
Harga emas dunia kembali menghadapi tekanan berat pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Setelah merosot tajam pada sesi sebelumnya, emas berada di sekitar US$4.100–US$4.200 per troy ounce dan mencatat salah satu penurunan harian terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Tekanan tersebut bukan sekadar akibat aksi ambil untung. Pasar sedang menghadapi kombinasi yang kurang menguntungkan bagi emas, mulai dari lonjakan imbal hasil US Treasury, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, hingga meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve atau The Fed masih dapat menaikkan suku bunga.
Pada Senin, 28 September, harga emas spot sempat jatuh ke sekitar US$4.110 per ounce sebelum ditutup di sekitar US$4.136,81. Penurunan tersebut mencapai hampir 4% dan membawa harga emas ke level terendah dalam lebih dari tujuh pekan. Kondisi ini membuat prospek jangka pendek emas menjadi semakin kompleks. Di satu sisi, ketegangan geopolitik biasanya meningkatkan permintaan aset safe haven. Namun kali ini, efek tersebut kalah kuat dibandingkan tekanan dari pasar obligasi dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS.
Yield Treasury AS Melonjak, Daya Tarik Emas Menurun
Salah satu faktor paling dominan di balik pelemahan emas adalah kenaikan yield Treasury Amerika Serikat. Yield Treasury 10 tahun sempat mencapai sekitar 5,24%–5,27%, level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, yield Treasury 2 tahun juga mendekati 4,92%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lanjutan.
Bagi pasar emas, kenaikan yield merupakan masalah penting karena emas tidak menghasilkan bunga maupun dividen. Ketika investor bisa memperoleh imbal hasil yang semakin tinggi dari instrumen obligasi pemerintah AS, biaya peluang memegang emas menjadi lebih besar. Investor yang sebelumnya menyimpan dana dalam emas dapat mulai mempertimbangkan perpindahan modal menuju aset berbasis dolar yang memberikan yield.
Harga Emas Anjlok Hampir 4% dalam Sehari
Penurunan emas pada 28 September menunjukkan perubahan sentimen yang cukup drastis. Harga emas spot sempat menyentuh US$4.110,55 per ounce sebelum bergerak sedikit pulih dan menetap di sekitar US$4.136,81. Kontrak berjangka emas AS juga turun sekitar 3,5% dan ditutup di sekitar US$4.168,40.
MarketWatch mencatat kontrak emas berjangka turun 3,5% menjadi sekitar US$4.135,40 per ounce, sekaligus menjadi penutupan terendah sejak awal Agustus. Pada saat bersamaan, yield Treasury 2 tahun melonjak 7,7 basis poin menjadi sekitar 4,924%. Besarnya penurunan tersebut menunjukkan bahwa investor bukan hanya merespons satu faktor. Pasar sedang melakukan repricing terhadap prospek inflasi, suku bunga, dolar AS, serta pertumbuhan ekonomi. Ketika beberapa faktor tersebut bergerak ke arah yang sama, tekanan terhadap emas dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan kondisi normal.
Dolar AS Ikut Menguat dan Menambah Beban XAU/USD
Selain Treasury, dolar AS menjadi faktor penting lainnya. Emas diperdagangkan dalam denominasi dolar AS. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi permintaan global terhadap logam mulia.
Pada sesi 28 September, indeks dolar AS bergerak menguat dan berada di sekitar level 101. Penguatan dolar tersebut terjadi bersamaan dengan kenaikan yield Treasury sehingga tekanan terhadap emas menjadi berlapis. Hubungan tersebut dapat diringkas sebagai berikut:
| Faktor | Dampak terhadap emas |
|---|---|
| Yield Treasury naik | Negatif |
| Dolar AS menguat | Negatif |
| Ekspektasi kenaikan Fed | Negatif |
| Harga minyak naik | Negatif melalui inflasi |
| Ketegangan geopolitik | Positif sebagai safe haven |
| Pembelian bank sentral | Positif |
| Permintaan fisik Asia | Berpotensi menjadi penahan penurunan |
Dengan demikian, pelemahan emas saat ini bukan berarti fungsi safe haven sepenuhnya hilang. Pasar hanya sedang memberikan bobot lebih besar terhadap faktor suku bunga dan yield.
