PT Rifan Financindo Berjangka – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pekan lalu dengan nada positif, menembus level 7.214,16 setelah naik 0,66% pada Jumat (23/5/2025). Meski pasar lokal bergairah, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih di sejumlah saham unggulan. Ini jadi catatan penting bagi investor ritel dalam menyusun strategi investasi.
📈 IHSG Menguat Didukung Sentimen Domestik
Penguatan IHSG terjadi secara luas, dengan 280 saham menguat, 315 melemah, dan 211 stagnan. Nilai transaksi harian menyentuh Rp12,15 triliun, sementara kapitalisasi pasar naik ke Rp12.592,72 triliun.
Optimisme pasar didorong oleh:
- Ekspektasi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia
- Membaiknya defisit transaksi berjalan
- Langkah efisiensi BUMN melalui merger dan akuisisi oleh Danantara
🌍 Sentimen Global Masih Jadi Tekanan
Meskipun sentimen domestik positif, pasar masih menghadapi tekanan dari luar negeri. Lonjakan imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 30 tahun yang menembus 5%, menjadi salah satu pemicu kekhawatiran. Level ini merupakan yang tertinggi sejak Februari 2025, dan dapat memicu aliran dana keluar dari pasar negara berkembang.
🧾 Asing Net Buy, Tapi Juga Ramai-Ramai Lepas Saham Blue Chip
Investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp589,18 miliar di seluruh pasar. Namun, aksi jual tetap terjadi pada beberapa saham besar:
🔻 10 Saham dengan Net Foreign Sell Terbesar:
- PT Telkom Indonesia (TLKM) – Rp116,33 miliar
- PT Bank Mandiri (BMRI) – Rp113,09 miliar
- PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) – Rp60,79 miliar
- PT Alamtri Resources Indonesia (ADRO) – Rp59,15 miliar
- PT Amman Mineral Internasional (AMMN) – Rp21,08 miliar
- PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) – Rp17,17 miliar
- PT Timah (TINS) – Rp16,85 miliar
- PT Ace Hardware Indonesia (ACES) – Rp16,12 miliar
- PT Semen Indonesia (SMGR) – Rp15,61 miliar
- PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) – Rp15,33 miliar
📊 Apa Artinya untuk Investor?
- Kuatnya IHSG memberi peluang jangka pendek, namun aksi jual asing bisa jadi sinyal kehati-hatian terhadap potensi koreksi.
- Saham-saham yang dijual asing, terutama TLKM dan BMRI, tetap memiliki fundamental kuat, tetapi perlu diwaspadai potensi tekanan harga dalam waktu dekat.
- Volatilitas global seperti yield obligasi AS harus terus dipantau karena bisa memengaruhi arah aliran modal.
Investor cermat akan menganggap momentum ini sebagai waktu evaluasi ulang portofolio, bukan panik jual.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
