Harga Minyak Naik Hari Keempat: Ketegangan AS-Iran dan Selat Hormuz Menahan Harga Minyak di Atas US$90

Harga minyak mentah kembali menguat pada Rabu, 19 Agustus 2026, memperpanjang kenaikan untuk hari keempat berturut-turut. Pasar energi global masih menghadapi ketidakpastian tinggi akibat kebuntuan hubungan Amerika Serikat dan Iran, sementara status pelayaran melalui Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Pada perdagangan awal 19 Agustus, kontrak Brent naik sekitar 26 sen atau 0,29% menjadi US$91,28 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 37 sen menjadi US$85,31 per barel. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa risiko gangguan pasokan masih memperoleh premi dalam harga minyak global.

Sehari sebelumnya, Brent ditutup pada US$91,02 per barel, naik 0,17%, sementara WTI berakhir di US$84,94 per barel, naik 0,52%. Kedua benchmark tersebut mencapai level penutupan tertinggi dalam lebih dari tiga minggu. Kondisi ini membuat perhatian pasar kembali terpusat pada tiga faktor utama: ketegangan AS-Iran, keamanan Selat Hormuz, dan kemampuan pasar minyak global mengompensasi gangguan pasokan melalui jalur alternatif.

Harga Minyak Brent dan WTI Kembali Menguat

Pergerakan terbaru memperlihatkan bahwa minyak mentah memasuki fase penguatan yang didorong terutama oleh risiko geopolitik.

IndikatorPergerakan 19 Agustus 2026
Brent crudeUS$91,28/barel
Perubahan Brent+US$0,26 atau +0,29%
WTI crudeUS$85,31/barel
Perubahan WTI+US$0,37
TrenKenaikan hari keempat

Angka tersebut merupakan perdagangan awal dan dapat berubah sepanjang sesi. Namun, arah pergerakannya penting karena harga Brent telah kembali menembus area US$90 per barel setelah sempat bergerak lebih rendah ketika pasar mengantisipasi kemajuan diplomatik antara Washington dan Teheran. Kenaikan harga minyak tidak semata-mata mencerminkan perubahan fundamental konsumsi. Pasar sedang memberikan geopolitical risk premium, yaitu premi tambahan yang muncul ketika investor memperkirakan kemungkinan gangguan produksi, transportasi, ekspor, atau distribusi energi meningkat.

Ketegangan AS-Iran Menjadi Penggerak Utama Harga Minyak

Salah satu pemicu utama penguatan minyak adalah semakin tipisnya harapan terhadap kesepakatan damai jangka pendek antara Amerika Serikat dan Iran. Pada 18 Agustus, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tidak terdapat pembicaraan damai yang sedang berlangsung maupun yang direncanakan dengan Iran. Di sisi lain, Teheran mempertahankan tuntutan terkait sanksi, aset yang dibekukan, dan penghentian operasi militer AS sebagai bagian dari syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Iran juga mengambil sikap yang lebih ofensif setelah berakhirnya kesepakatan gencatan senjata sementara. Perubahan sikap tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan transportasi energi tidak akan segera berakhir. Bagi pasar minyak, persoalannya bukan hanya apakah konflik AS-Iran kembali meningkat. Yang jauh lebih penting adalah berapa lama gangguan terhadap rantai pasokan energi dapat berlangsung.

Jika pasar memperkirakan gangguan hanya berlangsung beberapa hari, dampaknya terhadap harga biasanya lebih terbatas. Namun, jika risiko tersebut berubah menjadi gangguan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, perusahaan perdagangan minyak, penyulingan, perusahaan pelayaran, dan konsumen energi harus menyesuaikan persediaan serta jalur distribusi mereka.

Selat Hormuz Menjadi Titik Paling Sensitif bagi Pasar Energi

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz mencapai rata-rata sekitar 20,9 juta barel per hari pada paruh pertama 2025, setara sekitar seperlima konsumsi petroleum liquids dunia dan sekitar seperempat perdagangan minyak melalui laut global.

Besarnya volume tersebut menjelaskan mengapa setiap ancaman terhadap keamanan pelayaran di kawasan ini langsung tercermin dalam harga minyak. Pada kuartal pertama 2026, data EIA menunjukkan volume minyak yang melewati Hormuz telah turun menjadi sekitar 14,6 juta barel per hari, jauh di bawah rata-rata kuartal sebelumnya. Angka tersebut memperlihatkan bagaimana gangguan geopolitik dapat mengubah pola perdagangan minyak secara signifikan.

Masalahnya, jalur alternatif tidak memiliki kapasitas yang sama. EIA memperkirakan jaringan pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang dapat melewati Selat Hormuz memiliki kapasitas sekitar 4,7 juta barel per hari. Kapasitas tersebut hanya sebagian kecil dari volume minyak yang secara historis melewati selat tersebut.

Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?

Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini menjadi pintu keluar bagi minyak dari sejumlah produsen energi utama di kawasan Teluk. Karena itu, gangguan di Hormuz memiliki efek yang berbeda dengan gangguan pada satu fasilitas produksi.

Gangguan produksi dapat dikompensasi melalui produksi dari negara lain. Namun, ketika masalah terjadi pada koridor transportasi, minyak yang sudah diproduksi pun dapat mengalami kesulitan untuk mencapai konsumen. Dengan kata lain, persoalan yang dihadapi pasar bukan hanya berapa banyak minyak yang tersedia, tetapi juga berapa banyak minyak yang dapat dikirim secara aman ke pasar global.

Serangan terhadap Kapal Memperbesar Premi Risiko

Kekhawatiran pasar juga meningkat setelah muncul sejumlah insiden yang berkaitan dengan kapal dan keamanan pelayaran. Pada 14 Agustus, harga minyak naik lebih dari US$1 per barel setelah serangan terhadap kapal tanker dan minimnya kemajuan menuju kesepakatan damai AS-Iran. Amerika Serikat juga menyatakan dapat mempertahankan blokade terhadap Iran untuk jangka waktu yang tidak terbatas, sementara lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap sangat terbatas.

Perkembangan terbaru kembali memperlihatkan tingginya risiko keamanan maritim. Laporan pada 19 Agustus menyebutkan adanya peluncuran rudal Iran ke arah Selat Hormuz dan insiden terhadap sebuah kapal kargo di kawasan tersebut. Bagi perusahaan pelayaran dan pemilik kapal tanker, risiko tersebut dapat meningkatkan biaya asuransi, mengubah rute perjalanan, memperpanjang waktu pengiriman, serta meningkatkan biaya pengangkutan. Seluruh biaya tambahan tersebut pada akhirnya dapat tercermin dalam harga minyak dan produk olahan.

Mengapa Harga Minyak Tidak Langsung Menembus Jauh Lebih Tinggi?

Meskipun risiko geopolitik meningkat, harga minyak belum otomatis melonjak tanpa batas. Pasar global memiliki sejumlah mekanisme penyangga.

Pertama, sebagian produsen dapat meningkatkan atau mengalihkan produksi.

Kedua, sejumlah minyak dapat dikirim melalui jaringan pipa dan jalur alternatif.

Ketiga, persediaan minyak memberikan bantalan sementara ketika pasokan laut terganggu.

Keempat, harga yang tinggi sendiri dapat mengurangi konsumsi. Konsumen dan perusahaan akan berusaha menghemat bahan bakar ketika harga energi meningkat, sehingga sebagian tekanan permintaan dapat mengimbangi gangguan pasokan.

Faktor permintaan menjadi semakin penting karena pasar minyak global tidak hanya menghadapi risiko pasokan, tetapi juga perlambatan konsumsi.

Permintaan Minyak Global Menjadi Faktor Penahan Kenaikan

Tekanan geopolitik memang mendukung harga minyak, tetapi fundamental permintaan memberikan faktor penyeimbang. Salah satu analisis pasar terbaru mencatat bahwa International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak global 2026 mengalami kontraksi sekitar 1,6 juta barel per hari, lebih buruk dibandingkan perkiraan sebelumnya. Harga bahan bakar yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah menjadi bagian dari penyebab melemahnya konsumsi. Artinya, pasar minyak sedang menghadapi dua kekuatan yang berlawanan.

Di sisi pasokan: risiko geopolitik, keamanan kapal, dan Selat Hormuz memberikan tekanan naik.

Di sisi permintaan: harga energi yang tinggi dan perlambatan ekonomi memberikan tekanan turun.

Pertarungan antara kedua faktor inilah yang membuat pergerakan minyak menjadi sangat sensitif terhadap berita diplomatik dan keamanan.

Persediaan Minyak Menjadi Penyangga Pasar

Persediaan global juga menentukan seberapa besar dampak gangguan pasokan terhadap harga. Jika persediaan berada pada tingkat tinggi, pasar dapat menggunakan stok yang tersedia untuk menutup kekurangan sementara. Dampaknya, kenaikan harga dapat lebih terkendali. Sebaliknya, jika persediaan rendah, gangguan transportasi yang relatif kecil sekalipun dapat memicu kenaikan harga lebih besar. Laporan pasar terbaru menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika Serikat sempat mengalami kenaikan besar, yang menjadi salah satu alasan mengapa harga minyak tidak sepenuhnya mengikuti eskalasi geopolitik.Namun, persediaan tidak dapat menggantikan arus pasokan secara permanen. Jika gangguan Hormuz berlangsung lama, pasar pada akhirnya harus menilai kembali kemampuan stok global untuk menutupi kekurangan tersebut.

