PT Rifan Financindo Berjangka – Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Jumat (31/5/2024), di tengah sikap investor yang menanti rilis data ekonomi cukup penting di kawasan tersebut dan di global pada hari ini. Pada pukul 08:24 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,36%, Hang Seng Hong Kong melesat 0,98%, Straits Times Singapura bertambah 0,23%, ASX 200 Australia terapresiasi 0,49%, dan KOSPI Korea Selatan menanjak 0,72%. Sementara itu, indeks Shanghai Composite China terpantau cenderung melemah tipis 0,01%.
Pergerakan Bursa Asia-Pasifik
Jepang dan Hong Kong Memimpin Penguatan
Pasar saham Jepang, yang diwakili oleh indeks Nikkei 225, mencatat kenaikan 0,36%. Di Hong Kong, indeks Hang Seng melonjak 0,98%. Penguatan ini menunjukkan sentimen positif di pasar saham kedua negara tersebut, di tengah penantian investor terhadap data ekonomi penting yang akan dirilis.
Kinerja Positif Bursa Singapura, Australia, dan Korea Selatan
Indeks Straits Times di Singapura bertambah 0,23%, sementara ASX 200 Australia terapresiasi 0,49%. Di Korea Selatan, KOSPI menanjak 0,72%. Kinerja positif ini mengindikasikan optimisme investor di kawasan Asia-Pasifik, meskipun ada ketidakpastian global.
Shanghai Composite Melemah Tipis
Berbeda dengan mayoritas bursa Asia lainnya, indeks Shanghai Composite China cenderung melemah tipis 0,01%. Ini menandakan adanya kehati-hatian di pasar China menjelang rilis data aktivitas manufaktur yang tergambarkan pada Purchasing Manager’s Index (PMI) periode Mei 2024 versi NBS.
Rilis Data Ekonomi China
PMI Manufaktur China
Pada hari ini, China akan merilis data aktivitas manufaktur yang tergambarkan pada PMI periode Mei 2024 versi NBS. Konsensus pasar dalam Trading Economics memperkirakan PMI manufaktur pada bulan ini cenderung naik sedikit menjadi 50,5. Menurut data dari NBS, PMI manufaktur resmi China meningkat pada April lalu mencapai 50,4, menandakan bahwa sektor manufaktur China masih berada di ambang batas 50 poin yang memisahkan pertumbuhan dan kontraksi.
Indikator Utama Perekonomian China
Beberapa indikator utama perekonomian China, khususnya belanja konsumen dan sektor real estate, masih dalam tahap pemulihan. Pemerintah China telah menerapkan serangkaian kebijakan dan langkah-langkah keuangan yang dampaknya akan terlihat dalam beberapa bulan mendatang. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China menjadi 5% pada 2024, didukung dengan data ekonomi yang tampak membaik belakangan ini.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi China oleh IMF
Revisi Proyeksi Pertumbuhan
IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi China, menaikkannya dari 4,6% menjadi 5% pada 2024 dan 4,5% pada 2025. Revisi ini didorong oleh data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2024 yang kuat dan langkah-langkah kebijakan terkini. Inflasi inti diperkirakan akan meningkat namun tetap rendah karena output masih berada di bawah potensinya.
Tantangan Jangka Panjang
Meskipun prospek pertumbuhan di 2024 cukup baik, pada 2029, IMF memprediksi pertumbuhan di China akan melambat menjadi 3,3% karena populasi yang menua dan ekspansi produktivitas yang lebih lambat. Hal ini menunjukkan adanya tantangan jangka panjang yang harus dihadapi oleh perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
Pergerakan Bursa Saham Amerika Serikat
Wall Street Ditutup Melemah
Pergerakan bursa Asia-Pasifik pada hari ini cenderung berlawanan dengan bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, yang kembali ditutup melemah. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 0,86%, S&P 500 melemah 0,6%, dan Nasdaq Composite ambles 1,08%.
Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat
Investor di AS dan global cenderung mencerna data yang menunjukkan perekonomian tumbuh lebih lambat dari perkiraan sebelumnya pada kuartal I-2024. Departemen Perdagangan melaporkan PDB riil AS meningkat pada tingkat tahunan sebesar 1,3% pada kuartal pertama, turun dari perkiraan awal sebesar 1,6% tetapi sedikit lebih buruk dibandingkan perkiraan Dow Jones sebesar 1,2%. Pengurangan konsumsi, dari pertumbuhan 2,5% menjadi 2%, merupakan penyebab utama revisi penurunan tersebut.
Yield Treasury AS Mulai Melandai
Melambatnya data perkiraan kedua dari pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2024 membuat yield Treasury AS mulai melandai, setelah dalam beberapa hari terakhir mengalami kenaikan. Yield Treasury acuan tenor 10 tahun turun 7 basis poin (bp) menjadi 4,55%, turun dari posisi tertingginya sejak awal Mei 2024.
Data Klaim Pengangguran Mingguan AS
Peningkatan Klaim Pengangguran
Data klaim pengangguran mingguan AS untuk periode pekan yang berakhir 25 Mei 2024 terpantau meningkat menjadi 219.000, dari sebelumnya pada April lalu sebanyak 216.000 klaim. Peningkatan ini menunjukkan adanya tekanan di pasar tenaga kerja AS, yang dapat mempengaruhi kebijakan moneter The Fed.
Penantian Data Inflasi PCE
Investor masih menanti rilis data ekonomi penting lainnya, yaitu data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) terbaru yang akan dirilis pada Jumat besok. PCE menjadi ukuran inflasi favorit The Fed, dan investor akan mencermatinya untuk mendapatkan petunjuk mengenai prospek kebijakan moneter The Fed.
Pentingnya Memahami Berita Terkini di Pasar Keuangan
Pergerakan pasar saham yang dinamis menunjukkan pentingnya memahami berita terkini di pasar keuangan. Investor harus terus memantau perkembangan terbaru dan mempertimbangkan dampaknya terhadap strategi investasi mereka. Informasi yang akurat dan analisis yang tepat akan membantu investor dalam mengambil keputusan investasi yang bijak dan mengoptimalkan hasil investasi mereka di tengah kondisi pasar yang berubah-ubah.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
