Danantara Buka Peluang Masuk ke Proyek INCO
Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai melirik peluang investasi di proyek milik PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Direktur dan Chief Project Officer Vale Indonesia, Muhammad Asril, mengungkapkan bahwa Danantara tengah menjajaki kemungkinan untuk bergabung pada tiga proyek smelter High Pressure Acid Leach (HPAL).
Tiga Lokasi Strategis Proyek HPAL
Smelter HPAL Vale Indonesia dirancang menghasilkan bahan baku baterai kendaraan listrik, dengan pembangunan di tiga lokasi:
- Pomalaa, Sulawesi Tenggara – dikerjakan bersama Huayou dan Ford Motors.
- Morowali, Sulawesi Tengah.
- Sorowako, Sulawesi Selatan.
Proyek ini menjadi bagian penting dari rantai pasok kendaraan listrik global, seiring dorongan transisi energi.
Vale Indonesia Terbuka untuk Investor Baru
Asril menekankan bahwa Vale Indonesia masih terbuka untuk kehadiran investor lain, selain mitra yang sudah ada.
“Tentu saja untuk shareholders, ada perjanjian definitif dengan partner kami. Namun tidak menutup kemungkinan partisipasi investor baru dalam pengembangan tiga proyek tersebut,” ujarnya.
Kompetitivitas Proyek HPAL
Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernadus Irmanto, menegaskan proyek HPAL yang digarap INCO cukup kompetitif di pasar nikel domestik.
Ia menyebut, pengalaman dari smelter HPAL sebelumnya menjadi pelajaran berharga bagi Vale untuk memperbaiki kualitas proyek yang sedang dibangun.
“Beberapa best practices dan bahkan pengalaman kegagalan pabrik HPAL sebelumnya menjadi modal kami untuk meningkatkan kualitas proyek HPAL,” kata Irmanto.
Dampak bagi Pasar & Investor
- Potensi Kolaborasi: Masuknya Danantara akan memperkuat pendanaan, mempercepat pengembangan proyek, serta meningkatkan valuasi INCO di mata investor.
- Sektor Nikel: Proyek HPAL semakin menegaskan peran Indonesia sebagai pemain utama rantai pasok baterai EV dunia.
- Peluang Investasi: Investor pasar modal perlu mencermati saham INCO, karena keterlibatan BPI dapat menjadi sentimen positif jangka menengah.
- Risiko: Proyek besar berbasis teknologi HPAL membutuhkan modal jumbo, sehingga ada risiko biaya membengkak dan ketergantungan pada harga nikel global.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
