PT Rifan Financindo Berjangka – Harga batu bara mengalami penurunan lagi setelah sehari sebelumnya sempat bergerak di zona hijau. Hal ini terjadi seiring dengan potensi penurunan permintaan batu bara termal di sejumlah negara Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Penurunan ini dipicu oleh komitmen ketat terhadap target net-zero emisi di wilayah tersebut serta kecenderungan menuju penggunaan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk pembangkit listrik.
Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa pada perdagangan Rabu (14/02/2024), harga batu bara ICE Newcastle kontrak Maret ditutup pada level US$ 123,4 per ton, mengalami penurunan sebesar 0,48%. Ini merupakan pelemahan setelah harga sempat menguat 0,4% pada perdagangan sebelumnya.
S&P Global Commodity Insights mencatat bahwa impor batu bara di Jepang, Korea, dan Taiwan mengalami peningkatan pada tahun 2022 namun turun tajam pada tahun 2023. Penurunan ini diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2024 seiring dengan upaya peningkatan penggunaan energi nuklir dan sumber energi terbarukan guna mencapai target net-zero.
Faktor utama di balik penurunan permintaan batu bara adalah meningkatnya peran energi nuklir dan energi terbarukan dalam memenuhi kebutuhan listrik. Contohnya, Jepang telah menghidupkan kembali reaktor nuklirnya dan akan menambah operasional reaktor lainnya. Korea Selatan juga menurunkan target energi terbarunya sambil mengurangi pembangkit listrik tenaga batu bara.
Selain itu, proyeksi bahwa gas alam cair (LNG) akan menggantikan batu bara sebagai driver utama ekonomi di China dan Asia lainnya juga mempengaruhi penurunan permintaan batu bara. Permintaan LNG diperkirakan akan terus meningkat sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi emisi karbon.
Meskipun impor batu bara thermal dari Asia pada Januari 2024 menurun karena lemahnya permintaan dari China dan India, impor dari Jepang dan Korea Selatan justru mengalami kenaikan. Ini menunjukkan adanya pergeseran menuju energi yang lebih bersih dan terbarukan di wilayah tersebut.
Dalam konteks pasar keuangan, pemahaman tentang dinamika harga batu bara dan tren energi dapat membantu dalam merancang strategi investasi yang lebih efektif, mengingat dampaknya yang luas terhadap sektor energi dan ekonomi secara keseluruhan.
Dengan melihat tren ini, harga batu bara kemungkinan akan terus mengalami tekanan, sementara permintaan terhadap LNG dan sumber energi terbarukan diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang.
Sumber: CNBC INDONESIA
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
