak Bisa Turun Meski Hormuz Belum Normal?

Penurunan harga minyak tidak harus menunggu sampai seluruh kapal kembali melewati Hormuz. Pasar komoditas bekerja berdasarkan ekspektasi terhadap kondisi pasokan di masa depan, bukan hanya berdasarkan volume yang tersedia pada hari yang sama.

Ketika probabilitas pembukaan jalur meningkat, trader mulai mengurangi posisi yang sebelumnya dibangun untuk menghadapi skenario kelangkaan minyak. Dengan demikian, harga dapat turun lebih dahulu sebelum arus fisik minyak kembali sepenuhnya normal. Fenomena tersebut terlihat jelas dalam perkembangan terbaru. Ketika Iran dan Oman mulai membahas koridor maritim, harga minyak langsung mendapatkan tekanan karena pasar memperkirakan risiko pasokan akan berkurang.

Brent di Bawah US$90 Jadi Perhatian Berikutnya

Dengan Brent turun ke sekitar US$86,82 per barel, level US$90 kini berubah dari area harga saat ini menjadi salah satu referensi penting bagi pasar. Penembusan yang bertahan di bawah US$90 memperlihatkan bahwa momentum bullish yang sebelumnya membawa Brent ke atas US$90 mulai kehilangan kekuatan. Sebelumnya, Brent sempat mencapai US$91,02 pada 18 Agustus ketika ketegangan Hormuz meningkat dan peluang penyelesaian konflik tampak semakin kecil. Perubahan dari US$91 menuju area US$86 menunjukkan betapa cepatnya premi geopolitik dapat terhapus ketika muncul tanda-tanda deeskalasi. Pasar selanjutnya akan memperhatikan apakah Brent mampu bertahan di area pertengahan US$80 atau justru melanjutkan koreksi.

WTI Menguji Area US$80 per Barel

WTI juga menghadapi tekanan yang signifikan. Harga WTI berada di sekitar US$80,89-US$80,99 per barel pada perdagangan Rabu, setelah sehari sebelumnya ditutup di US$82,36. Area US$80 menjadi penting karena berada dekat dengan level psikologis yang mudah memengaruhi keputusan trader. Apabila tekanan jual terus berlanjut dan WTI menembus US$80 secara meyakinkan, pasar dapat mulai memperhitungkan koreksi yang lebih dalam. Sebaliknya, jika WTI mampu bertahan di sekitar US$80 dan perkembangan Hormuz kembali memburuk, harga dapat memperoleh dukungan dari meningkatnya premi risiko.

Skenario Harga Minyak Berikutnya

Kami melihat setidaknya tiga skenario utama untuk pergerakan Brent dan WTI dalam jangka pendek.

Skenario 1: Hormuz Berhasil Dinormalisasi

Ini merupakan skenario paling bearish bagi minyak.

Jika koridor sementara benar-benar berjalan, lalu lintas kapal meningkat, dan pembicaraan Iran-Oman menghasilkan mekanisme keamanan yang efektif, risiko gangguan pasokan akan semakin kecil.

Dalam kondisi tersebut:

  • Premi geopolitik berpotensi terus turun.
  • Arus minyak dari Teluk berpotensi meningkat.
  • Brent berpeluang mempertahankan perdagangan di bawah US$90.
  • WTI dapat kembali menguji area US$80.
  • Fokus pasar akan bergeser ke stok minyak dan permintaan global.

Skenario 2: Negosiasi Berjalan Lambat

Ini merupakan skenario yang lebih seimbang.

Koridor sementara mungkin berjalan tetapi belum mampu mengembalikan arus kapal ke tingkat normal. Pasar akan tetap memberikan diskon terhadap risiko Hormuz, tetapi tidak menghapusnya sepenuhnya.

Dalam kondisi seperti ini, harga minyak berpotensi bergerak volatil dengan arah yang sangat bergantung pada data pengiriman dan berita geopolitik harian.

Skenario 3: Konflik Kembali Memanas

Ini merupakan skenario bullish bagi minyak.

Jika terjadi serangan baru terhadap kapal tanker, penanaman ranjau kembali, atau kegagalan total pembicaraan Iran-Oman, premi risiko dapat kembali masuk ke harga.

Pasar dapat dengan cepat mengubah ekspektasi dari surplus pasokan menuju kekhawatiran kekurangan pasokan.

