Dalam menghadapi ketidakpastian global akibat potensi perang tarif dari Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan kesiapan perusahaan pelat merah melalui uji ketahanan finansial atau stress test. Langkah ini menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
🔍 10 BUMN Terpilih Jalani Stress Test
Erick Thohir menyatakan bahwa 10 BUMN telah menjalani stress test untuk mengantisipasi dampak kebijakan tarif dari AS. Perusahaan-perusahaan tersebut termasuk Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), Telkom, MIND ID, dan Pertamina, yang dianggap paling berisiko terdampak.
“Untuk test stress, kita sudah jalankan dari 10 perusahaan yang kita deteksi,” ujar Erick dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Selasa (20/5/2025).
✅ Hasil Stress Test: Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian
Erick menekankan bahwa hasil stress test menunjukkan bahwa BUMN masih dalam kondisi sehat dan siap menghadapi potensi kenaikan tarif. Bahkan jika kebijakan tarif benar-benar diterapkan, dampaknya tidak sedalam yang dikhawatirkan sebelumnya.
“Semua dalam kondisi hasil stress test-nya baik… kalau sampai pun berlaku, impact-nya tidak sedalam yang pernah kita takutkan,” jelasnya.
🔒 Data Sensitif Disampaikan Secara Tertutup
Karena menyangkut data internal dan strategis, Erick mengusulkan agar pembahasan lebih dalam mengenai hasil stress test dilakukan secara tertutup bersama pimpinan DPR.
“Ini data yang tertutup, mohon maaf bukan kita tidak membuka datanya, tapi sensitif,” ungkapnya.
💵 Dolar AS Rp20.000? BUMN Masih Tangguh
Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi menyentuh Rp20.000, Erick menegaskan bahwa fundamental BUMN masih solid. Ia mengakui bahwa skenario tersebut merupakan kondisi ekstrem, namun hasil stress test menunjukkan ketahanan masih terjaga.
“Kalau sampai Rp20.000, kita dalam keadaan yang masih baik… yang sehat di Rp16.000, yang Rp20.000 masih bisa napas,” tegasnya.
📊 Implikasi untuk Investor: Waspada Tapi Optimis
Langkah proaktif Erick Thohir melakukan stress test menunjukkan bahwa pemerintah serius dalam menjaga stabilitas sektor BUMN di tengah tekanan global. Bagi investor, ini memberikan sinyal positif bahwa:
- BUMN tetap menjadi aset strategis yang relatif aman
- Diversifikasi investasi ke sektor-sektor pelat merah masih relevan
- Risiko global harus tetap diantisipasi dalam strategi jangka menengah
Pemahaman terhadap dinamika global dan kesiapan internal BUMN menjadi kunci dalam menyusun strategi investasi yang adaptif dan berkelanjutan.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
