Harga emas menunjukkan stabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi dan ketegangan geopolitik. Data ekonomi AS yang bergejolak dan penekanan pada arah kebijakan Federal Reserve menjadi sorotan, sementara kekhawatiran meningkat di Timur Tengah.
Penurunan harga produsen AS pada bulan Desember, yang sudah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut, membuat pasar memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan Maret sebesar 73%. Namun, laporan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pada bulan Desember membuka kemungkinan penundaan dalam langkah-langkah penurunan suku bunga. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian di kalangan investor, karena suku bunga yang lebih tinggi dapat berdampak negatif pada emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Tak hanya itu, serangan udara baru yang dipimpin AS di Yaman memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah. Logam mulia, khususnya emas, menerima dorongan dari permintaan sebagai aset safe haven setelah AS dan Inggris meluncurkan kampanye militer mereka. Kelompok Houthi telah merespons dengan ancaman balasan.
Meskipun harga emas bergerak mendatar di sekitar $2,048.08 per ons, pasar harus tetap waspada terhadap berita dan peristiwa mendatang yang dapat memberikan dampak signifikan pada harga emas. Kondisi ini menciptakan skenario yang menarik dan penuh tantangan untuk para pelaku pasar di minggu ini.
Sumber: Bloomberg & RFB News
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
