Harga emas stabil di kisaran $2.660 per ons pada Kamis pagi (7/11) di Asia, setelah penurunan tajam lebih dari 3% pada sesi sebelumnya. Pelemahan emas terjadi usai kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS, yang meningkatkan kekuatan dolar ke level tertinggi satu tahun. Penguatan dolar ini memicu aksi jual emas, karena logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional.
Chris Weston dari Pepperstone Group Ltd. menyebutkan bahwa pergerakan dolar AS dan imbal hasil Treasury yang kuat memicu likuidasi posisi emas berjangka. Sementara itu, perhatian kini beralih ke keputusan suku bunga Federal Reserve pada Kamis ini, di mana kemungkinan pemangkasan sebesar 25 basis poin akan menguntungkan emas.
Meski begitu, prediksi pemangkasan suku bunga jangka panjang cenderung berkurang. JPMorgan Chase & Co. memprediksi Fed akan melambat setelah pemotongan pada pertemuan berikutnya. Sementara analis Citigroup Inc. menambahkan bahwa pasar saham AS yang kuat dapat membatasi pergerakan emas dalam jangka pendek.
Logam mulia telah meningkat hampir 30% sepanjang tahun ini, didorong oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang terus berlanjut.
Sumber: Bloomberg
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
