PT Rifan Financindo Berjangka – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan sinyal kuat bahwa suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) akan kembali diturunkan dalam waktu dekat. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Kamis, 3 Juli 2025, saat membahas Asumsi Dasar Ekonomi RAPBN 2026.
Kebijakan Moneter Pro-Growth: BI All Out Dorong Pertumbuhan
Dalam paparannya, Perry menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional melalui pelonggaran kebijakan moneter. “Kita sudah turunkan suku bunga dua kali dan akan turunkan lagi,” ujarnya di hadapan anggota dewan.
Langkah ini mencerminkan sikap akomodatif BI di tengah situasi global yang masih dibayangi ketidakpastian. Kebijakan ini juga diharapkan bisa mendorong permintaan domestik, khususnya konsumsi dan investasi.
Dua Kali Penurunan Suku Bunga Sepanjang 2025
Bank Indonesia sebelumnya telah menurunkan BI rate dua kali sepanjang tahun ini:
- 15 Januari 2025: Turun 25 basis poin dari 6% ke 5,75%
- 21 Mei 2025: Turun lagi 25 basis poin ke 5,5%
Kedua penyesuaian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan tren inflasi yang terkendali serta kebutuhan stimulus tambahan bagi perekonomian.
Inflasi Terkendali, Ruang Pelonggaran Masih Terbuka
Perry menambahkan bahwa inflasi yang tetap rendah memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk terus menurunkan suku bunga. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi BI dalam mendukung stabilitas makroekonomi dan memperkuat fundamental ekonomi nasional.
Dampak Terhadap Pasar dan Investasi
Bagi pelaku pasar dan investor, sinyal penurunan suku bunga menjadi indikator positif. Likuiditas yang lebih longgar akan meningkatkan daya beli, mempercepat kredit, dan mendongkrak aktivitas bisnis. Di sisi lain, penurunan yield acuan bisa mendorong arus dana ke aset yang lebih berisiko seperti saham, obligasi korporasi, atau properti.
Investor disarankan untuk mulai memetakan portofolio menghadapi tren pelonggaran ini dan bersiap mengambil peluang di sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga rendah.
Kesimpulan:
Dengan nada dovish dari Gubernur BI, pelaku pasar kini menanti keputusan RDG selanjutnya. Jika BI benar-benar kembali menurunkan suku bunga, maka ini bisa menjadi katalis positif lanjutan bagi pemulihan ekonomi dan penguatan pasar finansial Indonesia.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
