Harga emas kembali menguat untuk hari keempat berturut-turut. Investor bereaksi terhadap lemahnya hasil lelang obligasi pemerintah AS, yang memperkuat kekhawatiran pasar atas defisit fiskal dan kebijakan pemotongan pajak Presiden Donald Trump.
📉 Lelang Obligasi Lemah, Investor Beralih ke Safe Haven
Pada hari Rabu, lelang obligasi 20 tahun senilai $16 miliar gagal menarik minat pasar. Kondisi ini mempertegas kekhawatiran bahwa rencana pemotongan pajak Trump dapat memperbesar defisit fiskal secara signifikan — saat minat global terhadap aset AS tengah melemah.
Sebagai respons:
- Imbal hasil Treasury AS jangka panjang naik mendekati level tertinggi dalam dua dekade
- Dolar AS melemah
- Permintaan terhadap emas dan aset safe haven seperti yen dan franc Swiss meningkat
🟡 Emas Naik, Fokus Bergeser ke Risiko Struktural
Harga emas naik tipis ke sekitar $3.325 per ons dalam perdagangan awal Asia. Hingga pukul 08:42 pagi waktu Singapura, emas naik 0,2% ke $3.322,63 per ons, memperpanjang kenaikannya hampir 4% sepanjang minggu ini.
Setelah sempat melemah akibat faktor tarif dan ketegangan geopolitik, kini fokus investor mulai bergeser ke risiko fiskal jangka panjang ekonomi AS — yang turut mendorong harga emas.
📊 Kinerja Logam Lain dan Dolar AS
- Indeks Spot Dolar Bloomberg turun 0,1%, mendukung logam mulia
- Perak dan paladium naik tipis
- Platinum justru melemah sedikit
Sepanjang 2025, harga emas telah melonjak lebih dari 25%, dan tetap menjadi aset pilihan di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global.
Sumber: Bloomberg
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