Harga Minyak Menjadi Pemicu Utama Perubahan Ekspektasi Fed
Kenaikan harga minyak menjadi bagian penting dari cerita pasar emas kali ini. Ketegangan Amerika Serikat dan Iran, khususnya menyangkut Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global. Penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal Iran untuk membuka kembali jalur tersebut dalam waktu dekat membuat risiko gangguan energi kembali diperhitungkan investor. Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi. Jika inflasi kembali bertahan tinggi, The Fed memiliki alasan lebih besar untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Pada perdagangan 28 September, Brent sempat berada di atas US$100 per barel, sementara minyak AS juga menguat sebelum akhirnya turun dari level tertinggi hariannya setelah muncul kembali harapan terhadap pembicaraan damai.
Rantai pengaruhnya terhadap emas cukup jelas:
Konflik geopolitik → risiko pasokan minyak → harga energi naik → inflasi meningkat → ekspektasi Fed hawkish → yield Treasury naik → dolar menguat → emas tertekan.
Inilah yang membedakan situasi sekarang dari pola safe haven klasik. Konflik geopolitik memang mendukung emas secara langsung, tetapi apabila konflik tersebut sekaligus menaikkan harga minyak dan inflasi, dampak tidak langsungnya justru dapat menjadi negatif bagi emas.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Kembali Menguat
Pasar kini semakin fokus pada kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed berikutnya. Setelah kenaikan suku bunga pada September, investor tidak lagi hanya memperdebatkan kapan pemangkasan suku bunga berikutnya. Fokus justru bergeser ke kemungkinan apakah bank sentral AS perlu kembali menaikkan suku bunga untuk menghadapi tekanan inflasi.
Reuters melaporkan pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 94% setelah kenaikan seperempat poin sebelumnya. Untuk pertemuan Oktober, probabilitas kenaikan juga telah meningkat secara signifikan. Data pasar lainnya menunjukkan peluang kenaikan pada pertemuan Oktober berada di kisaran 65%–70%, tergantung sumber dan waktu pengukuran. Perbedaan angka tersebut penting karena ekspektasi pasar dapat berubah cepat setelah rilis data ekonomi terbaru. Semakin besar peluang kenaikan suku bunga, semakin besar pula potensi kenaikan yield Treasury. Pada akhirnya, emas harus bersaing dengan instrumen dolar yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi.
Kebijakan The Fed Masih Menjadi Penentu Utama Harga Emas
Keputusan The Fed pada September memberikan gambaran bahwa risiko inflasi masih menjadi perhatian. Proyeksi ekonomi terbaru Federal Reserve menunjukkan inflasi PCE 2026 diperkirakan berada di sekitar 3,7%, sementara core PCE diproyeksikan sekitar 3,4%. Proyeksi tersebut masih jauh di atas target inflasi 2% dalam jangka panjang.
Kondisi ini menjelaskan mengapa pasar sulit mengasumsikan bahwa The Fed akan segera kembali ke kebijakan moneter longgar. Selama inflasi tetap tinggi, ruang bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga akan lebih terbatas. Bahkan, apabila tekanan harga kembali meningkat akibat energi, skenario kenaikan suku bunga tambahan dapat kembali menjadi perhatian utama.Bagi emas, lingkungan tersebut cenderung bearish.
PCE dan NFP Menjadi Data Penting Pekan Ini
Setelah aksi jual besar pada emas, perhatian pasar selanjutnya beralih ke data ekonomi Amerika Serikat.
Dua agenda yang paling penting adalah:
- Personal Consumption Expenditures atau PCE, khususnya indikator inflasi.
- Non-Farm Payrolls atau NFP, yang memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS.
