Harga Emas Dunia Tembus US$4.070, Kemenangan Demokrat Tekan Dolar AS dan Dorong Reli Bullion

Harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan signifikan dengan menembus level US$4.070 per troy ounce pada perdagangan Kamis, 5 November 2026. Reli logam mulia ini mendapatkan dorongan dari pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), penurunan imbal hasil obligasi Treasury, serta perubahan peta politik Washington setelah Partai Demokrat berhasil menguasai kedua kamar Kongres AS dalam pemilu sela 2026.

Emas spot tercatat naik 0,2% menjadi US$4.070,10 per troy ounce setelah melonjak sekitar 3,3% pada perdagangan sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi penguatan harian terbesar sejak Agustus sekaligus menandai keberhasilan emas kembali mempertahankan posisinya di atas level psikologis US$4.000.

Pergerakan ini memperlihatkan perubahan sentimen investor terhadap aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai arah kebijakan fiskal pemerintahan Presiden Donald Trump. Kemenangan Demokrat di Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) memunculkan ekspektasi terjadinya kebuntuan politik atau political gridlock yang berpotensi membatasi agenda ekonomi pemerintah.

Di pasar keuangan, perkembangan politik tersebut memicu tekanan terhadap dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah. Kombinasi kedua faktor ini memberikan ruang pemulihan bagi emas yang sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam akibat konflik AS-Iran, kenaikan harga energi, dan ekspektasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed).

Harga Emas Hari Ini Menguat Setelah Melonjak 3,3%

Penguatan harga emas pada Kamis memperpanjang momentum positif yang terbentuk sehari sebelumnya. Setelah sempat mengalami tekanan berkepanjangan, logam mulia kembali menarik minat pembeli ketika investor mulai mengalihkan perhatian dari aset berbasis dolar menuju instrumen lindung nilai. Berdasarkan perkembangan pasar pada 5 November 2026, emas spot diperdagangkan di sekitar US$4.070,10 per troy ounce, sedangkan kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember sebelumnya ditutup di sekitar US$4.061 per troy ounce. Kenaikan tajam pada perdagangan Rabu menunjukkan perubahan permintaan yang cukup kuat. Investor merespons pelemahan mata uang AS dan penurunan imbal hasil Treasury dengan meningkatkan eksposur terhadap logam mulia.

Secara fundamental, terdapat tiga faktor utama yang menopang pergerakan emas saat ini:

  1. Pelemahan dolar AS: Penurunan nilai dolar membuat emas yang dihargakan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi investor internasional.
  2. Penurunan imbal hasil Treasury: Berkurangnya imbal hasil obligasi meningkatkan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan bunga atau kupon.
  3. Ketidakpastian politik AS: Perubahan kekuatan politik di Kongres meningkatkan perhatian investor terhadap risiko kebijakan fiskal dan prospek ekonomi AS.

Ketiga faktor tersebut menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi pemulihan harga emas. Namun, keberlanjutan penguatan masih membutuhkan konfirmasi dari perkembangan ekonomi AS, khususnya data ketenagakerjaan dan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Kemenangan Demokrat dalam Pemilu Sela AS Mengubah Sentimen Pasar

Hasil pemilu sela AS 2026 menjadi salah satu katalis utama yang menggerakkan pasar keuangan global. Partai Demokrat berhasil mengambil kendali atas Senat dan DPR, sehingga mengubah keseimbangan kekuatan politik antara Kongres dan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Perubahan tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya perbedaan pandangan antara legislatif dan eksekutif dalam menentukan kebijakan ekonomi, perpajakan, belanja pemerintah, serta regulasi berbagai sektor industri. Bagi investor, situasi ini menciptakan ketidakpastian mengenai kemampuan pemerintah menjalankan agenda ekonominya secara efektif.

