Emas masih mengalami tekanan setelah terpukul oleh penguatan dolar AS, dengan para pedagang memperhatikan komentar hawkish dari pembuat kebijakan Federal Reserve mengenai prospek pelonggaran moneter tahun ini.
Penguatan dolar AS terus memberikan tekanan pada harga emas, karena emas dihargai dalam mata uang AS dan penguatan dolar membuatnya lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.
Komentar Neel Kashkari dari Federal Reserve Bank of Minneapolis memberikan sinyal yang lebih hawkish, dengan menyatakan kemungkinan bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada tingkat yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama dan tidak menutup kemungkinan kenaikan di masa depan. Pernyataan ini mengirimkan sinyal bahwa kebijakan moneter mungkin tidak akan menjadi begitu akomodatif seperti yang diharapkan oleh sebagian besar pasar.
Di samping itu, ketegangan di Timur Tengah juga tetap menjadi faktor yang mempengaruhi harga emas. Penyitaan perbatasan Rafah di Gaza oleh pasukan Israel meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut, dan hal ini dapat memicu permintaan untuk aset safe haven seperti emas.
Bank Sentral Tiongkok telah terus menambah cadangan emasnya selama 18 bulan berturut-turut, meskipun laju pembelian yang lebih lambat dapat mengurangi dukungan terhadap harga emas.
Meskipun demikian, emas tetap menunjukkan kekuatan dengan kenaikan sekitar 12% sepanjang tahun ini, didorong oleh permintaan yang kuat dari bank sentral dan konsumen Tiongkok serta ketegangan geopolitik di beberapa wilayah.
Harga emas saat ini sedikit berubah di sekitar $2,315.11 per ons, dengan investor terus memantau perkembangan di pasar keuangan global serta ketegangan geopolitik yang mempengaruhi harga emas.
Referensi: Bloomberg
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