Kedua data tersebut dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Jika PCE menunjukkan inflasi tetap tinggi dan NFP memperlihatkan pasar tenaga kerja masih kuat, pasar berpotensi meningkatkan kembali taruhan kenaikan suku bunga. Sebaliknya, jika inflasi mulai melandai dan data tenaga kerja menunjukkan pelemahan yang cukup besar, yield Treasury dapat kehilangan momentum. Dalam skenario tersebut, dolar berpotensi melemah dan emas memperoleh ruang untuk melakukan rebound.
Mengapa Konflik Geopolitik Tidak Langsung Mengangkat Emas?
Secara teori, konflik geopolitik seharusnya menguntungkan emas karena investor mencari aset safe haven. Namun, pasar saat ini menghadapi situasi yang berbeda. Ketegangan AS-Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan energi. Ketika risiko tersebut mendorong harga minyak lebih tinggi, pasar langsung menghitung dampaknya terhadap inflasi. Jika inflasi meningkat, bank sentral justru dapat menjadi lebih hawkish.
Akibatnya, terdapat dua kekuatan yang berlawanan:
Dampak langsung: Konflik meningkat → permintaan safe haven → positif untuk emas.
Dampak tidak langsung: Konflik meningkat → minyak naik → inflasi naik → Fed hawkish → yield naik → negatif untuk emas.
Untuk sementara, mekanisme kedua terlihat lebih dominan.
Posisi Spekulan dan Permintaan Emas Mulai Berubah
Tekanan terhadap emas juga terlihat dari perubahan positioning investor. Reuters melaporkan posisi net long money managers di emas turun ke level yang terakhir terlihat pada akhir Juli. Arus keluar ETF emas juga tercatat sekitar 1,6 ton pada pekan sebelumnya. Perubahan positioning tersebut penting karena kenaikan harga emas sebelumnya telah membuat banyak investor memiliki keuntungan besar. Ketika yield Treasury naik dan momentum harga emas berubah negatif, sebagian investor dapat memilih merealisasikan keuntungan. Tekanan jual seperti ini berpotensi mempercepat penurunan karena trader lain ikut mengurangi posisi ketika level teknikal penting ditembus.
Permintaan Asia Menjadi Faktor Penahan, Bukan Penggerak Utama
Meskipun tekanan finansial cukup kuat, pasar emas masih memiliki sejumlah sumber permintaan struktural. Pembelian bank sentral tetap menjadi salah satu faktor pendukung jangka menengah. Selain itu, permintaan fisik dari negara seperti China dan India dapat kembali meningkat pada periode tertentu.
Namun, dalam kondisi harga emas yang masih sangat tinggi, permintaan konsumen juga menghadapi hambatan. Reuters mencatat permintaan China melemah menjelang libur Golden Week, sementara permintaan perhiasan India diperkirakan terbatas karena harga emas yang tinggi dan tekanan terhadap pendapatan akibat kondisi monsun. Artinya, permintaan fisik belum cukup kuat untuk sepenuhnya mengimbangi tekanan dari pasar keuangan.
Level Harga Emas yang Perlu Diperhatikan
Dengan harga emas berada di sekitar US$4.100–US$4.200, perhatian pasar kini beralih pada kemampuan XAU/USD mempertahankan area psikologis tersebut. Penurunan di bawah US$4.200 menjadi sinyal penting karena level tersebut sebelumnya menjadi salah satu area perdagangan utama.
Jika tekanan berlanjut, pasar akan mengamati:
- US$4.200 sebagai area psikologis.
- US$4.100 sebagai area support penting berikutnya.
- US$4.000 sebagai support psikologis yang jauh lebih kuat.
Sebaliknya, apabila emas mampu kembali ke atas US$4.200 dan kemudian US$4.300, tekanan jual jangka pendek dapat mulai berkurang. Namun, pemulihan harga tidak otomatis berarti tren bearish selesai. Emas masih harus menghadapi yield Treasury yang sangat tinggi dan dolar AS yang relatif kuat.
Prospek Harga Emas: Rebound atau Lanjut Turun?
Untuk jangka pendek, risiko emas masih cenderung mengarah ke bawah. Kombinasi yield Treasury tinggi, dolar kuat, harga minyak mahal, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menciptakan lingkungan yang tidak ideal bagi logam mulia. Namun, penurunan tajam hampir 4% dalam satu sesi juga meningkatkan peluang terjadinya technical rebound.