Salah satu perhatian utama pasar adalah kemungkinan tertahannya rencana pemotongan pajak dan peningkatan belanja pemerintah. Apabila berbagai kebijakan tersebut menghadapi hambatan di Kongres, ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi, kebutuhan pembiayaan pemerintah, dan penerbitan obligasi Treasury dapat mengalami perubahan.

Kondisi tersebut juga memengaruhi persepsi investor terhadap prospek fiskal AS. Pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa perubahan komposisi Kongres akan membatasi ekspansi kebijakan pemerintah, sekaligus meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan anggaran negara.

Dalam situasi seperti ini, emas berpotensi mendapatkan keuntungan dari meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Logam mulia memiliki karakteristik sebagai aset yang tidak bergantung langsung pada kemampuan pemerintah tertentu dalam memenuhi kewajiban finansialnya.

Meski demikian, kemenangan Demokrat tidak secara otomatis berarti defisit anggaran AS akan menurun. Dampak jangka panjang terhadap pasar obligasi dan emas tetap bergantung pada kebijakan yang benar-benar disahkan serta respons pemerintahan terhadap perubahan kekuatan politik tersebut.

Dolar AS Tertekan, Emas Mendapatkan Dorongan Baru

Pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor paling langsung yang mendorong kenaikan harga emas. Setelah hasil pemilu sela diumumkan, indeks dolar mengalami tekanan dan mencatat penurunan harian terbesar dalam sekitar dua bulan berdasarkan perkembangan pasar yang dilaporkan pada perdagangan Rabu.

Indeks dolar Bloomberg dilaporkan melemah sekitar 0,4%, sementara indeks dolar AS lainnya juga bergerak menuju level terendah dalam lebih dari satu bulan. Hubungan antara dolar AS dan emas memiliki peranan penting dalam menentukan arah perdagangan logam mulia.

Karena emas diperdagangkan menggunakan denominasi dolar AS, pelemahan mata uang tersebut biasanya membuat harga emas lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan euro, yen, pound sterling, maupun mata uang lainnya. Peningkatan daya beli tersebut dapat memperluas permintaan internasional terhadap emas dan memberikan dukungan terhadap harga.

Sebaliknya, apabila dolar kembali menguat, investor global harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli emas. Kondisi tersebut berpotensi membatasi permintaan dan memberikan tekanan terhadap harga logam mulia. Dalam perkembangan terbaru, tekanan terhadap dolar juga berkaitan dengan meningkatnya ekspektasi mengenai kebuntuan politik di Washington.

Investor mempertimbangkan bahwa perbedaan kepentingan antara Kongres dan pemerintahan Trump dapat memperlambat proses pengambilan keputusan ekonomi. Situasi tersebut membuat pasar melakukan penyesuaian terhadap aset-aset yang sensitif terhadap perkembangan kebijakan AS.

Oleh karena itu, arah indeks dolar masih menjadi indikator penting yang perlu kami perhatikan dalam menilai keberlanjutan reli emas.

Imbal Hasil Treasury Turun, Daya Tarik Emas Meningkat

Selain pelemahan dolar, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memberikan dukungan terhadap harga emas. Secara historis, emas memiliki hubungan yang berlawanan dengan imbal hasil obligasi riil. Ketika imbal hasil investasi berbunga menurun, biaya peluang untuk memegang emas juga berkurang. Emas tidak memberikan pendapatan berupa bunga seperti obligasi Treasury. Karena itu, ketika imbal hasil obligasi meningkat, investor cenderung memiliki insentif lebih besar untuk mengalokasikan dana ke instrumen yang menghasilkan pendapatan tetap.

Sebaliknya, ketika imbal hasil mengalami penurunan, daya tarik relatif emas dapat meningkat. Perubahan kekuatan politik di Kongres AS mendorong investor mengevaluasi kembali prospek belanja pemerintah, kebutuhan penerbitan utang, serta arah kebijakan fiskal dalam beberapa bulan mendatang. Penurunan imbal hasil Treasury menjadi salah satu respons pasar terhadap perubahan ekspektasi tersebut. Kondisi ini memberikan dukungan tambahan terhadap emas, terutama karena pelemahan dolar terjadi bersamaan dengan penurunan imbal hasil obligasi.

