Harga emas mulai pulih pada Senin (18/11), setelah mencatat enam sesi penurunan berturut-turut. Logam mulia untuk pengiriman Desember naik $43,10, diperdagangkan di $2.613,20 per ons. Pemulihan ini terjadi setelah emas menyentuh level terendah dua bulan pada Jumat lalu.
Pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor pendorong utama kenaikan emas, dengan Indeks Dolar ICE turun 0,43 poin menjadi 106,26. Karena emas dihargai dalam dolar, penurunan nilai mata uang tersebut cenderung meningkatkan daya tarik logam mulia bagi pembeli internasional.
Penurunan imbal hasil obligasi AS juga turut mendukung pergerakan emas. Obligasi dua tahun AS turun ke 4,297%, sementara obligasi 10 tahun merosot ke 4,419%. Imbal hasil yang lebih rendah cenderung mengurangi daya tarik dolar, yang pada gilirannya menguntungkan emas.
Optimisme tambahan muncul dari proyeksi Goldman Sachs yang memprediksi harga emas akan mencapai $3.000 per ons pada tahun depan, memberikan sentimen bullish lebih lanjut untuk pasar komoditas.
Dengan pasar tetap dinamis, para investor akan memantau perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan moneter Federal Reserve serta kondisi makroekonomi global yang memengaruhi permintaan untuk aset safe haven seperti emas.
Sumber: MT Newswires
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