Dalam skenario tersebut, penurunan Brent dan WTI dapat terhenti bahkan berbalik tajam.

Apa yang Harus Dipantau Investor Minyak?

Pergerakan minyak dalam beberapa hari ke depan kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh satu berita.

Kami melihat beberapa indikator yang paling penting untuk dipantau:

FaktorDampak jika membaikDampak jika memburuk
Pelayaran Selat HormuzHarga minyak cenderung turunHarga minyak berpotensi naik
Negosiasi Iran-OmanBearishBullish
Hubungan AS-IranBearish jika membaikBullish jika memburuk
Stok minyak ASStok naik = bearishStok turun = bullish
Ekspor RusiaPasokan meningkat = bearishPembatasan = bullish
Aktivitas tankerNaik = bearishTurun = bullish
Risiko serangan regionalMenurun = bearishMeningkat = bullish

Investor perlu memberikan perhatian khusus pada data fisik, bukan hanya pernyataan politik.

Jika jumlah tanker yang melewati Hormuz meningkat secara konsisten, pasar akan mendapatkan bukti bahwa normalisasi benar-benar berlangsung.

Sebaliknya, jika pernyataan diplomatik membaik tetapi lalu lintas kapal tetap rendah, harga minyak masih memiliki ruang untuk mempertahankan premi risiko.

Prospek Harga Minyak: Pasar Mulai Menghapus Premi Geopolitik

Penurunan harga minyak pada 26 Agustus merupakan cerminan dari perubahan ekspektasi pasar.

Beberapa pekan sebelumnya, kekhawatiran mengenai penutupan Hormuz menjadi alasan utama Brent dan WTI bertahan tinggi. Brent bahkan mencapai US$91,02 per barel pada 18 Agustus ketika Iran mengambil sikap lebih keras terhadap pembukaan jalur tersebut.

Kini kondisinya berubah.

Pembicaraan Iran-Oman, rencana koridor maritim, klaim pembersihan ranjau oleh Amerika Serikat, serta respons pasar yang relatif tenang terhadap sanksi baru Washington membuat risiko skenario terburuk mulai berkurang.

Namun, proses tersebut belum selesai.

Pasar minyak masih harus menghadapi ketidakpastian mengenai volume pengiriman aktual, keamanan tanker, kebijakan Iran, tekanan AS, serta potensi gangguan produk minyak Rusia.

Karena itu, penurunan harga minyak saat ini lebih tepat dipahami sebagai pengurangan premi risiko, bukan sebagai bukti bahwa seluruh masalah pasokan global telah berakhir.

Kesimpulan: Minyak Tertekan, Hormuz Menjadi Penentu Utama

Harga minyak Brent dan WTI kembali melemah pada 26 Agustus 2026 karena pasar melihat peluang yang lebih besar terhadap normalisasi pelayaran di Selat Hormuz.

Brent turun sekitar 2% menuju US$86,82 per barel, sedangkan WTI turun sekitar 1,8% ke US$80,89 per barel. Koreksi Brent sepanjang pekan juga telah mencapai sekitar 8%.

Faktor utama di balik tekanan tersebut adalah pembicaraan Iran dan Oman mengenai koridor maritim sementara serta rencana melanjutkan pembahasan mengenai sistem pelayaran permanen.

Tekanan bearish semakin kuat karena pasar tidak memberikan respons agresif terhadap sanksi baru AS terhadap Iran dan terdapat indikasi kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat.

Namun, risiko bullish belum hilang. Arus kapal melalui Hormuz masih jauh di bawah tingkat sebelum konflik, sementara gangguan terhadap fasilitas energi dan pembatasan ekspor produk minyak masih dapat kembali mengubah sentimen.

Dengan demikian, Selat Hormuz tetap menjadi variabel terpenting bagi harga minyak dalam jangka pendek. Jika normalisasi pelayaran benar-benar terealisasi, Brent dan WTI berpotensi melanjutkan koreksi. Sebaliknya, kegagalan diplomasi atau eskalasi militer baru dapat dengan cepat mengembalikan premi risiko dan mendorong harga minyak naik.

Untuk saat ini, arah pasar lebih condong bearish, tetapi volatilitas tetap tinggi karena setiap perubahan dalam hubungan Iran, Oman, dan Amerika Serikat dapat mengubah ekspektasi pasokan global dalam waktu singkat.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.