Dampak terhadap Harga Bensin dan Produk BBM

Kenaikan harga minyak mentah tidak selalu diteruskan dengan besaran yang sama kepada konsumen. Harga bensin dan diesel dipengaruhi oleh lebih banyak komponen, termasuk biaya pengolahan, distribusi, pajak, nilai tukar, serta margin kilang.

Dalam kondisi gangguan geopolitik, bahkan ketika harga minyak mentah relatif stabil, harga produk olahan dapat bergerak lebih cepat apabila kapasitas pengolahan atau distribusinya terbatas.

Kondisi ini penting karena konsumen tidak membeli Brent atau WTI secara langsung. Konsumen membeli bensin, solar, avtur, LPG, dan produk energi lainnya.

Karena itu, indikator yang perlu diperhatikan bukan hanya harga minyak mentah, tetapi juga harga produk olahan dan crack spread.

Dampak Kenaikan Harga Minyak terhadap Inflasi

Harga minyak memiliki hubungan erat dengan inflasi melalui beberapa saluran.

Kenaikan harga minyak meningkatkan biaya bahan bakar. Biaya tersebut kemudian memengaruhi:

  • transportasi darat;
  • pelayaran;
  • penerbangan;
  • logistik;
  • produksi industri;
  • distribusi barang;
  • biaya pertanian;
  • kemasan dan petrokimia;
  • serta biaya operasional perusahaan.

Efek tersebut dapat menciptakan tekanan inflasi langsung dan tidak langsung. Tekanan inflasi juga menjadi perhatian pasar keuangan karena bank sentral dapat mempertimbangkan kembali kebijakan suku bunga ketika harga energi meningkat secara persisten.

Ketegangan geopolitik dengan demikian tidak lagi hanya menjadi persoalan komoditas. Dampaknya dapat merambat ke obligasi, saham, mata uang, suku bunga, dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi.

Pasar Keuangan Mulai Merespons Risiko Energi

Kenaikan harga minyak berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kehati-hatian di pasar keuangan global. Pada 18 Agustus, indeks saham AS mengalami tekanan, sementara imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang meningkat. Reuters melaporkan bahwa yield Treasury 30 tahun sempat mencapai sekitar 5,337%, level tertinggi sejak 2007, sebelum kemudian turun.

Kombinasi minyak yang mahal dan imbal hasil obligasi yang tinggi menjadi tantangan bagi aset berisiko.

Jika harga energi terus meningkat, pasar dapat kembali mengkhawatirkan inflasi. Namun, jika kenaikan harga minyak sekaligus menekan konsumsi dan pertumbuhan ekonomi, risiko yang muncul dapat berubah menjadi stagflasi, yaitu kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lemah.

Apa yang Harus Dipantau Investor Minyak?

Kami melihat setidaknya enam indikator utama yang perlu diperhatikan dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya.

1. Perkembangan Diplomasi AS-Iran

Setiap sinyal negosiasi yang kredibel dapat menurunkan premi risiko geopolitik.

Sebaliknya, pernyataan yang mengindikasikan konflik berkepanjangan dapat mendorong harga Brent dan WTI kembali menguat.

2. Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz

Ini merupakan indikator fisik yang sangat penting.

Pernyataan pemerintah dapat berubah dengan cepat, sedangkan jumlah kapal yang benar-benar melewati selat memberikan gambaran lebih konkret mengenai kondisi perdagangan energi.

3. Serangan terhadap Kapal Tanker

Setiap insiden baru dapat meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi.

Jika serangan terjadi berulang kali, perusahaan pelayaran dapat mengurangi aktivitas atau mengalihkan kapal, sehingga kapasitas efektif perdagangan minyak semakin rendah.

4. Produksi OPEC+

Kemampuan produsen OPEC+ meningkatkan pasokan menjadi faktor penting untuk menentukan seberapa besar gangguan geopolitik dapat dikompensasi.

5. Persediaan Minyak Amerika Serikat

Data persediaan AS menjadi salah satu indikator jangka pendek yang banyak diperhatikan karena memberikan petunjuk mengenai keseimbangan pasokan dan permintaan.

6. Permintaan Global

Jika permintaan turun lebih cepat daripada pasokan, kenaikan harga dapat kehilangan momentum meskipun ketegangan geopolitik tetap tinggi.

Skenario Harga Minyak: Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya?

Kami melihat tiga skenario utama untuk pasar minyak.

Skenario Bullish: Gangguan Hormuz Berkepanjangan

Jika Selat Hormuz tetap sulit dilalui dan serangan terhadap kapal meningkat, pasar dapat memperbesar premi risiko. Dalam skenario ini, Brent berpotensi mempertahankan posisi di atas US$90 dan menguji level yang lebih tinggi apabila gangguan fisik terhadap ekspor semakin besar. Risikonya akan semakin tinggi apabila gangguan tersebut mengenai fasilitas produksi atau terminal ekspor utama.

