PT Rifan Financindo Berjangka – Bursa Asia mengalami penguatan pada perdagangan pagi ini, Senin (23/12/2024), menyusul rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih baik dari ekspektasi. Harapan pelonggaran kebijakan moneter pada tahun depan memberikan dorongan positif bagi pasar Asia. Selain itu, kepastian bahwa Washington berhasil menghindari penutupan pemerintah turut memberikan sentimen positif.
Pergerakan Bursa Asia 23 Desember 2024
Berikut adalah data pergerakan beberapa indeks utama di Asia:
| Negara | Indeks | Pergerakan (23/12/2024) | Harga (23/12/2024) |
|---|---|---|---|
| Jepang | Nikkei 225 Index | 0,89% | 39,070 |
| Hong Kong | Hang Seng Index | 0,84% | 19,887 |
| Australia | S&P/ASX 200 | 0,89% | 8,139 |
| China | Shanghai | 0,00% | 13,294 |
| Korea Selatan | KOSPI Index | 1,21% | 322 |
Indeks di Jepang dan Australia mencatat kenaikan yang sama sebesar 0,89%, sementara indeks Hang Seng di Hong Kong naik 0,84%. Di Korea Selatan, KOSPI Index menjadi yang paling unggul dengan kenaikan sebesar 1,21%.
Inflasi AS Melambat di Bulan November
Inflasi bulanan AS menunjukkan perlambatan pada November 2024. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), ukuran inflasi pilihan The Fed, hanya naik 0,1% dari bulan sebelumnya, lebih rendah dari estimasi pasar sebesar 0,2%.
Secara tahunan, PCE mencatat inflasi sebesar 2,4%, sedikit di bawah proyeksi Dow Jones sebesar 2,5%. Adapun PCE inti—yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi—naik 2,8% yoy, juga lebih rendah dari ekspektasi.
Perlambatan ini mencerminkan kenaikan harga jasa sebesar 0,2% dan peningkatan harga barang sebesar 0,1%. Dalam jangka waktu 12 bulan terakhir, harga barang justru turun 0,4%, sedangkan jasa naik 3,8%.
Dampak Kebijakan Federal Reserve terhadap Pasar
Harapan pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed semakin menguat. Saat ini, Fed funds futures menyiratkan peluang 53% untuk pemangkasan suku bunga pada Maret dan 62% untuk Mei 2025. Proyeksi pasar menunjukkan suku bunga diperkirakan hanya turun menjadi 3,75-4,0% pada akhir 2025, lebih tinggi dari ekspektasi beberapa bulan lalu di sekitar 3,0%.
Tekanan pada Negara Pasar Berkembang
Meskipun berita inflasi AS memberikan sentimen positif, efek samping tetap dirasakan oleh negara-negara pasar berkembang. Kuatnya dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi memberikan tekanan pada mata uang negara-negara ini. Untuk mencegah depresiasi mata uang yang terlalu dalam, beberapa negara harus melakukan intervensi yang dapat memicu inflasi domestik.
Strategi Investasi di Tengah Dinamika Pasar
Rilis data inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi berhasil memberikan angin segar pada bursa Asia. Namun, investor tetap perlu berhati-hati dalam menentukan strategi investasi. Mengamati perkembangan kebijakan moneter global serta volatilitas pasar dapat membantu mengelola risiko dengan lebih baik.
Melihat tren ini, diversifikasi portofolio dan fokus pada sektor-sektor defensif mungkin menjadi pilihan yang bijak untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global di tahun mendatang.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
