PT Rifan Financindo Berjangka – Dalam sembilan bulan pertama tahun 2024, pertumbuhan deposito nasional mencatatkan tren negatif. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa deposito rupiah dan valuta asing (valas) hanya tumbuh sebesar 4,6% secara year on year (yoy) pada September 2024, melambat dari 5,4% yoy di bulan sebelumnya. Tren ini mencerminkan pergeseran dana dari deposito ke instrumen lain yang dianggap lebih menguntungkan.
Simpanan Berjangka Individu Alami Penurunan Terbesar
Simpanan berjangka dari nasabah individu mengalami penurunan terbesar, dengan pertumbuhan negatif sebesar -2,7% yoy menjadi Rp1.442,7 triliun pada September 2024, lebih rendah dari -2,0% yoy pada bulan sebelumnya. Hal ini mencerminkan adanya pergeseran dana nasabah, terutama ke rekening giro dan instrumen lain yang dinilai lebih menguntungkan di tengah bunga deposito yang rendah.
Giro dan Kredit Menguat: Indikasi Ekonomi yang Dinamis
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, penurunan deposito bukan tanda lemahnya ekonomi, melainkan sinyal aktivitas bisnis yang lebih aktif. “Giro adalah instrumen yang sering digunakan untuk aktivitas bisnis, yang menunjukkan kegiatan ekonomi yang semakin aktif,” ujar Dian. Selain itu, peningkatan pada sektor kredit turut menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang stabil di sekitar 5%.
Giro Perorangan Turun Drastis, Giro Korporasi Tumbuh Positif
Data menunjukkan bahwa pertumbuhan giro perorangan turun lebih tajam dibanding deposito, yakni -31,0% yoy menjadi Rp160,1 triliun per September 2024, turun dari -23,1% yoy pada bulan sebelumnya. Namun, giro korporasi mengalami peningkatan positif sebesar 12,4% yoy menjadi Rp2.091,2 triliun, menunjukkan bahwa sektor bisnis tetap aktif dan terus memanfaatkan giro untuk mendukung operasional mereka.
Bank CIMB Niaga: Pergeseran Dana dari Deposito Individual ke Giro
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengonfirmasi bahwa penurunan deposito individual juga dirasakan di banknya. Lani menilai bahwa tren ini dipicu oleh nasabah kaya yang memilih menggeser dana mereka ke instrumen-instrumen yang menawarkan hasil lebih tinggi, sementara nasabah dengan tabungan lebih kecil cenderung tetap mempertahankan simpanan untuk kebutuhan sehari-hari.
BCA: Dana Nasabah Bergeser ke Surat Berharga yang Lebih Menarik
Tren serupa juga terjadi di Bank Central Asia (BCA), di mana Presiden Direktur Jahja Setiaatmadja menyatakan bahwa dana nasabah bergeser ke instrumen surat berharga, seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI), yang menawarkan tingkat bunga hingga 6%. Hal ini jauh lebih menarik dibandingkan bunga deposito yang hanya sekitar 3% hingga 3,25%, bahkan setelah negosiasi suku bunga khusus.
Pergeseran ke Instrumen Jangka Panjang: Nasabah Lock-in Dana di SBN
Instrumen surat berharga menawarkan keuntungan yang lebih besar meski memiliki periode penguncian lebih lama. Menurut Jahja, nasabah yang memiliki dana berlebih lebih tertarik untuk mengalokasikan dananya ke SBN yang memungkinkan pengembalian lebih tinggi dan stabil. Sebaliknya, banyak nasabah yang masih menempatkan dana di deposito perbankan hanya untuk jangka pendek, sekitar satu hingga tiga bulan, sehingga terjadi penurunan simpanan jangka panjang.
Pertumbuhan Investasi Surat Berharga Individu Menguat di Tengah Penurunan Deposito
Vera Eve Lim, Direktur Keuangan BCA, menambahkan bahwa penurunan deposito individu sebesar -2% yoy pada September 2024 disertai dengan pertumbuhan investasi individu pada surat berharga yang naik hingga 12,4% yoy. Hal ini menegaskan bahwa investor mulai beralih ke instrumen yang lebih menguntungkan dalam menghadapi situasi suku bunga rendah.
Kesimpulan: Pentingnya Memahami Perubahan Tren untuk Strategi Investasi yang Tepat
Penurunan pertumbuhan deposito dan peningkatan dana pada instrumen giro serta surat berharga menunjukkan bahwa pemahaman terhadap tren keuangan terkini sangat penting bagi investor. Menyusun strategi investasi dengan melihat kondisi pasar dapat membantu memaksimalkan pengembalian dan mengelola risiko dalam menghadapi perubahan ekonomi.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
