Kondisi kredit pemilikan rumah (KPR) di Indonesia semakin memprihatinkan. Non Performing Loan (NPL) KPR per Mei 2025 tercatat sebesar 3,24%, tertinggi dalam empat tahun terakhir, bahkan melebihi puncak pandemi Covid-19 akhir 2020 yang sebesar 2,78%. Ini tercantum dalam Statistik Sistem Keuangan Indonesia yang dirilis Bank Indonesia (BI).
Bank BTN Akui Terjadi Penurunan Kualitas Kredit
Sebagai bank spesialis perumahan, PT Bank Tabungan Negara (BBTN) turut merasakan dampak perburukan ini. Direktur Manajemen Risiko BTN, Setiyo Wibowo, menyebutkan bahwa NPL KPR BTN per Juni 2025 mencapai 3,21%.
Ia menyebutkan segmen menengah ke bawah mengalami tekanan akibat:
- Penurunan PDB
- Peningkatan PHK
- Melemahnya konsumsi rumah tangga
BTN Lakukan Langkah Mitigasi Risiko Kredit
BTN kini tengah melakukan penyesuaian strategis untuk menekan lonjakan NPL dengan cara:
- Revisi portfolio guideline dan risk acceptance criteria
- Pemanfaatan teknologi Gen AI untuk penguatan proses underwriting
- Fokus pada segmen nasabah payroll, eksisting, dan sektor usaha sehat
- Penguatan tim collection dan recovery
BCA Juga Alami Kenaikan NPL Kredit Properti
Bank swasta terbesar di Indonesia, PT Bank Central Asia (BBCA), melaporkan bahwa NPL KPR mereka naik menjadi 1,54% per Maret 2025, dari sebelumnya 1,28% pada akhir 2024. Hal ini disampaikan oleh Welly Yandoko, EVP Consumer Loan BCA.
BCA Terapkan Strategi Prudensial dan Pemantauan Ketat
Untuk menjaga kualitas kredit, BCA melakukan:
- Analisis mendalam terhadap calon debitur
- Know Your Customer (KYC) yang diperkuat
- Penilaian menyeluruh terhadap lokasi dan nilai properti
- Monitoring kredit bermasalah dan tindakan cepat penanganan
Pertumbuhan KPR Melambat Sepanjang 2025
Ironisnya, lonjakan kredit macet ini terjadi saat pertumbuhan KPR justru melambat tajam:
- Januari: 11,51% (YoY)
- Februari: 11,49%
- Maret: 9,28%
- April: 8,67%
- Mei: 8,15%
Sementara NPL justru konsisten naik setiap bulan, mencerminkan tumbuhnya risiko kredit di tengah perlambatan permintaan.
Implikasi Terhadap Strategi Investasi
Bagi pelaku pasar, lonjakan NPL KPR menandakan risiko sistemik yang harus diwaspadai, terutama di sektor properti dan keuangan. Investor disarankan:
- Memantau eksposur perbankan terhadap kredit perumahan
- Menghindari sektor yang bergantung pada pembiayaan konsumer jangka panjang
- Menyasar emiten dengan manajemen risiko kuat dan portofolio kredit sehat
Kesimpulan: Ketidakstabilan kualitas kredit menjadi perhatian utama pasar keuangan saat ini. Ketajaman dalam membaca arah makroekonomi dan respons korporasi menjadi kunci dalam menyusun strategi investasi ke depan.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
