Pemangkasan Saham Bank of America
Investor legendaris Warren Buffett melalui Berkshire Hathaway kembali memangkas kepemilikan saham di Bank of America (BoA). Padahal, saham bank terbesar kedua di AS itu sudah lama menjadi portofolio andalan Berkshire sejak 2011.
Kini, BoA masih menjadi kepemilikan terbesar ketiga Berkshire dengan 605 juta lembar saham atau setara 8,2% kepemilikan. Meski demikian, jumlah itu sudah berkurang 41% dibandingkan kepemilikan sebelumnya.
Penjualan Saham dalam Skala Besar
Sejak Juli 2024 hingga kuartal II-2025, Buffett tercatat menjual sekitar 427 juta lembar saham BoA. Selain BoA, Buffett juga memangkas kepemilikan di Apple serta sejumlah saham besar lain. Langkah ini membuat kas Berkshire membengkak ke level rekor US$344 miliar atau setara Rp5.586 triliun.
Alasan di Balik Strategi Buffett
Ada dua faktor yang diyakini menjadi dasar keputusan Buffett:
- Potensi Kenaikan Pajak Korporasi di AS – Dengan menjual saham lebih cepat, Berkshire bisa membayar pajak dengan tarif saat ini yang lebih rendah.
- Valuasi Saham Kurang Menarik – Pada awal Agustus 2025, rasio price-to-book value (PBV) BoA mencapai 1,29 kali, menandakan saham diperdagangkan dengan premi 29%.
Menunggu Peluang Lebih Murah
Dengan kondisi valuasi tinggi dan ketidakpastian arah kebijakan pajak, Buffett memilih strategi defensif: menumpuk kas dalam jumlah besar sambil menunggu peluang investasi yang lebih murah. Langkah ini mencerminkan gaya khas Buffett—bersabar, disiplin, dan hanya bergerak saat valuasi masuk akal.
Implikasi bagi Investor
Bagi pelaku pasar, aksi Buffett menjadi sinyal penting. Penjualan saham bank besar dan fokus pada kas menegaskan pandangan hati-hati terhadap pasar saham saat ini. Investor perlu mempertimbangkan risiko kenaikan pajak, valuasi tinggi, dan menjaga likuiditas agar siap mengambil peluang saat pasar mengalami koreksi.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