Namun, terdapat perbedaan penting antara imbal hasil nominal dan imbal hasil riil. Untuk memahami arah emas secara lebih mendalam, investor perlu memperhatikan imbal hasil Treasury setelah memperhitungkan ekspektasi inflasi. Apabila imbal hasil riil terus menurun, emas berpotensi mendapatkan dukungan fundamental yang lebih kuat. Sebaliknya, peningkatan imbal hasil riil dapat menjadi hambatan meskipun dolar masih mengalami tekanan.

Harga Minyak Turun, Kekhawatiran Inflasi Mulai Mereda

Faktor lain yang turut mendukung pemulihan emas adalah penurunan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent sempat turun di bawah US$100 per barel pada perdagangan Rabu, untuk pertama kalinya sejak awal Oktober 2026. Pergerakan tersebut terjadi setelah Presiden Donald Trump meredakan kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan serangan militer lanjutan terhadap Iran.

Perubahan sentimen geopolitik memberikan tekanan terhadap harga energi setelah sebelumnya konflik AS-Iran meningkatkan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak global. Penurunan harga minyak memiliki implikasi penting terhadap prospek inflasi. Harga energi merupakan salah satu komponen yang memengaruhi biaya produksi, transportasi, distribusi barang, dan pengeluaran rumah tangga. Ketika minyak mengalami penurunan, tekanan biaya energi berpotensi berkurang dan membantu meredakan inflasi secara bertahap.

Bagi pasar emas, perkembangan tersebut memiliki dua sisi.

  • Pertama, penurunan harga energi dapat mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi yang terlalu tinggi. Apabila tekanan inflasi mereda, The Fed memiliki ruang lebih besar untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter. Ekspektasi penurunan suku bunga dapat memberikan dukungan terhadap emas melalui penurunan biaya peluang kepemilikan logam mulia.
  • Kedua, meredanya ketegangan geopolitik dapat mengurangi kebutuhan investor untuk memegang aset safe haven. Jika risiko konflik semakin rendah, sebagian investor mungkin kembali meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko.

Dengan demikian, dampak penurunan harga minyak terhadap emas tidak selalu bersifat positif. Pengaruh akhirnya bergantung pada apakah pasar lebih memperhatikan prospek inflasi dan suku bunga atau berkurangnya permintaan terhadap aset perlindungan.

The Fed Masih Menjadi Penentu Arah Harga Emas

Meskipun emas mendapatkan dukungan dari pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil Treasury, kebijakan Federal Reserve tetap menjadi faktor fundamental yang paling penting untuk diperhatikan. Sebelumnya, kenaikan harga energi dan tekanan inflasi telah meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Bahkan, pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026. Reuters melaporkan bahwa probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember sempat berada di sekitar 83% berdasarkan harga pasar derivatif pada perdagangan Rabu.

Ekspektasi tersebut menjadi salah satu hambatan bagi emas. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah. Pada saat bersamaan, kenaikan suku bunga dapat memperkuat dolar apabila investor memperkirakan imbal hasil aset AS akan menjadi lebih menarik dibandingkan aset negara lain.

Namun, perkembangan ekonomi terbaru masih membuka ruang perubahan ekspektasi. Apabila inflasi menunjukkan perlambatan dan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum, tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat dapat berkurang.

Sebaliknya, apabila aktivitas ekonomi dan pertumbuhan tenaga kerja tetap kuat, bank sentral kemungkinan memiliki alasan lebih besar untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Karena itu, kenaikan harga emas saat ini belum dapat dianggap sebagai konfirmasi bahwa siklus pelonggaran moneter telah dimulai. Investor perlu membedakan antara penguatan emas akibat perubahan sentimen politik dan penguatan yang didukung perubahan fundamental kebijakan moneter.

