PT Rifan Financindo Berjangka – Pada perdagangan sesi I Jumat (6/9/2024), saham-saham emiten minyak kelapa sawit (CPO) mayoritas mengalami penguatan signifikan, dipicu oleh kenaikan harga CPO global. Hingga pukul 10:43 WIB, delapan saham CPO terpantau melesat, dengan tujuh di antaranya mengalami kenaikan lebih dari 1%, bahkan ada yang melonjak lebih dari 9%. Kenaikan harga minyak kedelai sebagai substitusi CPO turut menopang kenaikan ini.
Saham BWPT Melonjak Paling Tinggi
PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menjadi sorotan utama pada sesi perdagangan ini, dengan kenaikan saham yang mencapai 9,09% ke harga Rp 60 per saham. Sementara itu, PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR) menjadi yang paling minor dalam penguatannya, hanya naik 0,83% ke Rp 121 per saham. Tren positif ini menunjukkan peningkatan minat investor terhadap emiten minyak sawit.
Berikut ini adalah beberapa pergerakan saham emiten minyak sawit yang signifikan di sesi I hari ini:
- BWPT: +9,09% (Rp 60/saham)
- MKTR: +0,83% (Rp 121/saham)
Harga CPO Global Naik, Apa Penyebabnya?
Penguatan saham-saham CPO tidak terlepas dari kenaikan harga minyak kelapa sawit di pasar global. Berdasarkan data Refinitiv, harga CPO untuk kontrak November 2024 naik 0,8% pada Kamis kemarin, mencapai RM 3.917 per ton. Kenaikan ini didorong oleh penguatan harga minyak kedelai, yang merupakan salah satu substitusi utama CPO.
David NG, seorang trader minyak sawit, menyatakan bahwa harga CPO mengalami rebound berkat kinerja pasar minyak kedelai yang kuat selama jam perdagangan Asia.
“Kami melihat support di 3.880 per ton Ringgit Malaysia dan resistance di 4.000 Ringgit Malaysia,” ujar David.
Namun, pada pagi hari ini, harga CPO sedikit terkoreksi dengan penurunan 0,66% menjadi RM 3.891 per ton. Meskipun demikian, tren harga CPO yang positif masih diperkirakan akan bertahan dalam jangka pendek.
Analisis Kinerja Pasar CPO
Sathia Varqa, analis senior di Fastmarkets Palm Oil Analytics, menjelaskan bahwa harga CPO berhasil bangkit setelah mengalami kerugian selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan ini terjadi meski harga minyak nabati terkait di Dalian Commodity Exchange dan Zhengzhou Commodity Exchange mencatat penurunan.
Sathia juga menambahkan bahwa harga CPO kemungkinan besar akan terkonsolidasi menjelang rilis estimasi produksi dari Asosiasi Minyak Sawit Malaysia (MPOA) dan data resmi dari Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB). Data-data ini akan menjadi acuan penting bagi para pelaku pasar untuk menentukan strategi investasi selanjutnya di sektor CPO.
Proyeksi Produksi CPO Tahun Ini
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) memperkirakan bahwa produksi CPO Indonesia pada tahun 2024 akan stagnan atau bahkan mengalami penurunan hingga 5% dibandingkan tahun lalu. Pada 2023, Indonesia memproduksi 54,84 juta ton CPO, setelah tiga tahun mengalami penurunan produksi. Gapki memperkirakan produksi tahun ini hanya akan mencapai sekitar 52 hingga 53 juta ton.
Amerika Serikat juga memprediksi bahwa cadangan CPO global akan mencapai level terendah dalam tiga tahun terakhir. Hal ini dipengaruhi oleh menurunnya produksi di Malaysia akibat penuaan pohon sawit dan kekurangan tenaga kerja.
Faktor Cuaca dan Dampaknya terhadap Harga CPO
Selain masalah produksi, kondisi cuaca juga memengaruhi pasokan CPO. Sekitar sepertiga wilayah penghasil kelapa sawit utama di Indonesia mengalami curah hujan yang lebih rendah dari biasanya pada Juli, termasuk Sumatra dan sebagian Kalimantan. Cuaca yang tidak mendukung ini berpotensi mengganggu pasokan CPO dari Indonesia, yang merupakan produsen CPO terbesar di dunia.
Saat pasokan dari produsen terbesar menurun, harga di pasar global akan sangat terpengaruh. Hal ini membuka peluang bagi investor untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga CPO.
Dampak pada Strategi Investasi
Bagi investor, memahami kondisi terkini di pasar keuangan, khususnya sektor komoditas seperti CPO, sangat penting untuk merumuskan strategi investasi yang tepat. Kenaikan harga CPO global, meski didorong oleh faktor eksternal seperti harga minyak kedelai, tetap memberikan peluang untuk meraih keuntungan. Namun, investor harus tetap waspada terhadap potensi risiko dari cuaca dan penurunan produksi yang dapat memengaruhi kinerja emiten CPO di masa mendatang.
Diversifikasi portofolio dan pemantauan terus-menerus terhadap pergerakan harga komoditas global menjadi langkah bijak untuk menjaga stabilitas investasi.
Sumber: CNBC Indonesia
PT Rifan Financindo Berjangka – Kvn
