Dua Krisis Ekonomi di Era SBY dan Tekanan Rupiah
PT Rifan Financindo Berjangka – Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menghadapi dua krisis ekonomi besar selama kepemimpinannya pada 2004-2014. Krisis Keuangan Global 2008/2009 dan Taper Tantrum 2013/2014 menyebabkan rupiah melemah dari Rp 9.620/US$ (2009) menjadi Rp 12.080/US$ (2014).
Situasi ini kembali relevan di 2025, di mana rupiah kembali menghadapi tekanan di kisaran Rp 16.000/US$. Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia (17/2/2025), SBY berbagi pengalamannya dalam mengelola stabilitas rupiah dan memberi pesan kepada Menteri Keuangan dan Gubernur BI untuk bekerja sama tanpa ego.
Pentingnya Sinergi Fiskal dan Moneter
Setiap kali rupiah menghadapi tekanan, SBY selalu mengingatkan bahwa kebijakan moneter dan fiskal harus berjalan seimbang. Ia menegaskan bahwa mengandalkan kebijakan moneter saja—seperti menaikkan suku bunga acuan—dapat mengorbankan pertumbuhan ekonomi karena akan membebani dunia usaha dan konsumsi masyarakat.
Sebaliknya, jika hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi tanpa menjaga stabilitas kurs, maka aliran modal asing berpotensi keluar dari Indonesia, seperti yang terjadi pada krisis 1998.
“Makanya, mereka harus betul-betul willing to cooperate, tinggalkan ego masing-masing, duduk bersama. Yang diperlukan adalah monetary and fiscal policy mix,” ujar SBY.
Pemerintah Harus Berdialog dengan Sektor Swasta
Selain koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter, SBY juga menekankan bahwa pemerintah harus berdialog dengan sektor swasta.
Dalam situasi pelemahan rupiah, pemerintah perlu memberikan kepastian dan arahan kepada pelaku bisnis, investor, serta komunitas usaha agar mereka tetap percaya pada stabilitas ekonomi nasional.
“Pemerintah bisa talk to private sector, business community, keadaan seperti ini,” tegasnya.
Memanfaatkan Pelemahan Rupiah untuk Ekspor
SBY juga menyoroti peluang di balik pelemahan rupiah, yakni dengan mendorong ekspor. Ketika rupiah melemah, harga barang ekspor menjadi lebih kompetitif di pasar global.
Ia menyebut strategi ini sebagai “competitive depreciation”, yang banyak digunakan oleh negara lain untuk meningkatkan daya saing ekspor mereka.
“Kalau kita piawai, bukan hanya pemerintah, tapi juga dunia usaha dan eksportir bisa memanfaatkan peluang ini,” ujarnya.
Dampak bagi Investor dan Pasar Keuangan
Bagi investor dan pelaku pasar keuangan, pernyataan SBY ini menjadi pengingat pentingnya stabilitas kebijakan ekonomi. Sinergi fiskal dan moneter yang baik dapat membantu menjaga kepercayaan pasar dan mengurangi volatilitas di sektor keuangan.
Investor disarankan untuk memantau kebijakan pemerintah dalam merespons tekanan rupiah, karena keputusan fiskal dan moneter akan berdampak langsung pada iklim investasi, suku bunga, dan pergerakan pasar modal.
Dengan kerja sama yang solid antara otoritas ekonomi, sektor swasta, dan pelaku pasar, Indonesia dapat melewati tekanan kurs tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