Non-Farm Payrolls 6 November Menjadi Fokus Berikutnya

Setelah hasil pemilu sela AS menggerakkan pasar, perhatian investor kini beralih pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis Jumat, 6 November 2026. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kesehatan pasar tenaga kerja dan menentukan kemungkinan arah kebijakan The Fed.

NFP mengukur perubahan jumlah tenaga kerja di luar sektor pertanian, sehingga dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perekrutan dan aktivitas ekonomi AS. Bagi pasar emas, terdapat dua kemungkinan skenario utama.

Skenario pertama: NFP lebih lemah dari perkiraan.

Apabila pertumbuhan lapangan kerja melambat, investor dapat meningkatkan ekspektasi bahwa ekonomi AS mulai kehilangan momentum. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penurunan imbal hasil Treasury dan memperbesar peluang pelonggaran kebijakan moneter pada masa mendatang. Jika pelemahan dolar terjadi bersamaan dengan penurunan imbal hasil riil, emas berpeluang mempertahankan penguatannya dan menguji area resistance berikutnya.

Skenario kedua: NFP lebih kuat dari perkiraan.

Sebaliknya, pertumbuhan tenaga kerja yang tetap solid dapat memperkuat pandangan bahwa perekonomian AS masih cukup tangguh untuk menghadapi kebijakan moneter ketat. Investor berpotensi kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga bertahan tinggi atau bahkan meningkat. Apabila kondisi tersebut mendorong penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil Treasury, harga emas berisiko menghadapi tekanan jual.

Selain jumlah lapangan kerja baru, investor juga perlu memperhatikan tingkat pengangguran, pertumbuhan upah, dan revisi data bulan sebelumnya. Kombinasi indikator tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai tekanan pasar tenaga kerja.

Dengan demikian, laporan NFP berpotensi menjadi katalis utama yang menentukan apakah penguatan emas di atas US$4.000 dapat berlanjut atau justru mengalami koreksi.

Pemulihan Emas Masih Dibayangi Tekanan Jangka Panjang

Meskipun berhasil kembali menembus US$4.070, perjalanan pemulihan emas belum sepenuhnya bebas dari risiko. Harga logam mulia sebelumnya mengalami penurunan lebih dari 20% sejak konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari 2026, menurut laporan Newsmaker.id. Penurunan tersebut berkaitan dengan perubahan ekspektasi inflasi, lonjakan harga energi, serta meningkatnya kekhawatiran bahwa The Fed perlu mempertahankan atau memperketat kebijakan moneternya.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa emas tidak selalu bergerak naik ketika ketegangan geopolitik meningkat. Dalam situasi tertentu, konflik yang mendorong kenaikan harga energi justru dapat memperburuk prospek inflasi. Apabila investor memperkirakan bank sentral akan merespons dengan suku bunga lebih tinggi, tekanan dari sisi kebijakan moneter dapat mengimbangi permintaan safe haven.

Oleh sebab itu, pemulihan terbaru perlu dilihat sebagai hasil perubahan keseimbangan antara beberapa faktor utama. Di satu sisi, pelemahan dolar, penurunan imbal hasil obligasi, dan ketidakpastian politik memberikan dukungan terhadap emas. Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga, perkembangan inflasi, serta perubahan permintaan aset safe haven masih dapat memicu volatilitas.

Keberhasilan mempertahankan harga di atas US$4.000 menjadi perkembangan positif, tetapi pasar tetap membutuhkan katalis fundamental yang lebih konsisten untuk membangun tren kenaikan berikutnya.

Analisis Teknikal XAU/USD: Resistance US$4.074 Menjadi Ujian Berikutnya

Dari perspektif teknikal, kenaikan emas menuju US$4.070 menandai keberhasilan pembeli mengembalikan harga ke atas level psikologis US$4.000. Namun, penguatan tersebut masih menghadapi sejumlah area teknikal penting yang perlu diperhatikan.

