PT Rifan Financindo Berjangka – Pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 7% ke level Rp6.084—terendah sejak pandemi Covid-19. Salah satu faktor yang dikaitkan dengan pelemahan ini adalah kekhawatiran pasar terhadap kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Meski demikian, Prabowo tampak tak ambil pusing dengan peringatan tersebut dan menegaskan bahwa kesejahteraan rakyat tetap menjadi prioritasnya.
1. Prabowo Menanggapi Isu Penurunan Saham
Dalam sambutannya di Sidang Tanwir Muhammadiyah, Kupang, Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya sempat mendapat peringatan tentang kemungkinan penurunan harga saham akibat kebijakan MBG.
“Mereka mengancam saya, katanya nanti harga indeks saham akan turun. Tapi saya tidak khawatir. Rakyat di desa-desa tidak punya saham,” ujarnya.
Menurutnya, pasar saham bukan indikator utama kesejahteraan rakyat, sehingga ia tidak akan mundur dari kebijakan yang bertujuan meningkatkan gizi masyarakat miskin.
2. Morgan Stanley Turunkan Peringkat Pasar Saham Indonesia
Sebelumnya, pada pertengahan 2024, Morgan Stanley menurunkan peringkat pasar saham Indonesia menjadi “underweight”, yang berarti alokasi investasi ke Indonesia dalam portofolio mereka dikurangi.
Dalam catatan resminya, Morgan Stanley menyebut dua faktor utama yang menyebabkan penurunan peringkat ini:
- Pelemahan rupiah dan tekanan eksternal dari dolar AS yang menguat
- Beban fiskal besar akibat program kerja Prabowo, termasuk program makan siang gratis
Menurut mereka, beban fiskal yang meningkat bisa mengurangi prospek investasi di Indonesia dalam jangka panjang.
3. APBN Defisit dan Penerimaan Pajak Menurun
Di sisi lain, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia mencatat defisit Rp31,2 triliun (0,13% dari PDB) hingga akhir Februari 2025. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan penerimaan pajak sebesar 30% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut analis Mitra Andalan Sekuritas, pelemahan ekonomi domestik semakin terasa, terutama karena aktivitas bisnis yang melemah dan ketidakpastian regulasi.
Sebagai catatan, anggaran awal untuk program MBG mencapai Rp71 triliun, namun realisasi hingga Maret 2025 baru Rp710,5 miliar.
4. Pelemahan Daya Beli Masyarakat dan Dampaknya ke Pasar
Selain faktor fiskal, analis juga menyoroti pelemahan daya beli masyarakat sebagai penyebab tekanan pada IHSG.
- Deflasi tahunan pada Februari 2025 menjadi yang terparah dalam 25 tahun terakhir
- Impor barang konsumsi turun hingga 20,97% secara tahunan, menunjukkan lesunya permintaan di dalam negeri
- Mandiri Spending Index (MSI) juga turun, menandakan belanja masyarakat semakin melemah
Menurut Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), anomali ini mengindikasikan bahwa masyarakat semakin mengurangi konsumsi karena tekanan ekonomi.
5. Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian Pasar
Dengan kondisi pasar yang penuh gejolak, investor perlu menyesuaikan strategi mereka agar tetap bisa meraih keuntungan di tengah ketidakpastian. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan:
- Diversifikasi portofolio dengan mengalokasikan dana ke aset lain seperti emas atau obligasi
- Memantau kebijakan fiskal pemerintah dan dampaknya terhadap pasar saham
- Menjaga likuiditas portofolio agar dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar
Meskipun tantangan masih besar, kepastian terkait implementasi program MBG dan strategi fiskal pemerintah akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar modal Indonesia dalam waktu dekat.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
