Harga emas bertahan stabil di sekitar $2.680 per ons pada Senin (13/1), seiring dengan meningkatnya permintaan sebagai aset safe haven. Ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan dan tarif Presiden terpilih Donald Trump, yang dijadwalkan mulai menjabat pada 20 Januari, mendorong daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Faktor Pendukung Harga Emas:
- Ketidakpastian Kebijakan AS:
- Tarif yang diusulkan oleh pemerintahan Trump berpotensi memicu perang dagang dan inflasi, menciptakan permintaan yang lebih besar untuk logam mulia.
- Permintaan Safe Haven:
- Kekhawatiran geopolitik dan ketegangan perdagangan terus mendorong investor untuk mencari perlindungan dalam aset seperti emas.
Faktor Penekan:
- Laporan Pekerjaan AS yang Kuat:
- Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS pada hari Jumat menunjukkan penguatan pasar tenaga kerja, mengindikasikan ekonomi yang solid.
- Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mengambil pendekatan hati-hati terkait pelonggaran suku bunga di tahun 2025.
- Dampak Suku Bunga pada Emas:
- Suku bunga yang lebih tinggi cenderung memberikan tekanan pada emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, membuatnya kurang menarik dibandingkan dengan aset berbunga.
Fokus Investor:
Investor kini menantikan data inflasi CPI AS yang akan dirilis pada akhir minggu ini. Hasil tersebut dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Kesimpulan:
Meskipun laporan pekerjaan AS yang kuat memberikan tekanan ke bawah pada emas, ketidakpastian kebijakan dan risiko inflasi dari tarif perdagangan dapat mendukung harga emas dalam waktu dekat.
Sumber: Trading Economics
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