Berdasarkan analisis pasar yang dipublikasikan pada 4 November 2026, area US$4.074 menjadi resistance terdekat yang perlu ditembus oleh XAU/USD. Level tersebut berdekatan dengan Simple Moving Average (SMA) 20 hari. Sementara itu, US$4.000 menjadi area psikologis penting yang perlu dipertahankan untuk menjaga momentum pemulihan.

Berikut beberapa level harga yang relevan untuk mengamati pergerakan emas:

Area hargaFungsi teknikalImplikasi pasar
US$4.200Target kenaikan berikutnyaPeluang penguatan lanjutan
US$4.074Resistance terdekatUjian momentum bullish
US$4.000Support psikologisPenentu keberlanjutan pemulihan
US$3.975Support berikutnyaArea pengujian tekanan jual
US$3.871Support lanjutanRisiko koreksi lebih dalam
US$3.797Support berikutnyaArea pertahanan pembeli

Level-level tersebut merupakan referensi teknikal berdasarkan analisis yang tersedia pada 4 November 2026, bukan jaminan harga akan bergerak menuju level tertentu.

Skenario Bullish: Emas Menembus US$4.074

Apabila harga emas mampu menembus resistance US$4.074 dan mempertahankan posisi di atasnya, momentum pembelian berpotensi semakin kuat. Penembusan tersebut dapat menjadi indikasi bahwa tekanan jual sebelumnya mulai berkurang dan pembeli kembali memiliki kendali terhadap pergerakan jangka pendek. Dalam skenario ini, area US$4.100 dapat menjadi perhatian pasar sebelum emas menguji target psikologis berikutnya di sekitar US$4.200. Namun, konfirmasi kenaikan tetap membutuhkan dukungan volume transaksi dan perkembangan fundamental yang sejalan, terutama pelemahan dolar serta penurunan imbal hasil Treasury.

Skenario Bearish: Emas Kembali Turun di Bawah US$4.000

Sebaliknya, kegagalan menembus US$4.074 dapat memicu aksi ambil untung setelah reli tajam pada perdagangan sebelumnya. Apabila tekanan jual meningkat dan harga kembali turun di bawah US$4.000, perhatian pasar berpotensi beralih ke area US$3.975. Penembusan support tersebut dapat memperbesar risiko koreksi menuju US$3.871 dan US$3.797. Skenario penurunan akan semakin kuat apabila laporan NFP menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja yang lebih tinggi dari perkiraan, sehingga memperkuat dolar dan meningkatkan imbal hasil Treasury. Dengan demikian, level US$4.000 dan US$4.074 menjadi dua area penting yang perlu diamati dalam menentukan arah perdagangan emas selanjutnya.

Faktor yang Perlu Dipantau Investor Emas

Untuk memahami potensi pergerakan XAU/USD dalam beberapa sesi mendatang, terdapat sejumlah indikator yang perlu menjadi perhatian.

Faktor fundamentalDampak positif terhadap emasDampak negatif terhadap emas
Indeks dolar ASDolar melemahDolar menguat
Imbal hasil TreasuryImbal hasil menurunImbal hasil meningkat
Kebijakan The FedEkspektasi pelonggaranEkspektasi kenaikan suku bunga
Data NFPPertumbuhan tenaga kerja melemahPertumbuhan tenaga kerja menguat
Harga minyakInflasi mereda tanpa penurunan tajam permintaan safe havenTekanan inflasi meningkat
GeopolitikKetidakpastian meningkatKetegangan mereda
Politik ASKetidakpastian fiskal meningkatKepastian kebijakan membaik

Perlu diperhatikan bahwa setiap faktor tidak selalu memberikan pengaruh yang sama terhadap emas. Respons pasar bergantung pada konteks ekonomi dan ekspektasi investor sebelum data atau peristiwa tersebut terjadi.

