PT Rifan Financindo Berjangka – Pasar Asia-Pasifik kembali mengalami penurunan dalam perdagangan pada hari Rabu (4 Oktober 2023), dipicu oleh kekhawatiran atas kenaikan terus-menerus pada imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).
Pada pukul 08:30 WIB, indeks Nikkei 225 di Jepang turun sebesar 1,69%, Hang Seng di Hong Kong melemah sebesar 0,71%, dan indeks Straits Times di Singapura merosot sebesar 1,16%. Selain itu, ASX 200 di Australia mengalami koreksi sebesar 0,74%, dan KOSPI di Korea Selatan anjlok sebesar 2,22%.
Tren penurunan ini dalam pasar saham Asia-Pasifik bersamaan dengan penurunan pasar saham AS, khususnya di Wall Street selama sesi perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup turun sebesar 1,29%, S&P 500 mengalami penurunan sebesar 1,37%, dan Nasdaq Composite merosot sebesar 1,87%.
Kenaikan kembali imbal hasil obligasi pemerintah AS telah menjadi keprihatinan utama bagi pasar keuangan global, berkontribusi pada penurunan pasar saham global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun naik sebesar 19 basis poin (bp) mencapai 4,821%, hampir menyentuh level 5%, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 2007.
Kenaikan imbal hasil obligasi ini terkait dengan ekspektasi bahwa era suku bunga tinggi mungkin belum akan berakhir dalam waktu dekat, meningkatkan kecemasan pasar. Investor sekarang memprediksi bahwa suku bunga dapat tetap tinggi untuk jangka waktu yang lama, dan biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat berdampak negatif pada bisnis dan konsumen.
Menurut Raphael Bostic, Presiden Federal Reserve Atlanta, tidak ada urgensi yang mendesak bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga lagi. Namun, mungkin akan memakan waktu yang cukup lama sebelum pemangkasan suku bunga dianggap tepat.
Sebaliknya, Loretta Mester, Presiden Federal Reserve Cleveland, menyatakan keterbukaannya untuk menaikkan suku bunga lagi, kemungkinan pada pertemuan bank sentral berikutnya.
Sementara itu, harapan pasar terkait kebijakan ketat Federal Reserve semakin kuat. Alat FedWatch menunjukkan bahwa sekitar 30,9% partisipan pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada November mendatang, yang merupakan peningkatan signifikan dari perkiraan 14% pekan sebelumnya.
Di sisi lain, data yang tidak terduga menunjukkan peningkatan lowongan pekerjaan di AS selama bulan Agustus, menimbulkan kekhawatiran tentang ketatnya pasar tenaga kerja menjelang laporan pekerjaan bulanan yang penting yang dijadwalkan pada Jumat ini.
Jika data ketenagakerjaan di Amerika Serikat tetap kuat, Federal Reserve mungkin tidak segera beralih ke sikap dovish. Selain itu, jika inflasi AS dalam bulan-bulan mendatang tetap jauh dari target 2% yang ditetapkan oleh Federal Reserve, bank sentral kemungkinan akan mempertahankan sikap hawkish-nya.
Sebagai kesimpulan, pasar Asia-Pasifik kembali mengalami penurunan akibat kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, yang juga memengaruhi pasar saham global. Prospek suku bunga yang lebih tinggi dan kekhawatiran tentang kekuatan pasar tenaga kerja AS dan inflasi berkontribusi pada ketidakpastian dalam pasar keuangan di seluruh dunia.
Seperti biasa, penting bagi para investor untuk tetap waspada dan fleksibel dalam menghadapi dinamika pasar yang berubah ini. Perjalanan pasar kemungkinan akan terus dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga AS dan indikator ekonomi.
Sumber : www.cnbcindonesia.com
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
