PT Rifan Financindo Berjangka – Harga emas menunjukkan stabilitas pada hari Rabu, setelah mengalami penurunan hampir 3% selama dua sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi karena investor mempertimbangkan prospek suku bunga, terutama setelah data pekerjaan AS menunjukkan perlambatan di pasar tenaga kerja.
Imbal hasil Treasury turun setelah laporan pada hari Selasa menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan di AS turun pada bulan Oktober ke level terendah sejak Maret 2021. Hal ini membantu mendukung pandangan pasar untuk pelonggaran moneter oleh Federal Reserve pada tahun depan.
Investor dengan cermat mengamati prospek inflasi, mengingat emas melonjak ke rekor tertingginya pada hari Senin sebelum turun secara cepat. Kekhawatiran muncul bahwa spekulasi penurunan suku bunga Fed secara agresif telah berlebihan. Suku bunga yang lebih rendah umumnya memberikan dampak positif bagi emas batangan, yang tidak menghasilkan bunga.
Pasar swaps saat ini memperkirakan lebih dari 60% peluang The Fed akan menurunkan biaya pinjaman pada bulan Maret. Investor akan terus memantau laporan payrolls bulan November pada akhir pekan ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai langkah-langkah yang akan diambil oleh bank sentral.
Vivek Dhar, seorang analis di Commonwealth Bank of Australia, memproyeksikan bahwa dolar akan menguat seiring berjalannya waktu, didasarkan pada perkiraan resesi ringan di AS yang dapat memberikan tekanan tambahan pada emas.
Pada pukul 9:18 pagi waktu Singapura, harga emas di pasar spot naik 0,1% menjadi $2,021 per ons, setelah mengalami penurunan lebih dari 2% dalam dua sesi sebelumnya. Indeks Bloomberg Dollar Spot menunjukkan kenaikan yang terbatas. Sementara itu, perak, platinum, dan paladium semuanya mengalami kenaikan. (Arl)
Sumber: Bloomberg & Rfbnews
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
