Harga emas tetap dalam tekanan dan diperdagangkan di sekitar $2.568, memperpanjang tren penurunannya selama lima hari berturut-turut. Kenaikan dolar AS menjadi faktor utama yang membebani harga logam mulia ini. Suasana pasar yang negatif dan data ekonomi AS yang kuat, termasuk laporan Indeks Harga Produsen (PPI) dan klaim pengangguran yang menurun, menunjukkan bahwa tugas Federal Reserve (Fed) untuk mengendalikan inflasi masih jauh dari selesai, meskipun sudah ada pemotongan suku bunga sebesar 75 basis poin sejak September 2024.
Pernyataan Ketua Fed Jerome Powell dan pejabat lainnya menekankan pendekatan hati-hati dalam kebijakan moneter. Pejabat seperti Gubernur Adriana Kugler dan Presiden Fed Richmond Thomas Barkin mengingatkan bahwa inflasi tetap menjadi tantangan meski sudah ada kemajuan. Risiko seperti potensi kenaikan tarif dan kenaikan upah serikat pekerja dapat memicu tekanan inflasi lebih lanjut, sehingga mengurangi peluang bagi Fed untuk melanjutkan pelonggaran dalam waktu dekat.
Investor memperkirakan peluang sebesar 72% bahwa Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember mendatang, menurun dari estimasi 82% sehari sebelumnya, mencerminkan kekhawatiran atas inflasi yang bisa meningkat dengan kebijakan yang diusulkan oleh Presiden terpilih Donald Trump.
Pasar kini menantikan pernyataan dari Ketua Powell pada hari Kamis dan laporan Penjualan Ritel AS pada hari Jumat untuk lebih banyak petunjuk tentang arah kebijakan moneter.
Sumber: FXStreet
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
