๐๏ธ Proyek Strategis yang Kembali Jadi Sorotan
Proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh kembali menyita perhatian publik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN tidak akan digunakan untuk membayar utang proyek strategis ini.
Ia menegaskan bahwa posisi pemerintah tetap jelas dan tegas dalam hal pembiayaan. Selama struktur pembayaran tertata dan transparan, pihak pemberi pinjaman seperti China Development Bank (CDB) tidak akan mempermasalahkan.
๐ Studi Lanjutan dan Sikap Pemerintah
Saat ini, pihak Whoosh masih melakukan studi lanjutan terkait skema pembiayaan. Setelah hasilnya rampung, mereka akan menyerahkan usulan resmi kepada pemerintah.
Menurut Purbaya, Danantara, sebagai pengelola dana investasi BUMN, sebenarnya memiliki kemampuan untuk menutup sebagian kewajiban kereta cepat โ mencapai Rp2 triliun per tahun dari potensi dividen BUMN sebesar Rp90 triliun.
Namun, Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menolak tegas penggunaan dividen tersebut untuk membayar utang.
โNggak ada buat bayar utang, ini semuanya untuk investasi,โ ujarnya.
๐ฆ Upaya Danantara dan KAI Mencari Solusi
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) kini tengah berupaya mencari solusi atas utang besar yang ditanggung PT KAI (Persero) akibat proyek Whoosh.
Menurut COO Danantara Dony Oskaria, salah satu opsi yang sedang dikaji adalah suntikan modal (equity injection) karena beban pinjaman proyek sangat besar.
Meskipun secara operasional KAI mencatatkan EBITDA positif, nilai ekuitas perusahaan masih jauh di bawah total pinjaman. Alternatif lain adalah menjadikan sebagian infrastruktur KCIC sebagai aset negara, mirip dengan skema Badan Layanan Umum (BLU).
๐ฐ Berapa Total Utang Proyek Whoosh?
๐ Pembengkakan Biaya Hingga Rp120 Triliun
Mengutip laporan keuangan KCIC tahun 2022 yang diaudit RSM, total biaya proyek mencapai US$7,26 miliar atau sekitar Rp119,79 triliun (kurs Rp16.500/US$).
Angka ini sudah termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar US$1,21 miliar (Rp19,96 triliun) dari rencana awal US$6,05 miliar (Rp99,82 triliun).
Mayoritas dana proyek bersumber dari pinjaman CDB dengan bunga 3,3% dan tenor hingga 45 tahun.
๐ Skema Pembiayaan: 75% Utang, 25% Ekuitas
Proyek KCIC didanai dengan skema business-to-business (B2B), di mana 75% modal berasal dari pinjaman luar negeri (CDB) dan 25% dari ekuitas pemegang saham.
Komposisi kepemilikan saham:
- Konsorsium BUMN (PSBI) โ 60%
- Beijing Yawan HSR Co. Ltd (China) โ 40%
Rinciannya:
- KAI (Persero): 58,53%
- Wijaya Karya (Persero) Tbk: 33,36%
- Jasa Marga (Persero) Tbk: 7,08%
- Perkebunan Nusantara I: 1,03%
๐ Detail Pinjaman Terbaru PSBI ke CDB
Berdasarkan laporan keuangan PT KAI per 30 Juni 2025, fasilitas pinjaman PSBI terdiri dari:
- Fasilitas A: Pinjaman berjangka USD US$325,62 juta, bunga 3,3%
- Fasilitas B: Pinjaman berjangka RMB (Yuan) US$217,08 juta, bunga 3,2%
Total pinjaman PSBI mencapai US$542,7 juta (Rp8,96 triliun) โ merupakan bagian dari cost overrun proyek.
Dari total cost overrun US$1,21 miliar, porsi PSBI (60%) adalah US$726 juta, dengan 25% dipenuhi lewat penyertaan modal negara (PMN).
๐จ๐ณ Dua Fasilitas Utama dari China Development Bank
Menurut laporan AidData, CDB memberikan dua fasilitas pinjaman besar:
- US$2,74 miliar (denominasi dolar AS)
- Tenor: 40 tahun
- Masa tenggang: 10 tahun
- Bunga: 2%
- Tanpa jaminan negara (non-sovereign guarantee)
- US$1,83 miliar (denominasi RMB)
- Tenor: 40 tahun
- Masa tenggang: 10 tahun
- Bunga: 3,46%
- Tanpa jaminan negara
๐ Total Utang Konsorsium dan Beban Bunga
Jika mengikuti komposisi kepemilikan dan skema 75:25, total utang konsorsium PSBI mencapai sekitar Rp54 triliun.
Beban bunga tahunan diperkirakan US$74,5 juta atau setara Rp1,2 triliun per tahun.
โ ๏ธ Kondisi Keuangan PSBI Masih Tertekan
Per Juni 2025, PSBI mencatat:
- Total Aset: Rp27,39 triliun
- Total Kewajiban: Rp18,93 triliun
- Kerugian Bersih: Rp1,62 triliun (Rp951,48 miliar diatribusikan ke KAI)
Meski kerugian ini turun dari Rp4,19 triliun pada 2024, kondisi keuangan masih belum pulih sepenuhnya.
Selain itu, sinking fund proyek Whoosh juga menurun dari Rp1,73 triliun (2024) menjadi Rp1,38 triliun (2025).
๐ Kesimpulan: Dampak ke Pasar dan Strategi Investasi
Kasus utang Kereta Cepat Whoosh menjadi pelajaran penting bagi investor dan pelaku pasar modal bahwa struktur pembiayaan proyek infrastruktur berisiko tinggi jika tidak dikelola transparan dan berimbang.
Stabilitas fiskal pemerintah memang tidak langsung terpengaruh karena proyek ini bersifat B2B, namun implikasinya terhadap BUMN dan portofolio investasi negara tetap perlu diawasi ketat.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka โ Kvn
