PT Rifan Financindo Berjangka – Meskipun inflasi di Indonesia melandai lebih baik dari perkiraan pada akhir tahun 2023, Rupiah terpantau mengalami pelemahan pasca-kontraksi manufaktur China dan penguatan indeks dolar AS (DXY). Sebagai hasilnya, mata uang Garuda pada akhir perdagangan kemarin, Selasa (2/1/2024), terdepresiasi sebesar 0,45% menjadi Rp15.465/US$. Apa yang melatarbelakangi pelemahan ini, dan bagaimana prospek Rupiah di masa mendatang?
Pengaruh Kontraksi Manufaktur China dan DXY Terhadap Rupiah
Pelemahan Rupiah pada perdagangan terakhir kemarin sejalan dengan data aktivitas manufaktur (PMI) China yang tercatat masih berada di zona kontraksi, tepatnya di level 49. Pada Minggu (31/12/2023), PMI manufaktur NBS China melaporkan penurunan berada di angka 49 untuk bulan Desember, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 49,4. Kontraksi ini tercermin dari aktivitas pabrik selama tiga bulan berturut-turut dan menjadi yang terkuat dalam enam bulan terakhir. Faktor-faktor seperti pelemahan properti, risiko deflasi, dan tantangan global menjadi pemicu kontraksi ini.
Aktivitas ekonomi yang melambat di China berpotensi memberikan dampak negatif bagi ekspor-impor Indonesia terhadap China maupun secara keseluruhan. Rupiah juga menghadapi tekanan selama tahun 2023, dengan rata-rata mencapai Rp15.255/US$, di atas asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp14.800/US$. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa kebijakan ketat suku bunga bank sentral AS (The Fed), yang telah menaikkan suku bunga empat kali hingga total 100 basis poin, mendorong kuatnya DXY. Hal ini mengarah pada kecenderungan investor untuk berinvestasi di AS, meninggalkan pasar negara berkembang seperti Indonesia, atau dengan kata lain, terjadi capital outflow dari Indonesia.
Inflasi Melandai dan Pertumbuhan Ekonomi
Di tengah pelemahan Rupiah, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan penurunan laju inflasi Indonesia pada 2023. Inflasi sepanjang tahun tersebut sebesar 2,61% yoy, mencapai tingkat terendah dalam dua dekade terakhir. Meskipun angka ini menunjukkan perlambatan inflasi, BPS mengidentifikasi bahwa penurunan ini dipicu oleh tren melemahnya inflasi inti. Komponen inti tahunan mengalami inflasi sebesar 1,80% yoy, dengan kontribusi 1,1% yoy.
Dari dalam negeri, sentimen terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia juga memainkan peran dalam pergerakan mata uang. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,05% pada 2023, di bawah target APBN sebesar 5,3%. Melesetnya target pertumbuhan ini menjadi tren negatif selama sembilan tahun pemerintahan era Joko Widodo (Jokowi), di mana hanya pada tahun 2022 target pertumbuhan berhasil terpenuhi, sekalipun dengan catatan basis pertumbuhan yang sangat rendah pada tahun 2021.
Analisis Teknikal dan Proyeksi Rupiah
Secara teknikal, dalam basis waktu per jam, Rupiah bergerak dalam tren sideways setelah mengalami pelemahan kemarin. Level resistance potensial berada di Rp15.480/US$, didasarkan pada garis rata-rata selama 200 jam atau moving average 200 (MA200). Namun, pembalikan arah menguat bisa mencermati level support terdekat di Rp15.390, yang diperoleh dari garis horizontal berdasarkan low candle pada 29 Desember 2023.
Dengan dinamika ini, mata uang Rupiah tetap menjadi fokus para pelaku pasar, dan pergerakannya akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal, termasuk kebijakan The Fed, situasi ekonomi global, dan perkembangan dalam negeri.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
