China dikenal sebagai produsen kendaraan listrik (EV) terbesar di dunia dengan keunggulan biaya produksi yang sangat efisien. Namun kini, keunggulan tersebut justru mulai menjadi sumber kekhawatiran—bukan hanya bagi negara pesaing, tetapi juga bagi pemerintah Tiongkok sendiri.
🇨🇳 Pemerintah China Ikut Khawatir Perang Harga
Setelah bertahun-tahun mendorong produksi EV lewat insentif dan subsidi, pemerintah China mulai menunjukkan kekhawatiran. Pada 31 Mei, Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa “tidak ada pemenang dalam perang harga” dan bahwa kompetisi ekstrem ini mengancam masa depan industri. Produk murah dinilai bisa menghambat investasi R&D, menurunkan kualitas, dan bahkan membahayakan keselamatan.
💥 BYD Pangkas Harga Seagull, Tekan Pasar
Kekhawatiran ini mencuat setelah BYD memangkas harga 22 model kendaraan listrik dan hibrida secara besar-besaran pada Mei 2025. Model Seagull, mobil listrik termurah BYD, kini dijual hanya 55.800 yuan (±Rp130 juta)—turun signifikan dari harga awal peluncurannya dua tahun lalu yang sebesar 73.800 yuan.
Langkah agresif ini memicu gelombang diskon lanjutan dari kompetitor dan menjatuhkan harga rata-rata di pasar EV domestik.
📉 Saham BYD Turun, Pasar Bereaksi Negatif
Pasar saham langsung merespons negatif strategi pemangkasan harga ini. Saham BYD melemah, mencerminkan kekhawatiran bahwa persaingan harga yang brutal tidak berkelanjutan secara finansial. Tekanan terhadap margin keuntungan kini makin besar, terutama bagi perusahaan yang belum memiliki skala sebesar BYD.
🏭 Industri EV China Alami Kelebihan Kapasitas
China saat ini memiliki lebih dari 115 merek kendaraan listrik, menurut data Jato Dynamics. Sebagian besar dari mereka belum menghasilkan keuntungan dan bertahan dengan margin tipis. Kompetisi yang tidak sehat juga telah menciptakan kelebihan kapasitas, serupa dengan krisis properti yang melanda perusahaan seperti Evergrande.
🌍 Ekspansi Global Jadi Strategi Bertahan
Menghadapi penurunan margin domestik, produsen seperti BYD mulai mengalihkan strategi dengan menargetkan pasar luar negeri. Reuters melaporkan bahwa BYD berambisi mengekspor lebih dari 50% mobilnya ke Eropa dan Amerika Latin pada tahun 2030.
Langkah ini mulai menunjukkan hasil: pada April lalu, BYD menyalip Tesla dalam penjualan EV di Eropa, menurut Jato Dynamics. Namun, langkah ekspansi ini bisa memicu ketegangan perdagangan global, karena negara-negara barat khawatir akan banjir produk murah dari China.
📌 Dampak pada Strategi Investasi
Perang harga EV di China bisa berdampak signifikan terhadap strategi investasi di sektor otomotif global:
- Investor perlu mencermati margin laba perusahaan EV, terutama yang berbasis di China.
- Ketegangan dagang dapat menciptakan hambatan bagi ekspor dan memicu tarif baru.
- Perusahaan dengan skala besar dan integrasi vertikal seperti BYD lebih siap bertahan dalam jangka panjang.
Kesimpulan:
Harga EV yang makin murah mungkin menggembirakan konsumen, tetapi bagi pelaku industri dan investor, ini adalah sinyal disrupsi struktural. Persaingan tanpa kendali bisa mengganggu ekosistem bisnis, mendorong ekspor besar-besaran, dan memperkeruh hubungan dagang global. Waspadai efek domino terhadap emiten otomotif dan sektor pendukungnya.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