Skenario Netral: Ketegangan Tinggi tetapi Arus Minyak Tetap Berjalan

Ini merupakan kondisi ketika konflik tetap berlangsung tetapi perusahaan pelayaran berhasil mempertahankan sebagian besar aktivitas. Harga minyak dapat bertahan pada level tinggi, tetapi kenaikannya cenderung dibatasi oleh persediaan dan lemahnya permintaan. Dalam skenario ini, pasar akan sangat sensitif terhadap setiap berita baru.

Skenario Bearish: Kesepakatan Diplomatik Tercapai

Jika Washington dan Teheran mencapai kesepakatan yang kredibel dan lalu lintas melalui Hormuz kembali normal, premi risiko geopolitik dapat menghilang dengan cepat.

Harga minyak berpotensi turun karena pasar kembali memfokuskan perhatian pada persediaan, produksi, dan permintaan global. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa hanya perubahan ekspektasi diplomatik dapat menyebabkan pergerakan harga minyak yang besar dalam waktu singkat. Pada 3 Agustus, misalnya, Brent sempat turun lebih dari 5% setelah muncul harapan bahwa pembicaraan damai AS-Iran akan dilanjutkan.

Risiko Terbesar Bukan Sekadar Harga Minyak, tetapi Durasi Gangguan

Pasar minyak dapat menoleransi gangguan jangka pendek karena memiliki persediaan, produksi alternatif, dan mekanisme perdagangan global.

Persoalannya berubah ketika gangguan berlangsung terlalu lama.

Semakin panjang gangguan, semakin besar kemungkinan perusahaan harus mengubah rute pengiriman, menggunakan persediaan strategis, mencari pemasok alternatif, dan membayar biaya logistik yang lebih tinggi.

Karena itu, durasi gangguan Selat Hormuz menjadi variabel yang sama pentingnya dengan intensitas konflik.

Pasar tidak hanya bertanya, “Apakah Hormuz terganggu?”

Pasar juga bertanya, “Berapa lama gangguan tersebut akan berlangsung?”

Mengapa Brent Menjadi Indikator Utama?

Brent merupakan benchmark penting bagi perdagangan minyak internasional. Karena itu, ketika risiko geopolitik terjadi di kawasan Timur Tengah, pergerakan Brent biasanya menjadi indikator utama perubahan persepsi pasar global.

WTI tetap penting, terutama untuk pasar Amerika Serikat, tetapi perbedaan lokasi dan karakteristik fisik membuat respons kedua benchmark tidak selalu identik.

Pergerakan Brent menuju US$91 per barel menunjukkan bahwa pasar internasional sedang memberikan nilai yang cukup besar terhadap risiko gangguan pasokan.

Prospek Jangka Pendek Harga Minyak

Dalam jangka pendek, kami memperkirakan volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar.

Selama belum terdapat penyelesaian diplomatik yang meyakinkan dan arus kapal melalui Selat Hormuz belum kembali normal, setiap berita mengenai keamanan pelayaran dapat memicu perubahan harga secara cepat.

Pada saat yang sama, kenaikan harga akan menghadapi batas fundamental dari sisi permintaan.

Inilah sebabnya pasar dapat bergerak dalam dua arah dengan cepat: berita eskalasi mendorong harga naik, sedangkan berita diplomatik atau indikasi pelemahan permintaan dapat memicu koreksi tajam.

Data terbaru menunjukkan Brent berada di sekitar US$91 dan WTI sekitar US$85 pada awal perdagangan 19 Agustus.

Kesimpulan: Harga Minyak Masih Ditopang Risiko Geopolitik

Kenaikan harga minyak untuk hari keempat berturut-turut mencerminkan meningkatnya kembali kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

Brent berada di sekitar US$91 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$85 per barel pada perdagangan awal 19 Agustus 2026.

Pendorong utamanya adalah kombinasi antara kebuntuan diplomasi AS-Iran, ketidakpastian status Selat Hormuz, ancaman terhadap kapal, dan risiko gangguan ekspor minyak.

Namun, kenaikan harga tidak berlangsung dalam ruang hampa. Persediaan, kemampuan produsen alternatif meningkatkan pasokan, dan terutama melemahnya permintaan global menjadi faktor yang dapat membatasi reli minyak.

Dengan demikian, arah harga minyak berikutnya sangat bergantung pada satu pertanyaan utama: apakah risiko gangguan di Selat Hormuz akan mereda atau justru berkembang menjadi gangguan pasokan global yang berkepanjangan?

Selama jawaban atas pertanyaan tersebut belum jelas, Brent dan WTI kemungkinan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan dari Washington, Teheran, dan jalur pelayaran utama di kawasan Teluk.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.