Rebound dapat terjadi apabila:
- Yield Treasury mulai turun.
- Dolar AS kehilangan momentum.
- Harga minyak kembali terkoreksi.
- Data PCE lebih rendah dari perkiraan.
- NFP menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja.
- Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berkurang.
- Ketegangan AS-Iran kembali mereda.
Sebaliknya, tekanan bearish dapat berlanjut jika:
- Yield Treasury 10 tahun bertahan di atas 5%.
- Dolar kembali menguat.
- Harga minyak naik akibat gangguan Selat Hormuz.
- Inflasi AS tetap tinggi.
- Data tenaga kerja tetap kuat.
- Pasar meningkatkan taruhan kenaikan suku bunga Oktober atau Desember.
- Investor terus mengurangi posisi long emas.
Skenario Harga Emas di Tengah Yield Treasury Tinggi
| Skenario | Yield Treasury | Dolar AS | The Fed | Dampak ke Emas |
|---|---|---|---|---|
| Bullish | Turun | Melemah | Lebih dovish | Positif |
| Netral | Stabil | Stabil | Menunggu data | Konsolidasi |
| Bearish | Naik | Menguat | Lebih hawkish | Negatif |
| Bearish ekstrem | Melonjak | Menguat tajam | Potensi kenaikan suku bunga | Tekanan jual kuat |
Skenario bearish masih menjadi risiko utama selama pasar belum melihat tanda-tanda jelas bahwa tekanan inflasi mulai mereda.
Emas Masih Memiliki Fundamental Jangka Panjang
Pelemahan jangka pendek tidak serta-merta menghilangkan alasan fundamental bagi investor untuk memiliki emas. Salah satu pendukung jangka panjang adalah pembelian oleh bank sentral. Selain itu, tingginya beban utang pemerintah AS dan ketidakpastian geopolitik dapat tetap menjadi faktor pendukung terhadap permintaan emas dalam horizon yang lebih panjang.
Karena itu, perlu dibedakan antara tren jangka pendek akibat kebijakan moneter dan tesis investasi emas jangka panjang. Dalam jangka pendek, yield Treasury menjadi lawan utama emas. Dalam jangka panjang, ketidakpastian fiskal, diversifikasi cadangan devisa, risiko geopolitik, serta kebutuhan perlindungan terhadap risiko sistem keuangan masih dapat memberikan dukungan.
Kesimpulan: Yield Treasury Menjadi Ancaman Terbesar bagi Emas
Harga emas memasuki fase yang jauh lebih menantang setelah anjlok hampir 4% pada perdagangan 28 September dan menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh pekan.
Tekanan utama datang dari melonjaknya yield Treasury AS, penguatan dolar, serta meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed masih dapat menaikkan suku bunga untuk menghadapi tekanan inflasi. Yield Treasury 10 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak 2007, sementara yield tenor dua tahun juga naik tajam.
Kenaikan harga minyak akibat ketegangan AS-Iran dan risiko Selat Hormuz memperumit situasi. Konflik geopolitik memang memberikan dukungan safe haven bagi emas, tetapi dampaknya terhadap harga energi justru meningkatkan risiko inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat.
Dengan demikian, arah emas dalam beberapa sesi mendatang akan sangat bergantung pada tiga indikator utama: yield Treasury AS, dolar AS, dan ekspektasi suku bunga The Fed.
Pasar selanjutnya akan mencermati data PCE dan NFP. Jika inflasi serta pasar tenaga kerja tetap kuat, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut. Sebaliknya, pelemahan data ekonomi yang cukup signifikan dapat membuka ruang bagi yield dan dolar untuk terkoreksi, sehingga emas berpeluang melakukan rebound.
Untuk saat ini, US$4.200 menjadi area yang perlu diperhatikan, sementara kemampuan emas mempertahankan zona US$4.100 akan menjadi ujian penting bagi sentimen pasar. Selama yield Treasury tetap tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga belum mereda, ruang pemulihan emas kemungkinan masih terbatas.
