Harga emas mengalami penurunan kecil pada Senin pagi (20/1), diperdagangkan di sekitar $2.695 per ons, mencerminkan kehati-hatian pasar menjelang pelantikan Presiden terpilih Donald Trump. Para pedagang waspada terhadap potensi kebijakan tarif besar, perang dagang, dan ketidakpastian pasar lainnya yang mungkin timbul dari pemerintahan baru ini.
Faktor Utama Penurunan Harga Emas
- Data Inflasi AS yang Lebih Rendah dari Ekspektasi
- Laporan inflasi yang mengecewakan pekan lalu mendorong ekspektasi untuk pelonggaran suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve, memberikan dukungan jangka pendek pada harga emas.
- Ketidakpastian Kebijakan Trump
- Ancaman kebijakan tarif yang tinggi serta ketegangan dengan beberapa sekutu tradisional AS, seperti Kanada, Meksiko, dan Eropa, memunculkan ketakutan geopolitik.
- Sementara ketegangan ini bisa meningkatkan permintaan safe haven seperti emas, penguatan dolar AS tetap menjadi potensi hambatan bagi kenaikan harga.
- Gencatan Senjata Timur Tengah
- Perkembangan geopolitik lain termasuk gencatan senjata di Gaza, dengan Hamas membebaskan sandera wanita dalam pertukaran tahanan, turut memengaruhi sentimen pasar global.
Tren Mingguan dan Outlook
- Emas mencatat kenaikan mingguan 0,5% sebelumnya, didukung oleh ekspektasi kebijakan moneter longgar dari The Fed.
- Survei oleh World Gold Council menunjukkan mayoritas bank sentral (97%) berencana mempertahankan atau meningkatkan cadangan emas, memberikan dukungan fundamental jangka panjang untuk logam mulia.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
- Perak, paladium, dan platinum: Semuanya mencatat penurunan harga.
- Indeks Spot Dolar Bloomberg: Naik 0,1%, memberikan tekanan tambahan pada harga emas.
Harga emas spot: $2.695,31 per ons pada 8:38 pagi waktu Singapura, menurun 0,3% dari sebelumnya.
Sumber: Bloomberg
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
