Harga emas mencatat kenaikan signifikan pada Kamis (15/1), menembus level $2.700 per ons, didukung oleh penurunan dolar AS dan imbal hasil obligasi. Pada saat penulisan, XAU/USD diperdagangkan di $2.715, naik 0,72%, karena komentar dovish dari Gubernur Federal Reserve Christopher Waller serta rilis data ekonomi AS yang memberikan sinyal beragam.
Faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas
- Komentar Dovish dari Gubernur Fed Christopher Waller
- Waller mengindikasikan bahwa jika proses desinflasi terus berlanjut, Federal Reserve dapat mempercepat pelonggaran suku bunga.
- Pernyataan ini memicu ekspektasi pasar untuk kebijakan moneter yang lebih longgar, mendorong harga emas lebih tinggi.
- Data Ekonomi AS
- Penjualan Ritel Desember: Gagal memenuhi ekspektasi, namun revisi data November yang positif menunjukkan kekuatan belanja konsumen.
- Klaim Pengangguran: Meningkat untuk pertama kalinya sejak awal Desember, menambah kekhawatiran tentang ketahanan pasar tenaga kerja.
- Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi
- Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,14%, melemah di bawah 109,00, membuat emas lebih menarik bagi pembeli luar negeri.
- Imbal hasil obligasi AS juga melemah, meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Fokus Pasar Mendatang
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian mereka ke:
- Data perumahan AS, seperti Izin Bangunan dan Pembangunan Perumahan, untuk mengukur kesehatan sektor properti.
- Dampak kebijakan fiskal dan perdagangan di bawah pemerintahan Presiden terpilih Donald Trump, yang akan mulai menjabat dalam beberapa hari ke depan.
Ringkasan Logam Mulia
- Harga emas spot: $2.715 per ons (naik 0,72%)
- Indeks Dolar AS (DXY): 109,00 (turun 0,14%)
- Data lain: Perak dan platinum stabil, sementara paladium mencatat kenaikan moderat.
Kenaikan harga emas diperkirakan berlanjut, didukung oleh ketidakpastian kebijakan dan ekspektasi pelonggaran moneter lebih lanjut.
Sumber: FXStreet
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