Sebagai contoh, data ekonomi yang kuat dapat menekan emas apabila meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Namun, apabila data yang sama dianggap mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang sehat tanpa meningkatkan tekanan inflasi, respons pasar dapat menjadi lebih kompleks.

Oleh karena itu, pengamatan terhadap hubungan antara dolar, imbal hasil obligasi, dan ekspektasi suku bunga tetap menjadi bagian penting dalam analisis emas.

Diagram Alur: Pengaruh Kemenangan Demokrat terhadap Harga Emas

Perubahan politik AS memengaruhi emas melalui beberapa jalur transmisi, mulai dari ekspektasi kebijakan fiskal hingga pergerakan dolar dan imbal hasil obligasi. Berikut diagram yang menggambarkan hubungan antara kemenangan Demokrat, perubahan sentimen pasar, dan potensi pergerakan XAU/USD.

Prospek Harga Emas: Apakah Reli Menuju US$4.200 Dapat Berlanjut?

Prospek harga emas dalam jangka pendek masih menunjukkan peluang pemulihan, terutama setelah logam mulia berhasil kembali ke atas US$4.000. Kemenangan Demokrat dalam pemilu sela AS memberikan katalis baru bagi pasar melalui pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil Treasury. Perubahan sentimen tersebut membantu emas keluar dari tekanan sebelumnya dan mendorong harga menuju US$4.070.

Namun, kami melihat bahwa keberlanjutan reli masih bergantung pada kemampuan emas mempertahankan momentum setelah kenaikan tajam. Dalam jangka pendek, laporan NFP pada 6 November akan menjadi perhatian utama. Data tenaga kerja yang lebih lemah berpotensi memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan memberikan ruang bagi emas untuk menguji resistance US$4.074.

Apabila level tersebut berhasil ditembus secara meyakinkan, area US$4.100 hingga US$4.200 dapat menjadi sasaran kenaikan berikutnya. Sebaliknya, data ketenagakerjaan yang lebih kuat dapat menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar dan imbal hasil obligasi sehingga membatasi kenaikan emas.

Kami juga perlu memperhatikan perkembangan politik AS setelah kemenangan Demokrat. Perbedaan pandangan antara Kongres dan pemerintahan Trump dapat memengaruhi arah kebijakan fiskal, regulasi, serta prospek pertumbuhan ekonomi dalam beberapa bulan mendatang.

Pada akhirnya, penguatan emas saat ini merupakan hasil kombinasi antara pelemahan dolar, penurunan imbal hasil Treasury, perubahan ekspektasi kebijakan moneter, dan meningkatnya ketidakpastian politik.

Selama faktor-faktor tersebut masih memberikan dukungan, peluang pemulihan emas tetap terbuka. Namun, kegagalan mempertahankan US$4.000 dapat menjadi sinyal bahwa pasar masih membutuhkan waktu untuk membangun fondasi kenaikan yang lebih kuat.

Kesimpulan

Harga emas dunia berhasil menembus US$4.070 pada Kamis, 5 November 2026, setelah kemenangan Demokrat dalam pemilu sela AS memberikan tekanan terhadap dolar dan imbal hasil obligasi Treasury.

Penguatan ini juga mendapatkan dukungan dari penurunan harga minyak yang berpotensi meredakan tekanan inflasi serta mengubah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Meskipun momentum pemulihan terlihat positif, investor masih perlu mewaspadai risiko koreksi akibat ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember dan kemungkinan data NFP yang lebih kuat.

Secara teknikal, US$4.074 menjadi resistance terdekat, sementara US$4.000 merupakan support psikologis penting. Penembusan resistance dapat membuka peluang menuju US$4.200, sedangkan penurunan di bawah support berpotensi membawa harga kembali menguji US$3.975.

Dengan demikian, arah dolar AS, imbal hasil Treasury, dan laporan ketenagakerjaan AS akan menjadi penentu utama keberlanjutan reli emas dalam perdagangan berikutnya.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.